
Ana pulang bersama Alexei pagi itu. Mobilnya yang di kantor telah diantarkan ke rumah Ammo. Sementara motor Alexei dibawa pulang oleh seorang pengawalnya.
Ana memutari lingkungan rumahnya hingga melewati kebun bunga matahari. Tak ada yang mencurigakan. Ditunjukkannya pada Alexei, rumah di mana bawahannya tewas dibunuh. Sayangnya dia tak mengikuti kata hati, hingga terlambat bertindak. Ana berjanji takkan melakukan kesalahan yang sama lagi.
Mereka masih berputar ke arah bawah lagi.
"Rumahmu sebenarnya di mana? Kurasa kita hanya berputar-putar saja sejak tadi!" komentar Alexei.
Pria itu dapat melihat pohon Oak yang sebelumnya berada di pinggir jalan dekat kebun bunga matahari, kini berada di atas tebing yang dikuatkan dengan dinding batu-batu besar penahan longsor.
Ana hanya menarik sudut bibirnya sedikit. Kemudian dia berhenti dan melihat ke sekitar. Setelah merasa aman, dibukanya pintu rahasia di tebing batu itu, dengan remote control. Mobilnya segera meluncur masuk ke dalam lorong bawah tanah.
Alexei menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak mengira Ana punya jalan rahasia seperti itu. "Amazing," pujinya terkekeh kecil.
"Kita sampai," ujar Ana. Dia keluar mobil dan membuka pintu garasi basement. Alexei mengikutinya masuk rumah.
"Tak heran Ammo mengkhawatirkannya. Selama ini dia hidup dan berjuang keras sendiri," batin Alexei.
Diperhatikannya rumah mungil dengan perabot seperlunya. Satu sofa dengan side table, tepat di depan televisi. Pantry mungil dengan kitchen island yang dijadikan meja makan, serta kamar dan kamar mandi yang juga mungil.
"Apakah mereka membayarmu dengan murah?" tanya Alexei.
Ana tak menduga pertanyaan itu. Diikutinya pandangan Alexei, untuk mencari tahu sebab munculnya pemikiran seperti itu. Kemudian dia tersenyum sendiri.
"Untuk pekerja sepertiku, aku harus punya beberapa properti pribadi yang bisa kujadikan save house saat bertugas!" jelas Ana.
"Jadi itu sebabnya kau mengisi tempat ini seadanya!" Alexei kini mengerti jalan pikiran Ana.
"Kau cerdas!" pujinya lagi.
"Jika haus atau lapar, paman bisa ambil makanan di kulkas dan menghangatkannya di microwave! Aku mau berdandan dulu," ujarnya lalu menghilang ke dalam kamar.
Wlexei mengambil minuman dan duduk di sofa. Dinyalakannya televisi dan mencari berita-berita menarik.
Dikeluarkannya ponsel dari saku dan menghubungi seseorang. Alexei menunggu sejenak hingga akhirnya, panggilannya diterima.
"Yuri, aku akan pulang beberapa hari lagi. Apa yang kau inginkan?" tanyanya.
"Tak usah terlalu repot. Kau bisa pulang saja, sudah bagus!" sahut orang di seberang.
"Baiklah. Tapi aku sudah punya hadiah menarik untukmu!" Alexei terkekeh sendiri.
"Baiklah. Kutunggu kejutannya!" balas orang di seberang sana.
__ADS_1
"Ana, apa kau tidur? Tidak ada hal yang menarik di televisi!" ujar Alexei.
"Sebentar!" sahut Ana dari kamar.
"Kau mau pergi ke mana, hingga harus berdandan?" tanya Alexei lagi.
"Apa kau mau kubuatkan sesuatu?" Alexei membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa bahan makanan yang ada. Perutnya sudah mulai lapar sekarang. Lebih baik memasak sedikit, sambil menunggu Ana berdandan. Entah akan pergi ke mana mereka nanti.
Lima belas menit kemudian.
Alexei masih sibuk mengaduk saus di panci. "Ana, spagetinya sudah matang!" teriaknya memanggil.
"Ya ... aku datang!"
Ana muncul dengan menakai topengnya. Dia berdiri di depan meja makan. Sementara Alexei masih memunggunginya.
"Paman! Berikan penilaianmu!" panggilnya tak sabar.
"Sebentar. Apakah kau...."
Alexei tak meneruskan kata-katanya. Dia terpaku melihat seorang wanita paruh baya, yang tiba-tiba berdiri di depannya.
"Melihatmu terbengong begitu, artinya penyamaran ini sempurna!" simpul Ana senang.
Alexei memiringkan kepalanya sejenak. Membuang rasa terkejut yang sempat menghinggapinya. Dia berbalik kembali ke arah kompor.
