
Rapat Pemegang Saham -sekaligus pengelola anak usaha Oswald- pagi itu, berlangsung menegangkan. Ammo tak mudah dipuaskan dengan laporan yang masuk. Dia juga punya laporannya sendiri yang para direktur itu tak bisa patahkan dengan laporan dan argumen mereka.
Rapat yang panas itu sudah berlangsung dua jam, jangankan snack, minuman juga tak disajikan. Dan masih belum semua mendapat giliran melapor. Mereka mulai cemas, kapan semua ini berakhir.
Tepat pukul dua belas siang, pintu terbuka. Orang-orang yang sudah stres itu merasa sedikit lega. Mungkin istirahat siang sudah tiba. Rapat pasti belum akan berakhir, karena masih ada dua orang lagi yang belum mendapat bola panas dari Ammo.
Namun mereka harus kecewa, karena yang masuk adalah para petugas berseragam. Mereka membawa kotak-kotak berisi gadget masing-masing orang yang ada di dalam ruangan. Semua kotak itu disusun di atas meja Ammo. Kemudian ada berkas yang juga diletakkan tepat di hadapannya.
"Apa lagi ini?" batin mereka makin cemas.
Setelah petugas berseragam itu keluar, masuk para staf pria lainnya, membawa makan siang. Semua orang yang hadir mendapatkan jatah piringnya masing-masing.
"Apa kita makan di sini?"
"Keterlaluan!"
"Ini merendahkan kita. Penghinaan!"
Ruangan itu mulai dipenuhi suara berdengung karena protes dan bisik-bisik mereka.
"Ammo, apa kau mulai tidak menghormati para sesepuh keluarga?" Brenton Oswald menahan rasa geramnya.
Ammo tidak menjawab. Dia masih asik menekuni kertas laporan yang baru diantarkan seorang petugas berseragam. Keningnya mengerut. Wajahnya dingin.
"Jangan bersikap semena-mena, hanya karena kau pemegang saham utama!" ujar yang lain gusar.
__ADS_1
Ammo mengangkat kepalanya. Mengangkat sebelah alisnya tinggi. Terlihat betul dia meremehkan keluhan mereka.
"Bagian mana yang tidak menghormati dan semena-mena?"
"Makan di meja rapat dengan piring sudah terisi? Ini diluar kebiasaan! Kau kira kami sama dengan pegawai kantor yang makan di kantin?" Protes yang lain tak senang.
"Paman Barry, kau sudah harus diet. Kupikir, aku sudah sangat perhatian, dengan memilihkan makanan sesuai kondisi kesehatan semua orang. Tapi kalian tidak menghargai kebaikanku." Ammo menghela nafas berat dan menggelengkan kepalanya dengan ekspresi kecewa
Seorang berseragam lain kemudian masuk dan mengantarkan piring makan Ammo di meja.
Ruangan itu seketika menjadi hening. Ammo ternyata juga turut makan di dalam ruangan. Artinya hanya satu, mereka takkan keluar dari ruangan itu sebelum kemurkaan Ammo reda! Jadi tak terdengar lagi dengungan rasa tak puas di ruangan. Mereka mulai menyuap makanan dari piring masing-masing.
Ammo tak menunjukkan perubahan sikap. Dia tetap tenang dan ikut menikmati makan siangnya setelah membaca semua laporan.
"Aku beri waktu dua bulan untuk progresnya. Dan semua harus siap kapanpun dipanggil untuk pertemuan seperti ini. Beri aku laporan yang lebih terperinci lagi."
"Ingat satu hal, aku hanya akan menghargai orang yang setia! Jangan bermain api denganku!" ancam Ammo.
Kemudian pertemuan itu selesai, dan semua orang bisa mendapatkan kembali gadget mereka, lalu pulang.
Ekspresi-ekspresi lega mengiringi langkah orang-orang tua itu keluar pintu. Gerutuan mereka masih terdengar samar-samar, namun tidak lagi setegang sebelumnya. Selama tak mendapatkan hukuman, maka itu merupakan hal yang baik.
Seorang petugas datang setelah mendapat panggilan.
"Ya, Tuan."
__ADS_1
"Apakah semuanya sesuai rencana?" tanya Ammo.
"Sudah dilakukan, Tuan," jawab si petugas.
"Bagus! Bereskan semua yang di sini. Kirim laporannya tiap hari," perintah Ammo.
"Baik, Tuan!"
Petugas itu memberi Ammo jalan, lalu merapikan semua berkas di meja Ammo dan membawanya. Dengan berlari-lari kecil, dia mengejar langkah Ammo yang panjang-panjang.
"Tuan, Anda ada pertemuan dengan Tuan Scott Cavendish pukul delapan malam ini," lapor petugas itu.
Ammo menghentikan langkahnya.
"Dia adalah?" tanya Ammo bingung.
"Tuan Scott adalah pemilik lahan tambang di Afrika yang ingin anda beli dua bulan lalu," jawab petugas itu.
"Ah ... dia Scott rupanya. Pria dengan tampang lucu itu. Dia orang yang menyenangkan. Baik, siapkan segala sesuatu untuk pertemuan itu." Ammo mengangguk.
"Baik, Tuan."
Ammo kembali menaiki burung besi bersama Sawyer.
******
__ADS_1