
Ammo dan Ellie memiliki kemampuan seimbang. Berkali-kali Ellie jatuh dibanting Ammo, namun dia berhasil membalikkan keadaan.
Ammo juga sudah dua kali jatuh ke matras. Setiap kali Ellie ingin mengunci dan menekan dadanya.dengan lutut, Ammo berhasil mendorong tubuh Ellie menjauh dan melepaskan diri.
Sudah setengah jam, belum terlihat siapa yang akan menang dan kalah. Semua penonton mengamati dengan seksama. Pertarungan itu sangat seru. Sangat jarang mereka melihat ada yang bisa mengimbangi Ellie di arena.
Kali ini, Ammo ingin segera mengakhiri permainan itu. Gerakannya lebih agresif, dipadu dengan gerakan beladiri lainnya. Akibatnya Ellie sedikit kelabakan. Dalam waktu singkat, dia terdesak. Keduanya sedang saling memiting dan berusaha menjatuhkan lawan ke matras.
Di pinggir gelanggang, Peter menyadari Ellie kalah kuat jika Ammo mengerahkan seluruh tenaganya. Jika Ellie jatuh dengan keras, hal itu dapat membahayakan kejutan yang ingin mereka sampaikan nanti. Jadi dia membuat langkah tak terduga.
"Ammo!" panggilnya dengan mata melotot.
Ammo terkejut dan kehilangan konsentrasi. Seketika tubuhnya melayang jatuh ke samping dan dadanya langsung ditekan serta dikunci Ellie.
Sialnya, wasit yang ditunjuk langsung memutuskan pemenangnya, Ellie! Ammo terbengong tak percaya. Terlebih lagi melihat Ellie bersorak gembira saat bangkit dari atas tubuh Ammo.
Ammo membalikkan badan menelungkup. Menatap horor ke arah Peter. Tapi pria itu cuek saja, kemudian menyambut istrinya dengan penuh kasih sayang dan kebanggaan.
Tawa keras Ana mengobati rasa dongkol di hati Ammo. dia menoleh pada gadis yang sedang menertawainya. Dengan wajah cemberut, Ammo bangkit dari lantai dan menemui Ana yang menampilkan senyum lebar.
"Biar kutebak. Kau pasti tak pernah bisa mengalahkan Ellie!" Ana masih tak bisa menahan tawa. Ammo mendesah dan mengembuskan nspas panjang.
"Sini kuberi tahu satu rahasia," kata Ana dengan senyuman jahil.
"Apa?" tanya Ammo pura-pura penuh perhatian.
"Wanita itu tak pernah salah! Dan tak boleh kalah. Tampaknya itu prinsip yang dipegang Peter. Hahaha ...." Tawa Ana kembali berderai.
Peter dan Ellie mendekat dengan senyum dikulum. "Sepertinya kau senang kakakku kalah!" timbrung Ellie.
"Dia terlihat lucu saat kau mengalahkannya!" jujur Ana.
"Apa kau akan lebih menyukaiku kalau aku terlihat lucu?" canda Ammo.
"Ishh ... apaan sih!" wajah Ana memerah. Senyumnya lenyap, digantikan bibir mungil yang terkatup rapat.
"Hehehe ... kalian membuatku iri saja. Berhentilah saling menggoda!" kekeh Peter.
"Mari kita beristirahat. Aku menyiapkan makan malam spesial untuk kita," Ellie menggandeng tangan Ana.
*
*
__ADS_1
Ellie membawa Ana dan Ammo ke lantai teratas di atap bangunan. Ana tak menduga bagian atap itu amat sangat asri. Ammo juga terpukau melihatnya.
"Apa kalian memutuskan untuk tinggal di atas sini?" tanya Ammo. Dia bisa melihat bangunan kayu bernuansa Jepang di tengah-tengah taman itu.
"Sesekali kami menginap di sini, untuk menikmati suasana kota," sahut Peter.
Ammo dan Ana diarahkan ke gazebo di ujung taman. Di sana, seorang pria oriental bersama asistennya, sedang sibuk menyiapkan makanan.
"Tempat yang sangat bagus. Kalian pasti betah di sini," puji Ana.
"Terima kasih, Ana," balas Ellie senang.
Keempat orang itu duduk bersama. Juru masak segera menyajikan makanan yang sudah disiapkannya. Ada banyak sekali makanan yang disediakan. Para pengawal itu juga ikut serta menikmatinya.
"Apakah ada hal lain yang ingin kalian bicarakan?" tanya Ammo.
"Matamu jeli sekali!" sungut Ellie.
"Bukan mataku yang jeli. Tapi sejak tadi kalian kelihatannya tidak terlalu fokus untuk makan. Saling pandang dengan mata penuh rahasia," bantah Ammo.
