
Sebuah motor sport hitam berhenti tepat di depan pagar kediaman Ammo. Pria itu menyapa penjaga yang terlihat waspada.
"Tolong katakan pada Theo, Alexei datang!" ujarnya jelas.
Penjaga langsung menghubungi Theo, mengatakan Alexei ada di depan pagar.
"Biarkan dia masuk!" perintah Theo.
"Silakan masuk!" ujar penjaga. Motor itu masuk melewati pagar pertama. Kemudian langkahnya tertahan. Penjaga di situ hendak menahan senjata yang dibawanya.
"Jangan lakukan itu!" tolaknya. Matanya menatap tajam. Tanya pada Theo apa yang harus kau lakukan!" suruhya.
Penjaga itu melapor pada Theo. "Bodoh! Biarkan dia masuk!" hardik Theo.
"Penjaga membuka gerbang kedua. Motor itu melaju menyusuri jalan masuk.
"Perketat penjagaan. Setelah ini, aku tidak mengundang siapapun lagi." ujar Theo.
"Siap!"
Di depan gerbang menuju teras, Theo sudah menunggu. Penjaga di situ sudah diberitahu untuk tidak menahan Alexei lagi.
"Mari masuk!" ajak Theo, begitu pria itu turun dari tunggangannya.
Keduanya berjalan cepat menuju ruang belakang. "Rumah ini tak berubah," komentarnya.
"Hemm...." Theo hanya mengangguk.
Dibawanya pria itu duduk di coffee table dekat tangga. Seorang pelayan wanita segera mengantarkan minuman pereda haus ke sana.
Cangkir teh itu telah diturunkan kembali ke meja. Alexei menatap Theo tajam. "Sekarang, katakan padaku apanya yang genting!" desaknya.
Theo pun menceritakan apa yang menimpa Ammo. Pria itu terkejut. Rumah dan perusahaan tak ada yang menjaga. Dia mengerti keputusan yang dibuat Theo.
"Bawa aku bertemu dengan para penjaga. Mereka harus tau siapa yang akan diikuti, bukan?" katanya.
"Ayo!"
Theo berdiri dan kembali meminta seorang penjaga, memanggil beberapa orang lain sebagai perwakilan pos masing-masing.
Tak butuh waktu lama, beberapa orang berbaris di depan teras. Theo segera memperkenalkan Alexei pada para penjaga.
"Mulai sekarang, hingga Kapten Smith kembali, maka Mayor Alexei akan mengambil alih komando, untuk mempertahankan kediaman dari serangan." Theo memperkenalkan Alexei pada penjaga yang hadir.
"Apa?" celetuk seseorang.
Alexei menatap pria muda itu tajam. Tapi dibalas dengan berani.
"Tak masalah jika Theo mengambil alih komando saat Kapten pergi. Tapi kami tidak mempercayai orang asing yang baru saja diperkenalkan!" tolaknya.
Wajah Theo merah padam. "Itu artinya kau tidak mau mengikuti keputusanku. Kau mau membelot?" seru Theo keras.
"Kau boleh tidak ikut serta. Kau, kurung dia tanpa alat komunikasi apapun!" Jari Alexei menunjuk orang disebelahnya untuk menahan penjaga yang protes tadi.
Yang ditunjuk Alexei tidak langsung bergerak. Hal itu membuat Theo murka.
"Kalian!' tunjuk Theo pada dua orang lain di dekatnya. "Tahan mereka berdua! Aku akan ajukan tuntutan pembangkangan perintah pada Tuan Oswald!" Ujar Theo dingin.
Belum sempat dua orang yang disuruh Theo bergeak, terdengar bunyi alarm memekakkan telinga.
"Sial! Kediaman ini benar-benar diserang. Alexei, kau ambil alih di sini. Aku naik ke atas. Yang melawan perintah, tembak saja!" seru Theo sambil berlari masuk.
"Yang mau mempertahankan kediaman ini, kembali ke pos!" perintah Alexei. Para penjaga itu segera berlarian menuju postnya masing-masing.
Dua orang di depan itu masih teguh berdiri di depan Alexei, menolak tunduk pada perintahnya.
__ADS_1
"Kalian meracuni pikiran orang lain, disaat genting. Aku curiga, kalian bagian dari para penyerang yang disusupkan di sini!" Hardiknya.
Alexei melompat tinggi ke depan dan menerjang keduanya hingga jatuh ke belakang. Dengan cepat dia membalik dan memutar lengan keduanya ke arah punggung, hingga berteriak kesakitan.
Tubuh Alexei yang kuat dan berotot, menyulitkan dua penjaga itu melakukan serangan balik. Jelas sekarang bahwa Alexei bukan orang biasa yang bisa mereka tantang sembarangan.
Alexei menasang borgol dan menarik keduanya ke arah teras. Lalu mengikat mereka di tiang teras.
Suara tembakan terdengar dari belakang rumah, dekat hutan. Tak lama sejak itu, maka suara tembakan pun bersahut-sahutan.
"Laporkan situasimya!" perintah Alexei di radio yang dipegangnya.
"Ada yang mencoba memanjat pagar belakang. Sudah diatasi!"
"Perketat pengawasan. Naik ke menara jaga!" instruksinya lagi.
"Siap!"
"Theo, kita butuh tambahan pasukan. Kediaman ini terlalu besar!" Ujar Alexei lewat radio.
"Apa kau percaya padaku?" tanya Alexei ingin kepastian.
"Selama kau bisa mengaturnya, aku mempercayaimu!" sahut Theo.
Alexei menutup radio. Dia meraih ponselnya dan menghubungi sebuah nomor.
