
Setelah berkendara lebih dari 1 jam, Ammo akhirnya mengurangi kecepatan. Di depan sana, di kegelapan laut. Ada dua lampu merah menyala berkedip-kedip. Ammo mengarahkan kapal mereka ke sana.
Ana kembali mendapatkan kejutan dari Ammo.
"Berapa banyak rahasianya?" pikir Ana.
Kapal selam itu sekarang memasuki sebuah lorong, setelah pintu metal besar terbuka. Kapal selam itu berhenti total pada sebuah rangka besi besar.
Tapi itu masih belum cukup mengejutkan. Kapal selam itu diangkat naik entah oleh apa, Ana tak melihatnya. Air yang sebelumnya mengelilingi, berhamburan jatuh dan menghilang.
Ammo terlihat tenang-tenang saja. Maka menurut Ana, Ammo mengenali tempat ini. Atau ini juga termasuk propertinya.
Setelah gerakan naik itu terhenti, pintu dibuka.
"Kita sampai."
Ammo mengangkat ranselnya di pundak, lalu berjalan keluar. Ana pun mengikuti langkahnya.
Di luar, seorang pria berseragam hitam menunggu Ammo. Keduanya berbicara dengan suara rendah.
Ana tak ingin mengganggu. Jadi dia mengamati tempat itu dengan seksama.
Dia berada di tempat yang cukup luas. Atap dan dindingnya dari metal. Tak ada hiasan. Yang ada hanya beberapa tuas dan peralatan mekanik. Ana bahkan berpikir ini mungkin kapal selam yang sesungguhnya.
Kapal selam mini itu berada di atas ram besi. Jadi ram besi itulah yang mengangkatnya ke atas. Tak ada beda dengan cara kerja lift. Hanya saja, ini lift yang lumayan besar. Hingga bisa mengangkut sebuah kapal selam mini berkapasitas 4 seat. Yah, kira-kira seukuran mobil.
"Ana! Ayo," panggil Ammo.
Ana melangkah ke arahnya. Pria yang bersama Ammo tadi sudah pergi ke satu tempat.
Ana mengikuti langkah kaki Ammo. Bunyi hentakan sepatu mereka di lantai metal, terdengar berirama. Ammo mengarahkan langkahnya menuju tangga besi. Ana mengikuti di belakang.
__ADS_1
Mereka terus menaiki hingga 2 level lantai, baru Ammo berbelok dan melanjutkan langkah menuju sebuah pintu yang tertutup. Ana masih mengikuti tanpa bertanya. Tapi matanya dengan awas memeriksa berbagai sudut ruangan besar itu.
Ana tau, di lantai dasar tadi, ada dua orang penjaga bersembunyi di balik pilar. Di lantai satu, seorang penjaga berada di jalur jalan menuju pintu keluar. Kemudian di lantai ini, ada seorang penjaga dekat railing tangga, dan seorang lagi di balik tiang, sebelum pintu yang mereka tuju. Semuanya adalah ahli beladiri dan memegan senapan mesin.
"Ammo, kau seorang agent atau gangster?" bisik Ana usil.
Tapi Ammo sama sekali tak tersinggung. Raut wajahnya juga tak berubah. Dia balik bertanya dengan nada datar. "Menurutmu?"
"Huh!"
Ana bersungut-sungut melihat reaksi datar Ammo. Dia masih ingin mengganggu pria itu. Tapi penjaga yang berdiri dekat pintu telah menyapa Ammo.
"Tuan!"
"Hmm!"
Ammo hanya mengangguk. Lalu berlalu dan membuka pintu dengan sidik jari dan iris matanya.
"Kau akan tau nanti," jawab Ammo.
Lalu dia berhenti dan membuka sebuah pintu. Ammo masuk, memeriksa single bed berseprei linen putih. Dinding ruangan juga metal berwarna abu-abu muda dengan sedikit list warna blue ocean dan putih di dekat langit-langitnya.
"Kamarmu di sini. Beristirahatlah. Dua jam lagi kita bertemu!" Ammo melangkah keluar meninggalkan Ana.
"Hei, apa kau mau menahanku?" protes Ana tak terima.
"Aku berusaha melindungimu! Tidak ada yang menahanmu. Pintu ini juga tak dikunci. Kau bebas pergi di sini," balas Ammo.
"Melindungiku dari siapa? Bukannya katamu mereka mencoba membunuhmu?" tanya Ana sengit.
Ammo memejamkan matanya lelah. Dia pergi meninggalkan Ana. "Dua jam lagi, bersiaplah!"
__ADS_1
"Sok misterius!" gerutu Ana sambil membanting pintu kamarnya.
Dengan kesal, diturunkannya ransel dari punggung. Kemudian menghempaskan diri ke tempat tidur yang sama sekali tidak empuk itu.
"Apakah ini kapal selam? Atau barak tersembunyi? Di mana ini tepatnya? Siapa yang mengejarku?"
Ana mengajukan banyak pertanyaan pada dirinya sendiri. Tapi masih belum menemukan jawabannya.
"Aaaagghhh ....!"
Ana berteriak kesal. Kepalanya jadi sangat sakit jika mencoba mengingat-ingat sesuatu tentang dirinya.
"Apakah yang dikatakan James benar adanya?"
Ana masih tak bisa mempercayai kenyataan itu. Kenyataan bahwa dirinya dijadikan boneka yang patuh. Bahkan George membiarkan hal itu terjadi. Ana jadi semakin membenci George.
"Apakah karena dia sekarang punya gadis baru?" Ana tersenyum miring.
"Alena huh? Aku jadi sangat penasaran siapa gadis kesayanganmu itu George!"
Ana berbaring dan memejamkan mata. Tapi sesungguhnya dia tidaklah tidur. Dia mengasah indranya untuk mendeteksi hal terkecil, terhalus yang tak bisa dilihat mata.
Tempat ini sama sekali bebas getaran. Bahkan meski sebuah kapal selam berhenti, tetap akan ada getaran halus mesin untuk menjaga semua program berjalan. Apakah ini pulau lagi? Di mana? Seberapa kaya dia? Ataukah ada orang lain di atasnya?
"Ammo ... Ammo ...."
Ana menyebut-nyebut nama Ammo dan mencari nama itu dalam memorinya.
"Kenapa aku tak bisa mengingatmu dalam kenanganku?" Ana tertidur karena lelah berpikir.
*******
__ADS_1