
Ana mengawasi kolam dan taman rekreasi di balik tembok rumah sakit. Tak ada seorangpun di sana. Dia bersiap untuk melompat.
Hup!
Ana melompat dari dahan pohon. Dia berjumpalitan satu kali di udara sebelum mendarat di air kolam.
Byuurrrr!
Suara air yang tertimpa tubuh terdengar keras. Air bercipratan kemana-mana. Tapi Ana tak bisa tetap tinggal diam. Dia harus cepat kabur dari situ sebelum diketahui oleh penjaga.
Ana berlari dengan baju basah.
"Sial! Aku tidak bawa baju ganti," katanya.
Ana terus berlari menjauh dari tempat itu. Dia harus segera pergi dari sana. Ana dapat mendengar derap langkah kaki orang berlari menuju taman dan kolam itu.
Ana melihat air menetes dari pakaiannya. Dia tak punya pilihan lain. Dilepasnya jaket kulit yang dirasanya makin berat. Juga celana panjang kulit yang dia kenakan. Kini dia hanya mengenakan tank top dan celana short sepaha.
Diremasnya rambut yang tergerai agar airnya berkurang. Lalu diikat asal. Diambilnya pistol berperedam dari balik jaket kulit. Pistol itu diselipkan di punggung dan ditutupinya dengan tank top.
Beberapa alat lain diambilnya juga dari saku jaket dan celana Dia tak ingin meninggalkan barang berharga apapun di tempat itu. Ana mengenakan sarung tangan kulit warna hitam di tangan kiri dan kanannya.
Jaket dan celana itu digulungnya, dan dilemparkan ke arah lain. Dia sudah siap untuk mencari keberadaan Maya.
Ana mundur 3 langkah dan membuat pijakan untuk melompat ke lantai 2 rumah sakit
Sssuuuhhh....
Tubuhnya menghilang bersamaan dengan datangnya para penjaga. Mereka hanya melihat air kolam yang beriak. Orang-orang itu menyebar dan memeriksa. Tapi Ana sudah menyelinap masuk melalui pintu lantai atas.
Ana gesit menyelinap ke sebuah ruang dengan label janitor/staf saat mendengar langkah kaki di lorong. Tak ada siapapun di dalam situ. Hanya ada satu meja dengan 2 bangku plastik.
__ADS_1
Rak besar memenuhi satu bagian dinding. Isinya berbagai peralatan dan produk kebersihan. Ada 3 ember pel dijejer di sudut.
Di bagian dinding lain ada locker bertingkat. Mungkin untuk menyimpan barang" pribadi pekerja.
Terdengar suara bercakap-cakap di depan pintu. Lalu kunci pintu ditekan dari luar.
Krieettt....
Pintu dibuka.
Seorang pria masuk. Dan langsung menutup pintu.
Orang itu berjalan menuju loker. Membuka kunci loker dan meletakkan sebuah ransel kecil.
Dia terkejut ketika tiba-tiba Ana berdiri di di depannya dan langsung memukul tengkuknya dengan sangat keras. Pria itu langsung pingsan dan tergeletak di lantai.
Ana memeriksa isi loker. Tak ada baju lain di situ. Jadi dia tidak punya pilihan selain meminjam pakaian si security
Ana membuka pintu. Lalu mengintip keluar. Dia melihat keadaan di lorong itu sepi. Ana keluar secepatnya dan menutup pintu kembali. Dia berjalan tenang menyusuri lorong sebagaimana tugas seorang security.
Ana menyusuri seluruh lorong di lantai 2. Tapi tidak ada kamar rawat yang dapat dicurigai sebagai tempat Maya dirawat. Jadi dia putuskan untuk naik ke lantai 3.
Ana menunggu lift untuk menuju lantai 3. Dia baru masuk saat 2 orang perawat berlari dan memintanya menahan pintu lift.
"Tunggu!"
Ana menahan lift tetap terbuka. Lalu kedua perawat masuk dan membawa meja dorong yang penuh peralatan. Mereka memencet nomer lantai yang mereka tuju. Ada yang memilih lantai 5, ada juga yang lantai 7.
Ana berdiri di belakang mereka berdua. Tak lama, salah seorang dari mereka bicara.
"Kau tahu... pasien wanita yang dibawa kemarin malam? Kasihan sekali. Para penjaga itu melarang dokter memeriksa lukanya. Kami hanya disuruh membersihkan luka dan membalutnya. Tanpa memberi obat ataupun transfusi darah!" ujarnya kesal.
__ADS_1
Ana mendengarkan dengan seksama.
'Mungkinkah itu Maya?' pikirnya.
"Yah, aku merasa dia bisa mati. Dia begitu pucat saat masuk," kata perawat yang satu lagi.
"Kalau memang mau dibiarkan mati, kenapa harus dibawa ke rumah sakit? Menjengkelkan sekali!" kata yang satu kesal.
"Yah, tapi kau harus berhati-hati. Jangan tunjukkan emosimu." saran temannya.
Ting!
Lift berhenti di lantai 5. Pintu terbuka.
"Aku sampai...." perawat itu berekspresi ceria.
"Ingat, kau harus hati-hati saat bertugas. Jangan campuri urusan orang lain!"
"Oke. Sampai jumpa besok pagi!" sahut temannya tersenyum.
Lift kembali menutup dan berjalan naik.
Ana maju dan memencet tombol 6.
Tak lama kemudian pintu lift lantai 6 terbuka. Ana keluar. Di depan sana ada counter tempat para perawat jaga. Hanya ada seorang yang duduk di kursinya dan sudah mendengkur halus.
Ana melirik jam tangannya. Sudah lewat tengah malam. Tak heran mereka tertidur sebentar untuk bangun lagi menjelang dini hari.
Ana berjalan menyusuri lorong menuju tangga darurat. Dia akan naik ke lantai 7 lewat tangga jika mungkin. Karena jika Maya ada di lantai itu, maka para penjaga itu pasti akan mengawasi semua pintu masuk.
******
__ADS_1