
"Apa kau masih mau mendengar kabar lain?" Ammo melirik Ana sekilas.
"Katakanlah." Ana mengangguk.
"Kau sudah mengingat Sanders 'kan?" desak Ammo.
"Ya, James. Orang yang ada di foto kita berlima. Temanmu, teman George dan Adriana," ujar Ana tegas.
"Kerja bagus, Stone."
Ammo memuji profesor Stone untuk kemajuan pekerjaannya. Dibalas Stone dengan gelengan kepala. "Itu usaha kerasnya."
Ammo kembali mengarahkan pandangannya pada Ana. "Sanders mengatakan padaku bahwa George sudah tewas!"
"Apa?"
Stone dan Ana benar-benar terkejut.
"Kapan, di mana dia tewas?" tanya Ana tak menahan diri lagi.
"Hanya segitu info yang diberikannya." Ammo mengedikkan kedua bahunya.
"Apakah ... yang selama ini bersikap jahat padaku, bukanlah George kita?" Ana terguncang. Tubuhnya bergetar hebat. Matanya berkaca-kaca. Tapi tak setetes airpun turun di pipinya.
"Haha ... hahahaha. Jelas itu bukan dia. Georgeku tak mungkin sampai tega menjebak timku!" simpul Ana dengan senyum mengerikan.
"Georgeku?" batin Ammo teriris mendengarnya.
"Aku akan membalasnya!" ujar Ana geram. "Aku tak tau keadaan timku sekarang. Apa kau tau sesuatu?" tanya Ana.
"Tentang timmu, sejujurnya aku belum bergerak ke arah situ. Tetapi, jika ada info terbaru, aku akan mengabarkannya," janji Ammo.
"Tapi, tentang George palsu itu, aku sudah mendapatkannya!" Ammo menunjukkan senyuman dingin.
"Tampangmu semakin menyeramkan," komentar Ana. "Apa dia menyiasatimu juga?" desaknya penasaran.
"Kita bicarakan lagi tentang itu jika dia berhasil lolos dari maut!" sahut Ammo enteng.
"Hah!" Ana terpesona dengan sikap tenang Ammo.
"Satu berita lagi," lanjut Ammo.
"Oh, masih ada lagi? Kenapa jadi berita terakhir? Apakah itu berita buruk?" Ana mencondongkan tubuhnya dan menatap Ammo tajam. Dia serius kali ini.
Ammo mengeluarkan disk yang selalu disimpannya.
"Pinjamkan laptopmu, Stone!"
__ADS_1
Profesor Stone berdiri dan melangkah ke mejanya. Diambilnya laptop dan diserahkan pada Ammo. Beberapa saat kemudian, di layar muncul potongan rekaman dari recorder rahasia Ammo saat memasuki apartemen James.
Profesor Stone menoleh pada Ammo. Dia terlihat sedikit keberatan untuk menunjukkan rekaman tersebut. Tapi Ammo sudah tak punya banyak waktu untuk menunggu pemulihan ingatan Ana. Diharapkannya, dengan cara ekstrim, Ana akan menyingkirkan penghalang memory yang dialaminya.
"Apa yang kalian diskusikan dengan saling tatap begitu? Tunjukkan padaku!" bentaknya marah.
Ammo menghembuskan nafas panjang. Lalu layar laptop itu, dihadapkan pada Ana. Kemudian tombol play diputar untuk dilihatnya.
"Ini, saat aku memeriksa apartemen James," jelas Ammo.
"James?" alis Ana naik sebelah, tanda dia bingung.
"Sebelumnya aku juga tidak tau kalau James adalah Sanders. Sampai ... aku melihat isi amplop itu!" tunjuk Ammo pada amplop coklat yang dibawanya masuk apartemen James.
Ana membelalakkan mata melihat foto-foto yang berserakan di meja. Ada yang bersandingan, seperti dirinya dan Sanders. Tapi, George tidak! Fotonya hanya ada satu, sana seperti Adriana dan Ammo.
Ana ingin bertanya pada Ammo tentang hal itu, ketika matanya terpaku pada kotak yang dibawa Ammo masuk kembali ke ruangan. Instingnya mengatakan, kotak itu tak biasa. Dengan tak sabar dia menonton Ammo yang dengan hati-hati memotong pembungkus kotak paket itu
"Aaahhhhh!" jerit Ana seketika. Matanya melotot tak percaya ke arah layar. Hingga menarik laptop itu ke arahnya, untuk melihat lebih jelas.
"Adriana...."
Kali ini air mata meluncur di pipinya tak tertahan lagi. Suaranya terdengar lirih diantara isak tangis. "Ini salahku ... maafkan aku. Aku bersalah dan berhutang padamu. Aku akan membalas mereka dengan setimpal!" geramnya.
