Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
66. Benang Merah


__ADS_3

"Oke. Aku sudah terima laporan tentang Oscar dan Sanders. Saling bekerjasamalah, agar progresnya cepat."


Dokter Sarah dan Dokter Armstrong mengangguk mengerti.


"Tentang Nathalie, apakah pemeriksaan DNA nya sudah keluar?" tanya Robert.


"Belum. Kemungkinan sore nanti baru keluar," jawab Sarah.


"Oke. Jadi kita bahas Nathalie dulu. Saya mau dia diterapi juga seperti halnya Ana." Ammo memberikan instruksinya.


"Tapi—"


Ammo mengangkat jari, membuat Sarah langsung diam. Ammo tak suka dibantah. "Baik. Aku akan buat pengaturannya." Sarah mengangguk.


"Aku mau terima laporannya tiap hari!" tegas Ammo.


"Baik!"


Ammo membalas anggukan kepala Sarah. Kemudian membuat panggilan pada ponselnya.


"Sawyer?"


"Siap!"


Terdengar jawaban di seberang. Ammo berdiri dan menarik koper kecilnya. Dia melangkah keluar ruangan diikuti Sarah dan Armstrong. Penjaga yang berdiri di depan pintu, mengambil alih koper Ammo dan membawanya lebih dulu menuju helikopter.


"Kemana tujuan kita?" tanya Sawyer setelah Ammo duduk dengan baik.


"Pulang!" sahut Ammo.


"Siap!"


Kemudian terdengar deru mesin, diikuti dengan berputarnya baling-baling. Helikopter itu perlahan mengudara, lalu pergi menjauh.


*


*


Di tengah kota, di sebuah gedung perkantoran kelas atas. Di salah satu ruangan, terjadi kepanikan. Rosie, Leo dan empat sekretaris junior dibawa oleh Theo dan kapten Smith. Smith menempatkan beberapa anggotanya di ruangan itu dan juga di depan ruangan CEO. Theo mengunci kedua ruangan sesuai perintah Ammo.


Enam orang itu dibawa terpisah dengan kendaraan lapis baja. Semuanya dijaga ketat dan tak bisa bicara, serta tak tau dibawa kemana.


Pukul sepuluh malam, Ammo tiba di rumah kembali. Dia lelah karena telah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Berganti transportasi berkali-kali untuk mengelabui mata yang mengawasinya. Tapi Sawyer setia menemani.


"Welcome home, Sir," sapa Theo hormat. "Tugas sudah dilaksanakan siang tadi," lapor Theo.


"Bagus! Jika tak ada yang penting, laporkan besok pagi saja! Dan, bawakan makan malam ke ruang kerja!" perintah Ammo.


"Ya, Tuan." Theo menundukkan kepalanya sedikit, lalu berbalik ke dapur.


Setelah menyegarkan diri, Ammo duduk di ruang kerjanya, membaca laporan dari berbagai anak perusahaannya. Kematian Tuan Dimitry memberi dampak pada usaha otomotifnya, di negara itu.


Ammo harus memikirkan langkahnya dengan lebih hati-hati tentang itu. Dia ingin ke sana, tapi tampaknya banyak yang menginginkan nyawanya, di sana. Pihak pemerintah hanya belum mengeluarkan perintah eksekusi secara resmi saja.


"Greg, amankan aset, setelah itu liburkan pabrik dan kantor. Kalian harus bersembunyi hingga keadaan tenang," pesan Ammo.


Sementara waktu, Ammo harus membagi tenaga dan pikirannya untuk mengurus semua anak perusahaan secara langsung. Besok dia harus ke kantor dan merubah sistem informasi perusahaan.

__ADS_1


Ammo menulis hal-hal penting dalam catatannya.


"Tuan," terdengar suara Theo dari balik pintu.


"Masuk!" sahut Ammo.


Theo masuk sambil mendorong meja beroda yang penuh dengan sajian.


"Pilihkan saja untukku!"


Ammo membiarkan Theo menyajikan makanan di meja kerjanya. Sambil terus memeriksa laporan perusahaan lain, dia menikmati makan malamnya.


Theo lega melihat makanan yang dibawanya, akhirnya habis dimakan. Tapi dia tak segera beranjak pergi.


"Apa ada hal penting lain?" tanya Ammo heran.


"Tentang Leo, Tuan. Saya merasa dia orang yang jujur." Theo berkata takut-takut.


"Mereka hanya menjalani pemeriksaan rutin. Yang bersih, akan terbukti bersih. Tetapi, aku tak pernah mentolerir pengkhianatan!" tegas Ammo.


"Lagi pula, Kapten Smith sangat tau apa yang harus dilakukannya." Ammo menambahkan.


"Baik, Tuan." Theo mengangguk mengerti. Dia kemudian berbalik dan mendorong meja servis, kembali ke dapur.


