
Kompleks kediaman mewah di tengah kota.
Ammo terbang menuju rumahnya dengan mengendalikan body parasutnya secara otomatis. Dia tinggal memilih poin tujuan, lalu merentangkan tangannya agar sayap parasutnya tetap terkembang. Mesin kecil di bawah sepatu mendorong tubuhnya terus maju.
Ammo terus meluncur mengarah ke atap rumah besar itu. Tujuannya adalah attic, ruang bawah atap.
Pintu attic terbuka tepat waktu. Ammo masuk dan pintu di belakangnya segera menutup, menjadi jendela bulat kecil seperti umumnya jendela kaca patri hiasan.
Theo, pelayan pribadi -yang telah mengikuti sejak kedua orang tua Ammo masih hidup- telah menunggu. Membantu Ammo melepas body parasutnya. Lalu mengikuti tuan mudanya turun ke ruangan bawah.
"Ada yang mengincar nyawaku, Theo. Menurutmu siapa kira-kira musuh kita kali ini?" Ammo bertanya sambil menuruni tangga rahasia.
"Bagaimana anda yakin ini urusan pribadi dan bukan pekerjaan?" Theo balik bertanya.
"Karena dia tau teman-teman masa kecilku. Dia memperalat Sanders. Mencuci otaknya hingga tak mengenaliku. Dia melakukan hal yang sama pada Ana, lalu memburunya. Menyandera George, dan membunuh Adriana."
Ammo mengambil botol air mineral di kulkas mini bar. Lalu meneguknya hingga habis.
"Terkait warisan tuan Oswald Senior, rasanya tak ada yang bisa menjatuhkan anda. Hak waris anda sangat jelas dan tak bisa diganggu gugat. Jadi saya rasa, ini adalah urusan pekerjaan anda." Theo mengutarakan pemikirannya.
Ammo memijit antara dua alis matanya. Dia masih belum bisa memikirkan siapa musuh yang sangat ingin dia mati.
"Saya akan siapkan makan malam sementara anda berendam," ujar Theo membujuk tuannya.
"Hemm ...."
__ADS_1
Ammo dengan patuh berjalan menuju ke kamar, diikuti Theo. Pelayan tua itu segera menyiapkan bak mandi untuk merilekskan pikiran tuan mudanya yang sedang kusut.
*
*
In the middle of nowhere.
Seorang gadis berpakaian serba hitam, berjalan melewati pohon demi pohon. Menggendong ansel besar di punggung, tali tas kecil menyilang di dadanya dan sebuah tas pinggang menambah bebannya. Tapi dia tak mengeluh. Dia terus berjalan menembus menembus kedalaman hutan lebat.
"Sebentar lagi kita sampai perbatasan, Maya," ujarnya sambil menoleh ke belakang.
Di belakang, sebuah tandu beroda dua, setengah rebah, bergantung pada seutas tali yang membelit pinggang Ana. Di atas tandu, seorang gadis merespon dengan senyum tipis. Ekspresinya berubah-ubah. Terkadang dia marah, lalu sedih, lalu haru, kemudian menangis tersedu-sedu.
Langit mulai kemerahan. Ana sebenarnya sedikit pesimis. Perbatasan itu masih cukup jauh. Dia harus berjalan semalaman untuk bisa melihatnya esok hari. Tapi kondisi Maya tak memungkinkannya untuk dipaksa berjalan terus.
Gelap mulai turun. Ana tak punya pilihan selain menghentikan langkahnya. Membawa tandu di dalam gelap beresiko besar. Dia melihat sekitar, mencari tempat untuk beristirahat. Ana tak menemukan apapun kecuali dua batang pohon patah yang jatuh bersisian.
Ana melepaskan tali yang mengikat tandu ke pinggangnya. Menurunkan ransel dan mencari sesuatu.
"Kau pegang ini."
Ana menyerahkan sebuah lampu elektric ke tangan Maya. Keadaan sekitar jadi sedikit lebih terang.
Ana melepaskan sebuah gulungan di bawah ransel. Di dekat sebatang pohon rindang, Ana membuka dan membentangkan gulungan. Sebuah tenda portabel siap dengan cepat.
__ADS_1
Tandu Maya segera dimasukkan ke dalam tenda. Ana mengambil bungkusan plastik dari kantong ransel. lalu menyerahkannya pada Maya.
"Kau harus makan sesuatu."
"Aku mau pasang parameter dulu."
Ana menutup pintu tenda dan mulai bekerja membuat parameter di sekitarnya. Jika ada yang melewati parameter, maka itu akan memicu alarm peringatan bagi Ana nantinya.
Ana merasa semua sisi sudah dipasanginya jebakan. Dia memeriksa sekitar dengan radar yang ada pada jam tangan Ammo. Tak ada apapun yang mencurigakan. Dia berbalik dan kembali ke tenda dimana Maya menunggu.
"Makananmu sudah habis?" tanyanya.
"Mn!"
Mendengar jawaban singkat Maya, alis Ana mengerut. Diperiksanya suhu tubuh gadis itu. Ana terkejut. Maya demam tinggi.
"Pasti ada yang salah dengan lukanya," pikir Ana.
Dibukanya rits tas pinggang. Diambilnya satu jarum suntik yang berisi obat penghilang rasa sakit. Dilihatnya, hanya tinggal satu lagi di dalam tas.
"Biar ku suntik dulu. Lalu beristirahatlah," ujar Ana.
Setelah menyuntikkan obat, Ana memeriksa luka Maya. Dia membersihkan dan mengganti semua perban. Maya tertidur tak lama kemudian.
Ana duduk dan menikmati roti lapis terakhir. Dia harus berjaga malam ini. Mereka jadi pelarian sekarang. Teman sudah menjadi lawan. Ana menggerakkan giginya marah. Entah bagaimana nasib anggota timnya yang lain. Dia cemas, tapi tak bisa berbuat apa-apa. The Hunters akan memburu siapapun yang dianggap melawan biro.
__ADS_1
******