Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
145. Kedatangan Khouk


__ADS_3

"Mereka ada di depan gerbang. Xander, pergi lihat. Jika itu orang kita, boleh bawa masuk kemari!" perintah Ana.


"Siap!" Xander langsung menghilang lagi di balik pintu.


"Bersiaplah!" ujar Ana pada Nathalie.


"Itu jemputan? Barang-barangku belum dibereskan!" ujar Nathalie.


"Paman, bersediakah kau membereskan isi ruang perawatannya?" tanya Ana pada Alexei.


"Oke!" Alexei langsung pergi.


"Bagaimana kau bisa memerintah semua orang?" tanya Nathalie heran.


"Memerintah siapa? Xander? Bukankah itu jemputan kalian. Bukankah seharusnya dia yang lebih tahu?" Ana bertanya balik.


"Bukan Xander, tapi Paman Alexei!" sergah Nathalie.


"Hlo ... bukannya tadi aku bertanya lebih dulu, apakah dia bersedia?" Atau, sebaiknya kau saja yang membereskan barang-barangmu sendiri!" Ujar Ana ketus.


"Dan kuperingatkan kau! Jangan manja dan menyusahkan ayah atau Xander di sana!" Ana memperingatkan dengan tegas.


"Atau apa?" tantang Nathalie.


"Atau kau kubuang ke jalanan!" seru Ana jengkel.


Nathalie melotot marah pada Ana. Ivan menggeleng kepala melihat keduanya bertengkar. Keduanya sama keras kepala, tapi yang seorang tegas dan bertanggung jawab, sementara yang seorang lagi sangat manja. Keduanya sama sekali tak berubah dari ingatannya dulu.


"Sudah ... jangan ribut terus. Kau memang harus merubah kebiasaan manjamu. Tidak selamanya akan ada orang tempatmu bergantung! Jika ayah dan kakakmu tidak ada, kau mau bagaimana jika tak bisa mengurus diri sendiri?" tegur Ivan.


"Aku bisa membereskan barang-barangku sendiri. Aku cuma benci melihatnya sok jadi pemimpin keluarga! Padahal masih ada ayah!" sangkal Nathalie.


"Pemimpin, aku membawa seseorang!"


Xander masuk. Di belakangnya mengikuti pria tinggi tegap berambut kelabu panjang yang dirapikan dengan kepangan di kiri kanan telinganya. Namun satu ciri khas yang langsung dikenali Ana. Codet besar di pipinya, tampak nyata. Dia, satu dari tiga orang terpilih yang dikirim untuk mencari dan melindungi anak keturunan orang penting di Klan.


Ana mengangkat tangan kanannya yang memakai cincin. Pria itu sangat terkejut. Dia menoleh pada Ivan yang tersenyum dan mengangguk. "Dia putri pertamaku!" kata Ivan memperkenalkan.


"Kami hanya selisih beberapa menit. Bagaimana dia bisa begitu diistimewakan?" sela Nathalie dengan nada iri.


Ivan langsung menatapnya tajam. Nathalie menunduk. "Sekarang, bahkan ayah pun, tak membelaku!" pikirnya sedih.


Pria bercodet itu sedikit terbawa dengan ucapan Nathalie. Tetapi dia kemudian mengikuti Xander berlutut di depan tempat tidur Ana.

__ADS_1


"Hormat pada pemimpin baru. Saya, Khouk, bersedia mengabdi dan mengikuti perintah Pemimpin Klan, hingga akhir hayat!" ucapnya.


"Baik. Jadi kau yang dikirim oleh Erdeniin. Kuterima sumpah setiamu!" Ana mengangguk.


"Sekarang, berdirilah. Kami sedang menunggu tim penjemput, agar Ayah, Nathalie dan Xander bisa kembali ke Klan!" kata Ana.


"Tim penjemput sudah siap, Pemimpin," lapor Khouk.


"Bagus. Tunggu hingga Paman Alexei kembali dengan membawa barang-barang nona cantik dan manja ini!" sindir Ana.


"Hei!" protes Nathalie. Tapi dia tak jadi meneruskan kata-kata, setelah mendapatkan tatapan tajam menusuk dari ayah dan dua pengawal itu.


Ana hanya melihat lewat ekor matanya. Gadis manja itu harus lebih dikuatkan lagi. Ana tak ingin ada lagi sahabat ataupun anggota keluarganya yang terluka. Bawahan-bawahannya yang mahir bela diri saja bisa dikalahkan The Hunters dengan mudah, bagaimana dengan Nathalie?


"Ini semua barang-barangmu!" Alexei dan Blake masuk sambil membawa empat buah koper besar.


"Astaga!" Ana dan Ivan terpana.