Ellie dan Peter saling pandang. Ana bisa melihat kebahagiaan di mata pasangan itu.
"Ehemm ...." Ellie berdehem sebentar. Peter menggenggam jemari istrinya dan mengangguk, memberinya keberanian tambahan.
"Hah?" Ammo terkejut sebentar, sebelum tersenyum lebar.
"Selamat yaa ... aku sungguh bahagia mendengarnya. Setelah dia lahir nanti, aku akan membalaskan kekalahan di arena tadi!" kelakar Ammo.
"Selamat ya Ellie, Peter .... Itu kabar yang sangat bagus," ujar Ana tulus.
"Terima kasih, Ana. Kuharap kalian segera menyusul!" goda Ellie. Ana hanya tersenyum menanggapinya.
Makan malam itu berlangsung hangat. Ellie tak menutupi bahwa dia menyukai Ana. Dia sangat antusias dengan hubungan Ana dan kakaknya.
"Kurasa, sebentat lagi keluarga besar Oswald akan mengetahui tentang kalian!" Ellie terlihat misterius.
"Yups ... tak lama lagi, keluarga kita akan mengetahui keadaanmu juga!" timpal Ammo santai.
Ellie cemberut mendengarnya. Ammo jelas mengancam Ellie jika berani membeberkan hubungan asmaranya pada keluarga.
*
*
__ADS_1
"Terima kasih sudah mengajakku ke sana!" kata Ana. Mereka sudah berada di mobil yang melaju menuju pulang.
"Jika ada tempat lain yang ingin kau kunjungi lagi, katakan saja." Ammo memberikan tawaran.
"Tak ada. Aku sedang tak ingin ke mana-mana." Ana menolak halus.
Ammo mengangguk mengerti. Ana bukanlah gadis yang bisa dipaksa. Dia harus bersabar untuk mendapatkan hatinya srcara utuh.
"Aku hanya ingin kau tahu, jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa katakan padaku." Ammo menatap mata Ana dalam. Dia ingin Ana mengetahui bahwa dia bisa mengandalkannya untuk hal apapun.
"Aku tahu!" Ana mengalihkan pandangannya dan tersipu. Tatapan Ammo menggetarkan hatinya. Dia harus mengakui bahwa pria itu lamnat laun berhasil melelehkan sikap kerasnya.
"Aku suka melihatmu tersipu seperti itu," bisik Ammo dekat dengan telinga Ana. Hingga gadis itu bisa merasakan embusan napasnya. Dia membuang pandangan keluar jendela, melihat suasana di luar.
"Kita hampir sampai!" ujarnya tanpa ujung pangkal. Sekedar mengusir sussana canggung yang tercipta di antara mereka berdua.
Lengan Ammo merengkuh bahu Ana. Dia bisa merasakan rasa terkejut gadis itu, sebelum berpura-pura tenang dan membiarkan apa yang dilakukan Ammo.
Meskipun bibir Ammo hanya tersenyum, namun hatinya bersorak dan melompat kesenangan. Gadis kaku dan dingin itu tidak lagi menolak pelukannya. Bukankah ini kemajuan pesat? Rencana kencannya bisa dikatakan berhasil.
Mobil meluncur memasuki jalanan menuju kediaman Ammo. Tubuh Ana kaku. Dia berharap mobil segera berhenti, agar dia bisa segera melarikan diri dari Ammo.
"Kurasa, saat ini kau sedang berpikir, alangkah indahnya jika bisa terbang ataupun menghilang!" Ammo tak tahan untuk tidak menggoda gadis itu. Tubuhnya yang sekaku patung pualam Yunani, bisa dirasakan Ammo.
"Sok tahu!" batah Ana..Dia bahkan bisa merasakan wajahnya memanas karena malu. Beruntung sekali dia diselanatkan oleh suasana malam yang gelap.
"Sudah sampai, Tuan," ujar Ted.
"Para pengawal keluar lebih dulu. Ted juga ikut keluar dan memberi tuannya kesempatan berduaan di dalam mobil.
Ammo tak mau melewatkan kesempatan yang diciptakan para pengawal dan Ted.
"Dengan lembut disentuhnya dagu Ana. Menatap gadis itu dengan mata dipenuhi cinta.
Dan entah bagaimana, tubuh Ana merespon tatapan itu dengan memejamkan mata dan menunggu.
"Di teras, Theo sedikit kebingungan melihat mobil berhenti di depan rumah. Sopir dan para pengawal sudah keluar. Tapi tuannya belum juga muncul.
Theo ingin memeriksa mobil yang dijaga para pengawal sedikit lebih jauh.
"Beri mereka waktu!" Ted mencekal tangan Theo, melarangnya mendekati mobil.
Meski mulanya tak mengerti, tapi akhirnya Theo ikut menunggu dengan sabar di depan teras.
__ADS_1
*******