"Ya, Mayor!" jawaban dari seberang.
"Tugas darurat. Bawa pasukan yang ada. Bawa perlengkapan memadai. Sekarang!" perintahnya.
"Siap!"
Telepon itu putus. Alexei lalu mengirim alamat kediaman itu kepada bawahannya.
Ditengah suara tembakan, Alexei berlari ke lantai dua.
Akhirnya dia menemukan Theo dan seorang pria muda sedang mengawasi laptop di satu ruangan.
Dia mengetuk pintu. Theo mendongak. "Ada apa?" tanya Theo yang terlihat cemas.
"Tunjukkan padaku layar cctv kalian!" ujarnya.
"Ah, ya ... aku lupa soal itu. Mari!" Theo berjalan cepat. Mereka turun ke lantai bawah.
"Duduk di sini!" tunjuk Theo ke meja makan yang berada dekat ruang tengah.
Theo segera menyalakan layar tivi. Muncul acara hiburan sejenak. Lalu dengan sebuah keyboard yang dihubungkan ke layar tivi, maka semua tayangan cctv bisa terlihat.
"Ini semua cctv yang ada di tempat ini,"'ujar Theo.
"Baik, terima kasih," balas Alexei. Dia kemudian sibuk memberi perintah berdasarkan pantauan cctv.
Theo masih berdiri di situ dan memperhatikan keadaan di luar.
"Daripada kau mengawasiku, lebih baik kau periksa keadaan perusahaan!" saran Alexei.
"Ya Tuhan! Bagaimana aku bisa melupakannya!" Theo tersadar dengan kecerobohannya. Segera diangkatnya telepon.
"Ya?" jawab orang di sana.
"Bagaimana situasi di sana?" tanya Theo lagi.
"Sepertinya mereka tak menyerang ke sini," jawab suara di sana.
"Mereka sedang menyerang rumah ini!" ujar Theo.
__ADS_1
"Apa? Apa aku perlu ke sana?" tanya orang dari seberang.
"Tidak! Sudah ada bantuan di sini. Keamanan kantor kuserahkan padamu!" ujar Theo tegas.
"Langsung beritahu aku, jika ada perubahan!" imbuhnya lagi. Telepon dimatikan.
"Kantor aman!" ujar Theo pada Alexei.
"Bagus! Tapi aku seperti mendengar suara wanita di telepon." Alexei sedikit tak menduga kalau Theo akan meminta bantuan seorang wanita.
"Dia teman Tuan Oswald," jawab Theo singkat.
"Dan kau mempercayainya untuk menjaga kantor. Pasti dia seorang wanita yang hebat," puji Alexei.
"Seperti aku mempercayaimu untuk menjaga kediaman ini!" balas Theo. Alexei tak berkutik dengan pernyataan itu.
Theo berbalik dan naik lagi menuju ruang kerja, dimana Ariel sedang memandu Ammo untuk mencapai tempat yang aman. Kehadiran Harriet memperlambat pergerakan mereka. Dan itu makin membuat jantung Theo berdegup kencang karena khawatir.
*
*
"Di kiri depan ada yang bersembunyi! Berjalanlah melalui tiang info di kanan!" pandu Ariel.
"Apa kau sudah menemukan Nick?" tanya Ammo khawatir.
"Masih ada suara tembakan di belakang sana. Kemungkinan dia masih melakukan perlawanan!" duga Ariel.
"Jangan berasumsi! Cari keberadaannya!" bentak Ammo.
"Sawyer mengantar Kapten Smith menyusulmu!" lapor Ariel, tanpa mempedulikan kata kasar Ammo.
"Hemm!" Ammo berlari kecil sambil menggenggam tangan Harriet.
"Kenapa polisi di sini tidak ada yang datang sejak tadi? Bukankah suara tembakan itu keras?" tanya Harriet heran.
"Ini permainan. Kita mungkin dianggap berbahaya karena akhirnya mengetahui kebenaran tentang Carl!" jelas Ammo.
"Awas orang bersenjata di balik gedung di kanan itu!" teriak Ariel memperingatkan.
Ammo dengan cepat bersembunyi di balik tembok tanaman hias pinggir jalan.
"Ammo, apakah kau punya alat untuk terbang?" tanya Ariel hati-hati.
"Apa aku terjebak?" tanya Ammo.
"Oh tidak ... hotel kita tepat di seberang perempatan itu," desis Harriet.
"Bibi masih sanggup berlari?" tanya Ammo iba.
"Demi nyawaku, aku harus bisa!" tekadnya.
"Baik. Dengan hitunganku, kita harus bisa melewati tiap petak taman ini hingga perempatan lampu merah!"
Ammo melepas jasnya. Membalikkan bagian dalam keluar, memanjangkan bagian bawahnya, lalu memakaikan itu pada bibinya. Jas itu dipasang dengan rapi, lengkap dengan hoodie penutup kepala. Ammo memencet satu tombol yang ada di kerah baju. Harriet langsung tak terlihat.
Ammo juga mengaktifkan suit yang dikenakannya kemanapun. Sekarang tak ada satupun peluru bisa menembusnya.
"Jangan gugup, Bibi aman sekarang. Mari kita bergegas!" ujar Ammo.
"Mereka datang!" seru Ariel.
Ammo mengeluarkan pistolnya sekarang. Tak ada jalan lain. Dia harus membalas, agar bisa lolos dari tempat itu.
"Ayo!" serunya. Harriet kini berlari tanpa terlihat, di sebelah Ammo. Sementara Ammo membalas tembakan yang diarahkan padanya.
__ADS_1
********