Wajah Xander menunjukkan kerumitan. Itu akan jadi tugas beratnya. Padahal dia harus menjaga Tuannya. Tanpa disadari, dia mendesah panjang.


"Kau pilih yang paling dibutuhkan, dan masukkan dalam satu koper!" perintah Ana tegas.


"Bagaimana aku tahu di mana barang-barang yang paling penting. Semuanya juga penting!" sanggah Nathalie.


"Kau itu mau pergi menyelamatkan nyawa, bukan mau liburan!" sergah Ana pedas.


"Tinggalkan semua itu. Kalian pergilah sekarang. Xander, tugas utamamu, menjaga ayah!" Ana membuat tugas Xander lebih jelas, agar Nathalie tidak mengganggunya sepanjang perjalanan.


"Siap, Pemimpin!" Xander akhirnya lega. Dia segera menyandang tas ransel Ivan di punggungnya. kemudian mendorong kursi roda untuk diduduki Ivan.


"Aku akan menyusul Ayah, secepatnya!" janji Ana.


"Kau harus segera pulih. Khouk, aku percayakan nyawa pemimpin Klan, padamu!" ujar Ivan.


"Siap, Tuan. Akan saya jaga dengan nyawa!" sahut Khouk hormat.


Xander mendorong kursi roda keluar ruangan. Ana juga ingin keluar. Dia ingin melihat siapa-siapa saja yang menjemput keluarganya. Alexei dengan sigap memapah keponakannya itu ke luar kamar.


Khouk keluar dan mencari kursi roda lain untuk Ana. Dengan hati-hati didorongnya kursi Ana menuju tempat para penjemput menunggu.


Dua buah helikopter ukuran besar, telah mendarat di tengah lapangan. Para petugas penjemput itu berdiri berjejer, menunggu Ana muncul.


"Tuan Pemimpin, mereka sedang menunggu Anda mengangkat tangan untuk bersumpah setia!" kata Khouk.

__ADS_1


"Oh?" Ana yang mendadak diangkat jadi pemimpin Klan, tidak mengetahui hal itu. Bagus jika ada Khouk yang bisa membimbingmya.


Ana mengangkat tangan kanan dan menunjukkan cincinnya.


Orang-orang itu langsung berjongkok dan memberi penghormatan. "Hormat pada pemimpin baru. Saya bersedia mengabdi dan mengikuti perintah Pemimpin Klan, hingga akhir hayat!"


Ana mengangguk. "Aku terima sumpah kalian. Tolong bawa Ayah dan adikku kembali ke klan dengan selamat!" ujar Ana.


"Baik, Pemimpin!" Orang-orang itu berdiri dan kembali ke posisi masing-masing.


Xander dan ayahnya menaiki heli pertama. Sementara Nathalie menaiki yang sebelahnya. Di sisi-sisi mereka, ada petugas yang siap dengan senjata ditangan.


Tak lama, kedua helikopter itu terbang dan menghilang dari pandangan mata.


Dari kejauhan, Blake dan dua pengawal yang semula mengawal Nathalie, baru tahu, kalau Ana punya posisi tinggi di keluarganya.


Ana didorong kembali ke kamarnya. "Blake, kukira, kalian senaiknya beristirahat," kata Ana.


"Baik!" jawab Blake.


Ana masuk kamar dan kembali emosi melihat koper-koper Nathalie. "Bagaimana ada perempuan yang begitu suka kerumitan?" pikirnya tak mengerti.


"Ana, karena kau sudah ada yang menjaga. Paman akan kembali ke basecamp," ujar Alexei.


Ana mengangguk. "Oke. Hati-Hatilah di jalan!" Ana mengingatkan.


"Tentu!" Alexei berpapasan dengan Khouk yang sedang menyusun koper-koper Nathalie.


"Kau, tolong jaga keponakanku dengan nyawamu!" pesan Alexei. Khouk hanya mengangguk.


Ruangan itu kembali sepi. Ana sudah berbaring di tempat tidurnya lagi.


"Kau bisa beristirahat bersama Blake dan teman-temannya, di luar," kata Ana.


"Aturan seorang pemgawal pemimpin adalah, tidak melepaskan pandangan dari objeknya. Jika saya kehilangan Anda, maka hukuman mati yang akan saya terima!" jelas Khouk.


"Oh ... itu sebabnya Xander tidak pernah melepaskan pandangan dari ayah!" Ana manggut-manggut.


""Baiklah ... kau boleh cari tempat manapun yang kau rasa nyaman," ujar Ana.


"Terima kasih!" Khouk menarik kursi, dan duduk dekat pintu masuk.


"Bisakah kau ceritakan tugasmu sebelum ini?" tanya Ana.

__ADS_1


"Baik, Pemimpin. Akan saya jelaskan," sahut Khouk.


*******


__ADS_2