
Setelah membersihkan diri dan memakai lagi penyamarannya, Ana melebarkan sofa dan berbaring di sana. Televisi menyalakan berita terbaru dan mengejutkan. Penyerangan kantor polisi oleh orang tak dikenal.
Ana tak lagi mendengar komentar di tivi. Dia sudah terbang ke alam mimpi karena kelelahan.
*
*
Getaran ponsel di atas meja, membangunkan Ana. Dia melihat nomor Ammo. Kemudian mengangkat telepon.
"Ya, ada apa pagi-pagi mengangguku!" omelnya setengah mengantuk.
"Pagi apa? Ini sudah hampir pukul sepuluh!" teriak Ammo. Apa yang kau lakukan tadi malam?" kejarnya.
Ana menyalakan panggilan video. "Memangnya apa lagi yang kulakukan tadi malam?" tanyanya malas.
"Lihat tidak, aku tidur di depan tivi. Apa kau sudah baca berita yang kukirim? Aku minta bantuanmu. Tapi satu persatu orang-orangku hilang dan tewas. Lalu apa yang bisa kulakukan? Aku memberimu data, tapi tak kau gunakan!" teriaknya marah
Ammo terdiam. Ada perasaan bersalah dalam hatinya, karena tak cukup usaha dan kurang cepat bergerak.
"Aku mau mengatakan, bahwa Maya sudah ditemukan. Beri aku waktu untuk menemukan yang lainnya. Maafkan aku soal Gerry," ujar Ammo tulus.
"Apa? Kau menemukan Maya? Di mana? Bisakah aku menemuinya?" tanya Ana senang.
"Nanti kuceritakan saat kembali. Dia sedang dalam perawatan. Semoga segera pulih, agar kau bisa menemuinya lagi," bujuk Ammo.
"Ahh, baiklah. Aku akan menunggu hingga dia sehat," ujar Ana gembira.
Lalu terdengar panggilan dari arah pagar rumah. Ana berdiri, menuju layar monitor. Terlihat dua polisi berdiri di depan kamera cctv.
"Ya, ada apa lagi pak polisi?" Nada suara Ana tak bersahabat.
"Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan, Nyonya," jawab polisi yang satu.
"Kemarin salah satu petugas sudah menanyaiku. Tanyakan saja padanya," tolak Ana.
"Ana, hati-hati. Kurasa itu bukan polisi!" Ammo memperingatkan dengan suara khawatir.
"Kami bisa memaksa masuk, Nyonya!" seru orang itu ngotot.
"Dimana surat tugas kalian? Aku tak mempercayai kalian!" balas Ana.
Ana langsung mematikan interkom dari cctv. Dia hanya melihat dua orang itu berdiskusi. Ana mengambil foto keduanya melalui cvtv yang menyala.
Ana melakukan panggilan telepon ke kantor polisi untuk mengkonvirmasi tentang dua petugas di depan pagar. Ana juga mengirimkan foto mereka pada ponsel petugas bersangkutan.
__ADS_1
"Jangan bukakan pintu, Nyonya. Kami akan mengirim petugas patroli ke tempat Anda," pesan petugas itu.
"Bukankah kemarin malam masih ada mobil petugas yang menjaga TKP di sebelah? Kemana mereka?" tanya Ana.
"Harusnya sedang ada pergantian penjaga, Nyonya. Tapi dua orang itu bukan polisi dari sektor kami. Jadi jangan bukakan pintu," jelasnya
"Cepatlah! Mereka mulai memanjat pagar!" teriak Ana panik.
"Ya, Anda tetap berada di rumah kunci semua pintu dan jendela. Berlindunglah di tempat yang lebih rendah untuk menghindari jangkauan tembakan!" saran petugas itu.
"Mereka masuk halaman! Saya harus melawannya!" ujar Ana dengan wajah panik.
"No! Jangan—"
Telepon itu langsung terputus. Ana tersenyum. "Ahh ... kurasa aku bisa mulai mencoba main drama setelah ini usai. Atau bermain piano dalam orkestra," senyumnya bahagia.
Diliriknya layar monitor. Dua polisi gadungan itu tak kelihatan. "Dimana mereka? Kalian mau main-main denganku?" Sebuah senyuman jahat kembali muncul di wajahnya.
Ana duduk dengan serius di depan komputer. Semua layar cctv muncul di sana. Sungguh tak ada tempat di kediamannya yang lolos dari pantauan.
"Ahh, di sini kau rupanya!" ujar Ana senang.
