
Di halaman.
Gan melihat hal ganjil tak lama setelah Khouk menghilang di dalam gedung. Dia menghubungi Ana untuk memperingatkan gadis itu, namun tak bisa.
Hal pertama yang dilakukannya adalah melaporkan hal itu pada Ammo.
"Hubungan radio kami terputus," lapor Gan.
Ammo juga mencoba menghubungi Ana, tapi tak berhasil. "Berhati-hatilah di situ. Aku akan memulihkan sinyal komunikasi kita!" perintah Ammo.
Sekarang Gan ditemani beberapa mobil lain di halaman. Itu kendaraan khusus yang disiapkan oleh Ammo untuk para anggota klan, agar bisa melindungi mereka lebih maksimal. Di pinggir jalan juga berkumpul beberapa mobil lain yang siap membantu Gan.
Tidak butuh waktu lama, kecurigaan Gan terbukti. Beberapa orang keluar ke halaman dan berlindung di balik pilar-pilar tinggi bagian depan gedung itu. Kemudian mulai menembaki Gan dan semua mobil yang ada di situ. Gan juga membalas tembakan. Komando Gan diikuti oleh anggota klan lain.
"Tuan, Pemimpin pasti terjebak di dalam gedung sana! Aku akan menerobos barikade mereka dan menyelamatkan pemimpin!" ujar Gan pada Ammo.
"Kau atasi dulu yang di depan matamu! Jika kau bisa menghabisi mereka semua, maka kau bisa mulai memikirkan dia!" tegas Ammo.
"Tapi---"
"Jangan mulai membantah!" nada suara Ammo meninggi.
"Baik, Tuan!" Gan memutuskan komunikasi mereka.
"Habisi orang-orang ini, lalu kita selamatkan Pemimpin dari jebakan!" perintah Gan pada yang lainnya.
Pertarungan di halaman itu terdengar sengit. Suara tembakan sahut menyahut. Gan merasa, pihak biro memaksa mereka untuk memuntahkan semua peluru yang mereka bawa. Dengan gedung sebesar itu, pastilah mereka punya senjata dan peluru tanpa batas. Artinya dia tak bisa berlama-lama bermain kembang api seperti ini.
"Lakukan sesuatu!" ujar yang lain tak sabar.
Tapi Gan tak bisa sembarangan menembaki gedung di depannya dengan senjata khusus atau senjata berat. Jika gedung itu kollaps, maka Ana dan Khouk juga bisa jadi korban.
Dengan ragu, Gan menekan tombol bertanda aliran listrik. Moncong senjatanya keluar. "Maafkan aku, Pemimpin," bisik Gan sambil menekan dan meluncurkan senjata listriknya ke arah gedung itu.
Beberapa orang yang sedang berlarian disambar peluru dengan tenaga listrik. Aliran setruman merambat mulai dari depan gedung, merambat hingga ke lantai teratas. Beberapa orang yang menembaki dari jendela, bahkan jatuh dari lantai atas dan terhempas ke jalanan aspal.
Gan megira serangaan itu berhasil melumpuhkan semua orang di dalam. Tapi setelah lima menit berlalu, tembakan kembali terdengar. Kali ini anggota klan membalas dengan serangan senjata otomatis. Beberapa orang kembali menjadikan pilar-pilar sebagai pelindung. Adu tembakan kembali terdengar.
__ADS_1
Gan memeriksa tombol yang ada di dash board. Dia menemukan tombol dengan gambar air memercik. Tanpa peduli, ditekannya tombol itu. Seketika air terlontar ke arah depan gedung. Tidak cukup banyak dan tidak cukup kuat untuk bisa mendorong orang seperti water canon. Lalu apa itu?
Tapi Gan heran melihat beberapa orang yang basah berlarian menghindar, bahkan tak mempedulikan senjata yang tergeletak. "Itu bensin!" sorak Gan.
Kali ini dia harus berhati-hati. Salah langkah maka dia akan mengubur Ana dan Khouk di dalam gedung.
"Tuan, aku tak sengaja melontarkan bensin ke depan gedung itu. Akan berbahaya kalau tempat itu kembali dihujani dengan peluru!" lapor Gan.
"Coba kau hubungi Ana!" perintah Ammo.
"Baik!" jawab Gan.
"Pemimpin! Pemimpin! Apa anda mendengar saya?" tanya Gan.
