
Setelah kembalinya Ammo, Ana mengundang rapat pada Pertemuan Uulzat. Pertemuan tertinggi yang dihadiri oleh para Tetua, Penasehat dan semua unsur penunjang klan. Agenda rapatnya adalah tentang pengangkatan Wakil Ketua Klan.
Dan seperti yang telah diprediksi oleh pamannya. Menawarkan ide baru sama sekali tak mudah pada orang-orang tua kolot generasi lama.
Setelah pembahasan dan bantahan berjam-jam tanpa menghasilkan apapun, Ana merasa sudah waktunya untuk memberikan argumen terakhir.
"Aku bukannya ingin menyamakan bahwa klan kita sama dengan sebuah negara. Tapi tak ada salahnyaa mengambil sistem yang baik dari tempat lain, untuk kita terapkan di sini. Kita harus bersedia menerima perubahan jaman, untuk lebih memajukan klan dan lebih dari itu, membuat posisinya stabil tanpa goncangan berarti!" ujarnya membuka argumennya.
"Coba lihat negara Slovstadt. Karena didera berbagai hal di dalam pemerintahannya, mereka akhirnya harus memanggil salah satu anggota klan kita sebagai pejabat sementara negara mereka, agar pemerintahan dapat terus berjalan dengan stabil dan aman!" Ana memberi contoh.
"Bagaimana jika keadaan lima puluh tahun yang lalu terjadi lagi di klan ini? Jika tiba-tiba terjadi hal tak terduga pada Pemimpin Klan, apapun sebabnya, maka ada seorang wakil yang dapat segera mengambil alih tugas dan membawa anggota klan lainnya keluar dari keadaan genting. Setelah semua tenang, maka para tetua, penasehat dan unsur lainnya dapat memilih dan mengangkat Pemimpin Klan yang baru dengan cermat dan tenang."
Ana melihat keliling ruangan pertemuan Uulzat. "Menurut kalian semua, bukankah tak ada ruginya bagi kita untuk memiliki seorang Wakil Pemimpin Klan sebagai asuransi kelangsungan klan kita yang besar ini?"
Ruangan pertemuan kembali riuh. Beberapa mulai terbuka pikirannya, beberapa yang lain masih tetap mempertahankan pendapat dan ketentuan lama.
Ana menggeleng muram. Kemudian mengangkat tangannya untuk menenangkan semua orang agar mendengarkan dirinya bicara.
"Ada hal lain lagi yang ingin kusampaikan selain usulan Pengangkatan Wakil Pemimpin Klan!" katanya dengan nada suara lebih tinggi, untuk mengatasi suara-suara dengung yang masih memenuhi ruangan.
Semua orang langsung diam dan memperhatikan apa lagi yang ingin dikatakan oleh gadis muda itu.
"Aku akan segera menikah!" ujarnya singkat. Matanya melihat ke seluruh ruangan yang tiba-tiba hening.
__ADS_1
Seorang tetua mengangkat tangannya meminta ijin bicara. Ana mengangguk mempersilakan pria tua itu bicara.
"Kalau boleh kami tahu, dengan pria mana?" tanyanya setelah berdiri dari kursinya.
Ana mengangguk. Pria tua itu kembali duduk untuk mendengarkan jawaban gadis itu.
"Tanpa dimintapun, saya tetap akan mengatakannya. "Dia salah seorang anggota klan kita juga," sahut Ana sambil tersenyum, menenangkan orang-orang yang gelisah.
Ruangan kembali berdengung. Tapi kali ini Anastasia bisa melihat kelegaan di wajah-wajah mereka. Dia pun tersenyum lega juga.
Seseorang kembali mengangkat tangan untuk ijin bertanya. Ana kembali mempersilakannya.
Orang itu berdiri dari duduknya. "Saya adalah petugas di bagian publikasi dan media. Berita bahagia ini harus segera disampaikan pada anggota klan lainnya. Jadi, bisakah anda memberi tahukan siapa pria yang beruntung itu?" tanyanya dengan ekspresi tak sabar.
Ruangan itu awalnya hening, sepertinya nama itu memberi efek kejut tak terduga bagi mereka. Tapi kemudian, kembali riuh dengan dengungan suara aneka rupa. Ada yang berjingkrak kegirangan, ada pula yang menjadi murung. Entah apa sebabnya, tapi Ana tak ingin tahu juga tak peduli.
Saat pertemuan Uulzat selesai, seketika berita bahagia itu disiarkan kepada seluruh anggota klan. Baik yang berada di puncak gunung, maupun yang menetap di kaki gunung, melalui siaran media mereka.
Saat Ana dan keluarganya tiba kembali di kediaman, tak disangka beberapa kembang api melesat ke langit klan dan menghiasi indahnya langit malam. Ana tersenyum melihatnya.
"Andai kau melihatnya, Ammo. Mereka bersuka cita mendengar rencana pernikahan kita," gumamnya bahagia.
"Mereka senang mendengar kabar pernikahanmu!" kata Nathalie yang juga berdiri di teras kediaman dan ikut memandang ke langit.
__ADS_1
"Terutama, karena ternyata kau menikahi salah seorang anggota klan juga. Itu sebuah berkah yang luar biasa bagi klan. Karena, garis keturunan pemimpin klan akan tetap terjaga kemurniannya!" jelas pamannya yang juga berdiri tak jauh dari kedua gadis itu.
Ana menoleh pada paman dan ayahnya. "Tapi di ruangan Uulzat aku lihat ada juga yang bermuka masam setelah mendengar siapa yang menjadi calon suamiku!" kata Ana sedikit heran.
"Aku juga mengamati hal itu!" angguk ayahnya. Tapi pria itu tak mengatakan apapun. Diliriknya adiknya yang berdiri di samping. "Apa kau juga mengamatinya?" tanyanya.
"Ya. Aku juga melihatnya. Beberapa orang itu punya putra yang mungkin ingin mereka jodohkan dengan Ana. Tapi sayangnya, keduluan oleh Ammo!" pria itu tertawa kecil.
"Oh ... itu sebabnya," Ana kini mengetahui persoalannya.
"Tak usah terlalu kau pikirkan. Mereka tak bisa berbuat apapun, karena kau sudah menyetujui pernikahanmu. Dan kau bukanlah wanita lemah yang bisa mereka setir seperti yang mereka kira!" tambah pamannya lagi.
"Terima kasih untuk dukungannya, Paman Taban," ucap Ana tulus. Pamannya menepuk pundaknya hangat dan tersenyum. "Itulah fungsi keluarga," jawab pamannya.
"Oh ya ayah, kapan kau akan memanggil adik lelakiku kembali ke klan?" tanya Ana. Aku ingin dia mengenal klan ini lebih dekat, dan mengangkatnya jadi wakil pemimpin, jika dia memenuhi persyaratan!" Ana melontarkan idenya.
"Aku akan menghubunginya. Ibunya adalah wanita yang sangata keras kepala. Tak mudah membuat dia mau merubah keputusan yang sudah dibuatnya. Tapi aku akan jadikan alasan pernikahanmu untuk memaksanya datang dan menemani kakak perempuannya menikah!" seulas senyum licik terpampang di wajah ayahnya.
"Kenapa aku jadi merasa takut melihat senyum ayah?" goda Nathalie usil.
Keluarga itu tertawa berderai. Sedikit ketegangan akhirnya luruh disapu celetukan polos gadis itu.
******
__ADS_1