
Ammo berjalan menuju ruang pribadinya. "Bereskan!"
"Ya, Tuan!" jawab dua petugas itu. Yang satu melakukan pemanggilan untuk membereskan semua kekacauan.
"Sawyer, bersiap!"
"Siap!"
Ammo melepas pakai khusus anti senjata itu dan melemparnya ke atas bangku kayu. Kakinya melangkah ke bawah shower dan menyalakan keran. Dengan sabun, Ammo membersihkan darah Jake yang menyiprati tangan dan wajahnya.
Setengah jam kemudian, Ammo keluar dari ruangan pribadinya. Di luar, dua orang petugas masih berdiri menunggu perintah. Mayat Jake sudah disingkirkan. Namun karpet ruangan sudah ternoda darah. Ammo memandang jijik.
"Telusuri dan periksa semua file yang ada di komputer pribadi dan kantornya. Tak seorangpun boleh menerobos masuk ke situ tanpa ijinku. Beri laporannya besok pagi!" ujar Ammo.
"Baik, Tuan!" jawab petugas yang memegang peralatan.
"Seluruh lantai ini perlu didekorasi ulang! Screening ulang semua lantai!"
"Baik, Tuan!" jawab petugas satu lagi.
Ammo keluar ruangan dan menuju lift pribadinya. Ada seorang penjaga yang sudah mensterilkan jalan keluar masuk Ammo.
*
*
"Pulang!" perintah Ammo.
"Siap!" sahut Sawyer.
Helikopter itu naik membubung ke angkasa. Setelah kejadian serius peledakan kastil, Sawyer mengganti helikopternya yang biasa dengan yang memiliki fitur komplit. Itu demi keamanan Bos dan dirinya sendiri.
Begitu helikopter mendarat, Theo telah berlari tergopoh-gopoh.
__ADS_1
"Tuan!" serunya khawatir.
"Aku baik-baik saja," jawab Ammo.
Dia turun dan melangkah ke teras kediaman. Theo mengikuti dari belakang.
'Bukan itu maksudku, Tuan," Theo menggeleng.
"Oh ... aku kecewa Theo. Kukira kau mengkhawatirkan aku," goda Ammo.
"Tentu saja saya mengkhawatirkan anda, Tuan. Tapi ada berita penting lain," ujar Theo.
"Oh, apa itu tentang Paman Jake?" tanya Ammo heran. Bagaimana berita setengah jam yang lalu telah sampai di tangan Theo?
"Tuan Jake? Bukan, Tuan. Tapi ... ada apa dengan Jake?" tanya Theo bingung.
"Hahahaha ... ku kira kau mengetahuinya dan mau melapor padaku." Ammo merasa geli sendiri dengan dugaannya yang tak berdasar tadi.
"Dia mati!" jawab Ammo sambil berjalan menaiki tangga besar di ruang tengah.
"Mati?" kapan? Bagaimana mereka bisa mati bersamaan? apa ini kebetulan?" Theo berbicara sendiri.
"Mereka? Siapa lagi yang mati selain Jake?' Ammo berbalik, menatap ke bawah dan menunggu jawaban Theo yang masih berada di anak tangga bawah.
"Tuan Brooks. Ditemukan tewas tertembak oleh pejalan kali, di Milltown, pinggiran kota Belfast," lapor Theo.
Ammo diam sebentar. Apakah kematian Brooks ada hubungannya dengan pembatalan kerjasama pembangunan hotel?
"Heh! Siapa yang ingin mencurangiku, mereka akan menerima akibatnya sendiri." Ammo berkomentar dengan nada dingin.
Hatinya serasa diguyur air es. Satu persatu orang terdekat dengan keluarganya ternyata berkhianat. Bagus sekali dia membatalkan kerjasama itu. Dan tidak akan pernah lagi mempertimbangkan tawaran Tuan Alistair di masa depan.
Ammo berbalik dan kembali menaiki tangga. Theo setengah berlari menyusulnya ke atas.
__ADS_1
"Tuan, tadi polisi bertanya, apa yang akan kita lakukan terkait hal itu. Bagaimana pun, Tuan Brooks masih kerabat Oswald," jelas Theo.
"Dia mengkhianatiku, bersiasat melawanku. Jadi aku tak punya tanggapan apapun tentang kematiannya. Lagi pula dia jauh di negri lain. Tak ada yang bisa mengaitkannya dengan kita.
"Baik, Tuan. Tapi bagaimana dengan mayatnya?" desak Theo.
"Tidak tau. Dia sudah lama disingkirkan dari keluarga Oswald. Jika tak ada siapapun yang mau mengurus, polisi bisa mengkremasi dan membuang abunya ke laut!"
Ammo terus berjalan dan bersikap tak peduli. Dia masuk kamar dan langsung menutup pintu di depan Theo.
Theo berbalik. Dia sudah mendapatkan perintah. Jadi itulah yang akan dilakukannya. Baru juga menuruni dua anak tangga, Theo ingat sesuatu. Jadi dia berbalik ke kamar Ammo.
"Tuan, ada seekor kucing gendut dikirim ke sini!" ujar Theo.
"Urus yang baik!" jawab Ammo dari dalam.
"Baik! Tuan ingin disiapkan makan makan?" tanya Theo lagi.
"Ya. buatkan aku makanan lezat dan hangat. Sesuatu yang belum pernah ku makan, mungkin?" jawab Ammo.
"Baik, Tuan."
Theo berjalan pergi dan meninggalkan tuannya beristirahat sejenak.
Tapi, di dalam kamar, Ammo bukannya beristirahat. Dia masih sibuk melihat berita terkini, termasuk pembunuhan di Milltown, pinggiran kota Belfast.
Satu persatu para pengkhianat itu berakhir. Tapi Ammo yakin, ada aktor utama dibalik semua kejadian yang menimpanya dan Anna.
"Apakah ada kerjasama tersembunyi antara para tetua keluarga Oswald dengan Biro Klandestin?" batin Ammo.
Dia harus bisa menyibak semua misteri ini. Dan kunci utamanya adalah Ana. Ingatan Ana yang mereka hapus, adalah kunci semua kekacauan yang terjadi.
*******
__ADS_1