"Aahhh ... jadi gosong deh!" ujarnya kesal.
"Benarkah? Apakah benar-benar tak bisa dimakan lagi?" Ana sedikit kecewa.
"Masih bisa dimakan!"
Alexei menghidangkan dua piring spagetinya dengan saus yang sedikit lebih coklat dari seharusnya.
"Yah ... kalau lapar, apapun bisa dimakan!" ujar Ana tersenyum. Hidangan itu tidaklah terlalu buruk.
Ana menyendok spagetinya ke mulut. Seketika matanya terpejam. Dia sangat menikmati sensasi sausnya. "Ini lezat sekali!" ujarnya senang. Dengan cepat disendoknya lagi, dan lagi.
Alexei tersenyum senang melihat gadis itu menyukai masakannya.
"Saus itu, resep keluarga kita. Jika ibu masih ada, dia akan senang memasakkanmu apapun yang kau mau."
Alexei merasa sendu. Dia merasa menyesal, karena tidak dapat memenuhi harapan ayah dan ibunya sebelum keduanya meninggal.
__ADS_1
"Jangan bersedih. Setelah aku membereskan beberapa hal di sini, kita bisa mengunjungi makam kakek dan nenek!" janji Ana.
Alexei mengangguk. "Aku barusan menelepon Yuri dan berkata akan berkunjung dengan sebuah kejutan," ujar Alexei.
Ana mengangkat pandangannya dari piring. "Yuri adalah...?
"Yuri adalah pamanmu. Adikku yang paling kecil. Sekarang dia mengambil alih pertanian. Dia sangat cocok di bidang itu!" kata Alexei bangga.
"Oke. Aku sekarang punya dua paman." Ana mengangguk-angguk.
"Kita akan menemuinya. Aku tak sabar, ingin melihat tempat di mana ibuku dibesarkan!" sambutnya antusias.
"Bagus!" Alexei bersorak senang. "Tapi, apakah kau tetap harus berdandan seperti ini, meskipun di rumah?" tanyanya heran.
"Beberapa hari belakangan, polisi kerap datang ke sini. Menanyai dan meminta keterangan terkait orang-orang yang tewas di dua rumah sebelah itu!" sahut Ana.
"Oh, jadi itu sebabnya. Sungguh merepotkan! Lebih baik kau tinggal di pertanian untuk sementara waktu!" saran Alexei.
"Aku mungkin akan jadi malapetaka bagi Paman Yuri, jika bertemu dengannya. Dia orang awam yang tak tahu cara membela diri!" Ana mengutarakan kekhawatirannya.
Alexei ikut terdiam. Kata-kata Ana ada benarnya. Berbeda dengan dirinya yang mantan tentara, adiknya Yuri adalah pria biasa. Setelah menyelesaikan studi pertanian, dia yang akhirnya membantu orang tuanya mengelola tanah itu.
"Kau benar. Lebih baik kita tunda pertemuan dengannya. Karena dia punya keluarga yang juga harus kita jaga!" imbuhnya.
"Itulah yang kupikirkan selama ini. Aku tak ingin dekat dengan siapapun, untuk menjaga keselamatan mereka," sambung Ana.
"Baiklah. Jadi, apa rencanamu saat ini? Kita bisa lakukan itu dulu. Aku akan mendukungmu!" ujar Alexei. Diangkatnya piring-piring kotor ke sink, dan langsung mencuci dan merapikan pantry kecil itu.
Ana memperhatikan. "Apakah kebiasaanku langsung mencuci piring setelah makan, juga diturunkan oleh keluarga ini?" pikirnya heran.
Ana mengambil laptop di atas lemari pantry. Dibawanya alat itu ke meja makan, dan mulai memeriksa cctv rumah, selama dia pergi. Setiap hari, beberapa kali mobil polisi patroli di lingkungan. Membuat para penjagat mengurungkan niatnya mengganggu Ana.
"Tak ada gangguan di sini. Dan program di laptop ini tidak begitu komplit. Kurasa, aku harus kembali ke rumahku, untuk meneriksa tentang Bobby," ujarnya.
"Baik. Mari kita pergi!" Alexei sudah siap.
Ana mengangguk. Disimpannya kembali laptop di tempatnya. Memasang pelindung rumah, lalu pergi ke garasi. Alexei hanya memperhatikan hal-hal yang tak terpikir olehnya, tapi telah dibuat Ana.
"Dia sangat waspada dan memiliki perlindungan diri yang memadai." Alexei merasa sedikit lega di hatinya.
Sore itu, keduanya meluncur lagi ke arah kota. Ke rumah mungil Ana yang lainnya.
*******
__ADS_1