*


*


"Sawyer, bersiap!"


Ammo bergegas turun. Pakaiannya rapi. Dia membawa tas kerjanya sendiri. Tak ada lagi Leo yang biasanya menyiapkan keperluan kerjanya pagi hari.


"Aku harus terbiasa dengan ini," batinnya.


"Sarapan dulu, Tuan," rahan Theo.


"Yang praktis saja."


Ammo duduk di meja makan. Sambil menunggu Theo menyajikan sarapan, televisi dinyalakan. Tak ada berita besar yang dapat menarik minatnya. Bahkan, pameran bisnis skala regional tak juga membuatnya tertarik untuk mengikuti.


Ammo hampir mematikan tivi, ketika tiba-tiba matanya melihat seseorang yang dikenalnya.


"Carl Corbett! Bagaimana dia bisa ada di sana?"


Dahi Ammo makin mengerut saat melihat Carl berbincang serius dengan Aaron Oswald di sudut yang jauh dari pusat kegiatan. Kemudian seorang pria setengah baya, menghampiri dua kerabatnya itu.


Ammo mengambil screenshot moment ketiganya. Itu bisa jadi petunjuk penting suatu hari nanti. Diambilnya lagi foto pria tak dikenalnya itu dari arah depan.


"Siapa dia? Seberapa hebat orang itu, hingga dua musuh bebuyutan bisa beramah tamah di depannya?" gumam Ammo.


Ammo mencari tahu tentang orang itu lewat mesin pencari.


"Hemmm ... akhirnya aku menemukanmu, Tuan Alistair," gumam Ammo dengan dada bergemuruh.


"Benang merahnya perlahan mulai tersingkap. Alistair, Brooks, Carl, dan Aaron."


Ammo mengetuk-ngetukkan jarinya ke permukaan meja. "Lalu Rosie," gumamnya.

__ADS_1


Ammo dapat merasakan bahwa Rosie sedikit mendesaknya untuk menjalin hubungan kerja dengan Alistair yang bahkan belum pernah ditemuinya.


"Apakah Rosie orangnya Tuan Alistair? Lalu kenapa Sanders mengatakan bahwa Rosie akan menjadi bom waktu untukku? Sanders jelas disusupkan oleh Biro Klandestin. Atau ... Biro dan Tuan Alistair bekerjasama dan dipermudah oleh para pengkhiat dari keluarga Oswald?"


Wajah Ammo menggelap. Dia meneguk kopinya dan langsung berdiri. Diraihnya tas kerja dan melangkah panjang-panjang karena kesal.


Di pintu, Kapten Smith mencegatnya.


"Tuan!" panggilnya sambil berlari menuju rumah.


"Ada apa?" tanya Ammo menghentikan langkahnya.


"Laporan investigasi malam tadi, Tuan." Kapten memberikan hasil rekamannya.


"Baik. Akan kuperiksa nanti," angguk Ammo pada Smith. "Jangan kendorkan penjagaan kalian!"


"Baik!"


"Oh ya, beri aku satu anggotamu yang cakap, untuk kubawa," perintah Ammo.


"Segera!"


Kapten Smith memanggil seseorang melalui radionya. Tak butuh waktu lama, seorang pria bertubuh atletis dan beroakaian rapi, berlari ke arah mereka.


"Ya, Kapten!" Orang itu bersikap resmi di depan Kapten Smith.


"Kau, ditugaskan menjaga keamanan Tuan Oswald!" perintah Smith.


"Siap, Kapten!" jawabnya tegas.


"Saya Nick, Tuan. Siap menjalankan tugas!" serunya.


"Bagus! Ayo kita pergi!"


Ammo berjalan menuju helikopter diikuti Nick.


Kapten Smith dan Theo mengawasi hingga helikopter itu menghilang dari pandangan.


*


*


Ammo memeriksa ulang ruangannya, bersama Nick. Jangan sampai ada celah pengintip sekecil apa pun.


Hingga siang, pekerjaan mereka hanya menyisir ruang kerja Ammo, ruang pribadi dan ruangan para sekretaris.


"Bersih, Tuan!" lapor Nick.


"Bagus. Sekarang kita bisa mulai bekerja!" Ammo mulai membuka laptop dan memeriksa laporan Smith.


Empat sekretaris wanita junior, mengakui beberapa hal yang diluar konteks. Termasuk pengakuan selingkuh dengan Calvin dan Brenton Oswald. Ammo menutup muka dengan kedua tangannya. Dia lelah melihat para senior yang mata keranjang itu.


Tetapi Leo dan Rosie bersikukuh, bahwa mereka layak dipercaya. Smith belum berhasil mengorek keterangan dua tangan kanannya ini.


"Tak mungkin Sanders salah menduga," batin Ammo.


*******

__ADS_1


__ADS_2