Terlihat salah satu dari mereka telah sampai di teras.. Sementara yang lain mengendap-endap di bagian belakang rumah. Ana memencet tombol di keyboard. Tak diduga, batu paving yang menutupi jalan setapak di sekeliling rumah ternyata adalah perangkap menuju kematian.
Ana terkekeh melihat orang itu kebingungan untuk mencoba membuka pintu dan jendela. Kemudian Ana mendengar suara sirine mobil polisi mendekat. Pria itu berusaha kabur. Tetapi tentu tak semudah itu untuk kabur. Sebuah jaring, jatuh dari plafon teras. Menjeratnya dengan rapat dan tak bisa melepaskan diri.
"Siapa kau!" bentaknya sambil menusukkan ujung tongkatnya ke paha orang itu, hingga dia menjerit kesakitan.
Mobil polisi tiba di depan pagar dan segera memanggilnya. "Nyonya, tolong bukakan pintu pagarnya!" teriak polisi itu mengacungkan lencananya.
"Sebentar, aku bukakan pintunya!" sahut Ana. Gadis itu masuk ke dalam dan melihat ke layar cctv depan pagar.
"Bagaimana aku tahu kalian bukan yang palsu juga?" selidik Ana.
"Anda mengirimkan foto ini ke ponsel saya!" Polisi itu menunjukkan foto dua pria di ponselnya.
"Oh, baiklah." Ana membuka kunci pagar, kemudia memencet tombol lain. Orang di belakang kembali berada di tempatnya.
Ana menyimpan laptop itu di atas rak pantry. Kemudian dia keluar dan menunggu polisi di pintu rumah.
"Nyonya, kami mendapat laporan dua penyusup masuk ke properti Anda," ujar polisi yang satu. Sementara yang satu lagi langsung memborgol tangan orang itu.
"Bagaimana dia bisa terjerat? tanya polisi lagi.
"Dengan memasang jebakan di plafon." Tunjuk Ana ke arah atas.
__ADS_1
Polisi itu tak menyangka masih ada yang memadang jebakan seperti itu di pemukiman.
"Di mana yang seorang lagi?" tanya polisi lagi.
"Tadi aku mendengar jeritan dari arah belakang rumah. Terdengar mengerikan, jadi aku tak berani melihat ke sana," jelas Ana.
"Baik, biar kulihat." Polisi yang satu lagi berjalan menuju belakang rumah. Kemudian terdengar teriakan nyaring.
"Aku menemukannya!" teriaknya nyaring. "Tapi dia pingsan dan terlihat menyedihkan!" tambahnya lagi.
Polisi itu kembali dengan tergesa. "Nyonya, apakah kau punya perlengkapan memanen madu?" tanyanya.
"Tidak!' jawab Ana.
"Kenapa?" tanya temannya bingung.
"Seoertinya orang itu telah menghancurkan sebuah sarang madu. Dia pingsan setelah mendapat serangan lebah madu," jawabnya.
"Astaga! Apakah itu termasuk jebakan juga?" tanya polisi yang lain pada Ana.
"Aku tak tau. Kukira hanya ada jebakan tali di teras ini saja. Tapi, mungkin saja pemilik rumah ini memang memasang jebakan lebah madu untuk mengantisipasi orang jahat menyelinap masuk kamar!" Ana mengangkat bahunya tak acuh.
"Telepon ambulan!" suruh polisi itu pada rekannya.
Merasa akan semakin lama, Ana berjalan ke arah belakang.
"Anda mau ke mana, Nyonya?" cegah polisi itu.
"Ingin lihat keadaannya. Bagaimana kalau orang itu kabur dari sana? Penjahat kok dibiarkan begitu saja!" omelnya.
Dua polisi itu tak berkutik. Ucapan Ana ada benarnya. Akhirnya yang seorang lagi, mengikuti Ana ke belakang rumah. Dia bersyukur orang itu masih meringkuk di sana.
"Buatkan aku api dan asap dengan rumput-rumput kering itu!" Tunjuk Ana ke rumput liar yang meninggi di halaman belakang.
"Untuk apa?" tanya polisi itu.
"Tentu saja untuk mengusir lebah. Kalian ingin menangkapnya, kan?" tanya Ana.
"Apakah itu bisa berhasil?" tanyanya.
"Coba saja dulu, biar tau bisa atau tidaknya!" balas Ana pedas.
Polisi itu menarik beberapa rumpun rerumputan liar. Kemudian diserahkan pada Ana.
Setelah menjalinnya dengan rapi, Ana meminta orang itu untuk membakar ujungnya. Lalu rumpun rumput liar itu mengeluarkan asap tebal yang dapat mengusir para lebah menjauh.
__ADS_1
********