Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
37. Intrik Kotor Spionase


__ADS_3

Sebuah helikopter mendarat di helipad gedung tinggi dan megah. Ammo turun dan berjalan gagah menuju pintu akses atap gedung itu. Pintu itu masih tertutup. Tapi Ammo masih terus berjalan santai.


Tiba-tiba pintu itu serbuka. Seorang pria gendut dan wanita bertampang jutek muncul dengan nafas terengah-engah. Keduanya berdiri rapi dan menunduk. Bersyukur datang sebelum bos besar menggedor pintu itu.


"Selamat datang, Tuan," kata keduanya serempak.


"Hemmm ...."


Ammo terus melangkah menuju lift yang terbuka lebar. Seorang penjaga berseragam hitam, sudah menyiapkan lift khusus untuknya.


"Bagaimana keadaan di camp pelatihan?"


Ammo berdiri di depan lift dan mendengarkan laporan penjaga itu.


Pria gendut dan wanita jutek itu tak berani mendekat. Itu adalah pembicaraa rahasia. Lebih aman jika mereka menjauh dan tak mendengar apapun.


Setelah Ammo masuk lift dan penjaga memberi isyarat, barulah kedua orang itu berlari mendekat dan ikut masuk lift.


Penjaga mengirim laporan kepada rekannya tentang kedatangan Ammo setelah pintu lift ditutup. Dia memeriksa dengan cermat seluruh lantai di menara itu. Kemudian berjaga bersama Sawyer, -pilot helicopter- yang menunggu tuannya kembali.


Ammo berkantor di gedung lain. Dia memutuskan semua link dengan biro dengan menutup akses masuk semua agen ke gedung perkantorannya. Semua staf dan penjaga di sana diliburkan dan telah dikirim ke camp pelatihan dadakan untuk waktu tak terbatas.


Pabrik peralatan teknologi tinggi dan lab risetnya juga ditutup. Seluruh pekerja dan penelitinya harus melewati proses screening lagi setelah adanya upaya pembunuhan terhadap Ammo.


Mereka semua dibawa ke tempat rahasia. Karena beberapa peralatan terindikasi dipasangi pelacak oleh orang dalam. Ana telah mengalami banyak kesulitan dibuatnya. Dan Adriana tewas karena terlacak turun dari kendaraan khusus mereka.

__ADS_1


Ammo dan beberapa orang kepercayaannya memeriksa ulang jadwal, kendaraan, ruang kantor dan gadget yang digunakan Ammo.


Hingga sore tiba, belum ada laporan berarti yang masuk dari camp pelatihan dan lokasi screening. Ammo merasa sangat geram. Dia menimbang-nimbang, apakah perlu menghubungi George atau tidak.


Harusnya George mengetahui sesuatu. Karena Dialah adalah penghubung Ammo dengan Biro pada awalnya. Jika bukan karena demi Ana dan kepercayaan pada George, Ammo tak mungkin merasa perlu melangkahkan kakinya ke dalam genangan darah dan intrik kotor spionase.


"Sawyer, bersiap!"


Ammo berdiri, meraih jasnya di kapstok lalu berjalan keluar ruangan. Dua orang penjaga khusus berdiri di samping pintu masuk. Mereka terkejut melihat Ammo berjalan keluar.


Sekretarisnya yang berwajah jutek segera berdiri dari kursinya dan mensejajari langkah Ammo yang sedang menuju lift.


"Tuan, dua hari lagi ada meeting dengan klien dari Belfast," lapornya.


"Tunda!" kata Ammo.


"Ada apa?" tanya Ammo setelah masuk dalam lift.


"Kita menjadwal ini sejak tahun lalu. Jika dibatalkan, kita tak punya kesempatan lagi untuk bekerjasama dengan mereka," jelas sekretarisnya itu.


"Kalau begitu, tinggal cari lokasi baru untuk rencana hotel kita. Mereka sendiri yang akan rugi jika jual mahal!" jawab Ammo ketus.


Sekretarisnya terpaku. Tak tau harus bagaimana. Tapi bos sudah pergi. Kata-katanya adalah perintah. Jadi wanita itu segera berlari lagi ke mejanya dan sibuk menelepon.


*

__ADS_1


*


Ammo keluar lift dan berjalan menuju helipad. Ponselnya bergetar di saku jas. Dilihatnya nomer yang masuk. Lalu memeriksa pesan.


MIMI TAK PUNYA RUMAH


Ammo tersentak kaget. Dia melupakan hal ini. Dengan segera membalas pesan itu.


BAWAKAN SANGKAR EMAS UNTUKNYA


Ammo menutup ponselnya dan naik ke helikopter.


"Pulang!" perintahnya pada Sawyer.


"Oke!"


"Apakah ada yang mengantarkan barang pesananku?" tanya Ammo.


"Ya. Itu di dalam dua kotak plastik di bawah tempat duduk!" jawab Sawyer.


Ammo mengangguk. "Terima kasih."


Helikopter itu segera terbang tinggi ke tempat tujuannya. Langit senja mulai menghiasi kota.


Pikiran Ammo sekarang sudah terbang ke kastilnya di tengah laut. Dia tak sabar untuk segera tiba di sana. Tapi dia harus mengecoh para penguntit dengan mengatur jadwal rutin antara rumah dan kantor-kantornya. Jangan sampai ada celah mereka menemukan Anna lewat dirinya.

__ADS_1


*******


__ADS_2