"Ya! Bagaimana kalian di luar?" tanya Ana. Gan mendengar suara tembakan tak terputus dari tempat Ana.
"Kami bisa mengatasi di luar sini. Apa anda butuh bantuan?" tanya Gan lagi.
"Tak perlu! Asal kau bisa bertahan di sana, itu sudah bagus!" sahut Ana.
"Anda di mana?" tanya Gan tak puas.
"Khouk, kau ke sana!"
Gan mendengar teriakan Ana. Kemudian suara tembakan saling berbalas.
"Apakah tak ada pertempuran di luar sana? Bagus sekli! Berarti mereka hanya mengejarku," ujar Ana.
"Tadi kami juga saling menembak. Sampai tanpa sengaja saya menembakkan bensin ke depan gedung itu. Mereka berlarian masuk ke dalam. Tampaknya kami sedang gencatan senjata saat ini!" simpul Gan.
"Hati-hatilah!" ujar Ana.
"Bagaimana kalau saya menyusul masuk dengan beberapa orang dan memecah konsentrasi mereka?" saran Gan.
"Mereka pasukan terlatih. Sementara kalian tidak. Setidaknya tidak semuanya terlatih. Ini bisa berbahaya!" cegah Ana.
"Keadaan anda berbahaya. Dan mereka telah memaksa untuk menguras peluru kita. Artinya mereka punya banyak peluru di gedung ini. Sementara persediaan kita terbatas. Anda akan segera terdesak!" Gan menyimpulkan.
__ADS_1
"Bawa yang terbaik dan jaga kendaraan kita tetap standby dan aman!" ujar Ana memperingatkan.
"Baik!" sahut Gan.
Gan memanggil dua orang lain untuk masuk gedung bersamanya dan seorang mekanik lain untuk mengendalikan kendaraannya.
"Aktifkan suit pelindung!" perintah Gan. Bawa senjata secukupnya!"
"Siap!"
Gan bergerak cepat mendekati pilar di depan gedung. Dua orang di belakangnya segera mengikuti. Ketiganya berlindung di balik pilar yang basar. Bau bensin yang tajam menerpa hidung mereka.
"Jangan menembak! Atau kita akan langsung terkurung api!" Gan memperingatkan.
'Heran, ke mana perginya orang-orang tadi?" ujar salah seorang anggota klan.
"Pakaian mereka basah kuyup. Mungkin sedang berganti pakaian, agar tak jadi kelinci panggang!" sahut yang lain.
"Sssttt! Seriuslah sedikit. Kita harus menyelamatkan Pemimpin yang sekarang terjebak di basement dan ditembaki. Mereka pasti tak bisa keluar saat ini." Gan menghentikan candaan orang-orang itu.
"Ikuti aku, dan jaga kepala masing-masing!" Gan masuk dengan cepat ke dalam gedung yang sepi.
Bagian depan itu porak-poranda. Sebelumnya telah diterjang oleh rudal mini oleh Ana serta menghancurkan bagian tengah bangunan yang terbuka luas. Kemudian disiram Gan dengan bensin. Tempat itu sedikit basah dan licin sekarang, serta sangata berbahaya.
Gadis itu menyelinap dan dengan cepat mengarah ke tempat tanda exit yang sebentar tadi telah dilihatnya. Baru saja mereka melewati satu belokan, sebuah tembakan telah menyambut.
Gan segera menepi dan mencari tempat berlindung di antara loket pemeriksaan. Rentetan peluru terhambur begitu saja. Seakan tidak khawatir jika itu dapat menyulut api yang akan segera menyambar gedung kantor itu.
"Sialan! Mereka menembak bergantian dengan senapan mesin!" umpat yang lain. Mereka bertiga berlindung di tempat kecil yang sama. Akhirnya menjadi sasaran tembak yang mudah.
Gan meraih granat dari saku jaket dan melemparkannya ke arah orang yang menembak. Ledakan keras terdengar tak lama kemudian. Gan segera berlari mendekat dan mencari tempat perlindungan baru.
Gan menembaki ke arah orang-orang tadi berada, untuk melindungi rekannya yang sedang lari mendekat.
Tak terdengar lagi suara tembakan yang mengarah pada mereka. Tapi sayup-sayup terdengar tembakan di arah yang lebih jauh.
"Itu pasti Pemimpin!" ujarnya. "Lindungi aku!" Gan berlari ke arah suara keributan yang terdengar, di bawah perlindungan dua temannya.
__ADS_1
*******