"Apa Sanders mengatakan siapa yang berhubungan dengannya!" tanya Ana dengan emosi.
Ana menggeleng. "Aku tak ingat sekarang. Tapi jika dia adalah seseorang yang ku kenal di masa lalu, maka aku pasti akan mengingatnya kembali!" tekadnya.
"Mereka juga tak segan mengancam nyawamu rupanya. Semua orang dalam pertemanan kita, diincar mereka. Apa tujuan mereka yang sebenarnya?" Ana berpikir serius.
"Aku juga belum dapat menemukan semua petunjuk. Tapi menurutku, kau adalah kunci utama kasus ini. Jika kau bisa membuka ingatanmu kembali, maka semua petunjuk yang ada, bisa kita letakkan pada tempat yang tepat!" simpul Ammo.
Kau harus membuka kenangan masa kecilmu. Ingat, bahwa saudarimu itu juga mereka awasi, untuk mengancammu! Hanya dengan membuka kenangan lebih dalam, baru kau bisa melepas pembatas itu sekaligus!" desak Ammo.
Ana mengangguk. Apa yang dikatakan Ammo, ada benarnya. Tak ada seorangpun bisa mengintervensi ingatannya, jika dia tak menginginkannya. Berarti selama ini alam bawah sadarnyalah yang menutupi cerita masa kecilnya.
"Aku akan melawan rasa takutku. Aku siap untuk sesi terapi, Prof," ujar Ana.
Profesor Stone dan Ammo saling pandang. Kemudian mengangguk. Ammo berdiri dari duduknya di sofa, berpindah ke meja kerja profesor Stone yang tak jauh dari situ. Kali ini dia ikut mengamati sesi terapi Ana.
Ponselnya bergetar. Itu pesan kapten Lance.
......KAMI SUDAH SIAP......
Ammo berdiri dan keluar ruangan. Seorang penjaga masih setia berjaga di depan pintu.
"Kita ke ruang komando!" perintah Ammo.
__ADS_1
"Siap, Bos!"
Keduanya melangkah dengan langkah-langkah panjang, agar dapat segera sampai.
Sepuluh menit kemudian.
"Bos!"
Seru kapten Lance begitu melihat Ammo masuk ruang komando. Semua petugas di situ ikut menoleh ke pintu.
Tanpa disadari, mereka bertepuk tangan melihatnya masuk. Dia disambut bak pahlawan. Kapten menunjuk sebuah kursi untuk ditempati Ammo. Masih mengenakan pakaian yang basah dan kering di tubuhnya, Ammo duduk.
"Kordinat sudah dimasukkan?" tanya Ammo.
"Sudah, bos!" teriak petugas yang sedang mengawasi rute perjalanan mereka.
"Jika sudah siap, mari kita berangkat!" perintah Ammo.
"Berangkat!" ulang kapten Lance di pengeras suara.
Perlahan-lahan terasa getaran pada lantai kapal selam besar yang digunakan sebagai lab bawah laut itu. Mesin yang lama tak digunakan itu, kini kembali digerakkan. Kapal selam tua yang sudah dimiliki sejak ayah Ammo ada, kini mulai menarik jangkarnya.
Dalam waktu setengah jam, kapal selam itu siap untuk menyibak air di lautan yang dalam.
Semua orang mulai fokus dengan tugas masing-masing. Tak ada yang boleh keliru. Semua batu karang sudah digambarkan dalam peta pelayaran. Jangan sampai, kapal mereka mendekati karang.
"Bos, sebaiknya Anda beristirahat dan berganti pakaian dulu," usul kapten Lance.
"Baik." Ammo berdiri dari kursinya.
"Oh, ya. Bagaimana dengan orang-orang yang cedera? Aku belum melihat mereka," ujar Ammo.
Kapten Lance memanggil seorang petugas lain. "Antar Bos ke manapun dia mau pergi!" perintahnya.
"Siap!"
"Hei, apa kau sudah menyiapkan kamar Bos seperti yang kuminta?" tanya Kapten Lance pada petugas yang lain lagi.
"Siap, Kapten. Sudah, Kapten!" jawabnya cepat.
"Bos, baiknya anda berganti pakaian kering dulu, sebelum melihat ke klinik," desak kapten Lance.
"Oke. Bawa aku ke sana!" Ammo mengangguk.
"Siap!"
Seorang penjaga berjalan mendahului. Kemudian Ammo mengikutinya. Di belakang keduanya, ada seorang petugas lain yang siap menjaga Ammo.
__ADS_1
******