
Ammo punya banyak waktu di kapal selam ini. Bagaimanapun, dia akan mengawalnya hingga tiba di tempat tujuan. Dia harus bertemu dengan orang-orangnya yang lain, di sana. Ammo merasa sudah tak dapat lagi menahan diri dari teror yang dilakukan pihak-pihak yang belum diketahuinya itu.
Setelah beristirahat dan menikmati hidangan yang diantar ke kamarnya, Ammo mengajak petugas untuk mengantarnya ke klinik dan menemui orang-orang yang terluka.
"Bos tiba!" teriak petugas itu di pintu klinik.
"Jangan begitu. Biarkan mereka istirahat," tegur Ammo. Dia tak terlalu suka perlakuan istimewa yang tidak pada tempatnya.
Tetapi, ternyata orang-orang di klinik itu semuanya turun dan berdiri di samping ranjang.
"Selamat datang, Bos. Senang melihat Anda tak kurang suatu apa!" sapa Sawyer.
Ammo tersenyum.
"Terima kasih sudah menyelamatkan kami, Bos!" ujar Nick haru.
Dari pembicaraan para perawat tadi, Nick dan Sawyer akhirnya tahu, bahwa yang menyelamatkan mereka berdua adalah Ammo. Dengan baju khususnya, Ammo membawa mereka berenang dari kapal selam kecil hingga pintu masuk dermaga. Barulah setelah itu ditangani oleh paramedis.
"Aku yang berterima kasih, karena kalian telah melindungiku selama ini." Ammo menepuk pundak Nick.
"Beristirahatlah. Jangan berdiri seperti itu. Semakin cepat kalian pulih, semakin baik!" ujar Ammo.
Ammo mendekati dokter yang merawat para pasien di situ.
"Bagaimana kondisi mereka? Adakah yang butuh oerhatian khusus?" tanya Ammo serius.
"Tidak ada yang serius, Bos. Para petugas tidak sampai kehabisan oksigen, karena kapal selam segera bisa diambil alih oleh pusat komando. Dan penyelamat datang tepat waktu untuk evakuasi serta pertolongan pertama."
Dokter itu menunjukkan data pemeriksaan tiap orang di komputernya. Ammo memeriksa dengan teliti. Kemudian mengangguk.
"Kerjasama tim yang bagus antara petugas evakuasi dan paramedis. Kalian layak mendapat bonus," puji Ammo.
"Kalian juga akan mendapat bonus!" ujar Ammo ke arah para petugas cedera yang kini duduk di tempat tidur.
"Horreee!" seru mereka dengan gembira. Tempat itu menjadi ramai.
"Kau, bawa aku ke tempat para petugas evakuasi itu!" perintah Ammo.
"Baik, Bos!"
Petugas itu berjalan mendahului keluar ruangan. Ammo mengikuti langkahnya. Mereka kini menuju lorong berwarna abu-abu..Di kanan kiri ada banyak pintu. Tampaknya itu adalah tempat para awak kapal selam mini.
Petugas itu membawa Ammo ke sebuah ruangan. Mengetuk pintunya, lalu segera membuka pintu setelah mendengar suara mempersilahkan dari dalam.
"Lapor! Bos ingin bertemu para petugas evakuasi!" ujarnya tegas.
"Bos?" ulangnya terkejut.
Komandan para awak kapal selam itu langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Bos!" ujarnya saat melihat Ammo berdiri di depan pintu.
__ADS_1
"Mari ke ruang istirahat mereka," ujarnya gugup.
"Tunjukkan jalannya," kata Ammo tenang, untuk meredakan kegugupan komandan itu.
"Bagaimana keadaan mereka? Apakah sudah diperiksa kesehatannya oleh dokter?" tanya Ammo penuh perhatian.
"Mereka baik-baik saja, Bos. Sekarang sedang beristirahat. Dokter telah memeriksa kesehatan mereka tadi," jawabnya cepat.
Tiga orang itu sampai di depan satu pintu. Dang komandan membuka pintu dan segera masuk.
"Komandan!" Terdengar seruan dari dalam.
Tapi komandan itu mengabaikannya. "Bos datang untuk menjenguk kalian!" jelasnya dengan penekanan suara.
Para petugas evakuasi itu segera mengerti. Sikap mereka langsung berubah dan berdiri tegap. Saat Ammo masuk, mereka segera menyambut.
"Selamat datang, Bos!" sapa mereka serempak.
Ammo mengangguk. "Duduk saja. Ini waktunya kalian istirahat setelah bekerja keras."
Ammo diam sebentar, memikirkan yang akan dikatakannya. "Tadi, aku sudah menjanjikan bonus untuk tim kalian, tim medis dan tim yang mengawalku sebelumnya."
Para petugas itu saling pandang tak percaya. "Bonus? Horreeeee ... terima kasih, Bos!"
Kegembiraan tampak di wajah-wajah mereka. Ammo senang melihat orang-orangnya bahagia. Dia berbalik dan tersenyum ke arah komandan yang sedang terbengong.
"Kerjamu bagus. Kau juga dapat bonus!" Ammo menepuk pundak komandan, kemudian keluar dari ruangan.
"Siap, Bos!" jawabnya cepat.
*
*
Ammo bekerja di ruangannya. Memberikan beberapa instruksi pada Theo untuk mengurus semua perusahaan saat dia pergi.
Memeriksa laporan tentang Sanders, Nathalie dan Oscar. Kemudian ada pula laporan tentang perkembangan George.
"Apakah kau George yang asli atau palsu?" gumam Ammo. "Bagaimana cara membuktikan dia George yang asli atau bukan?" pikirnya lagi.
"Ah, tes DNA. Aku harus menemukan orang tuanya. Di mana mereka tinggal sekarang?" Ammo mengetuk-ngetuk meja sambil berpikir. Itu kebiasaan yang terus dilakukannya tanpa sadar.
Ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dari seseorang yang ditugaskannya.
...MEREKA BEKERJA SAMA...
Lalu sebuah file disertakan. Ammo langsung mengunduh dan membukanya. Terlihat beberapa file berisi perjanjian kerja sama antara Alistair dengan Brooks. yang berakhir dengan kematian Brooks
Berikutnya, file kerja sama Alistair dengan Carl Corbett, yang masih berhubungan dengan Brooks sebagai perantara, tidak berjalan mulus dengan kematian Brooks.
Kemudian bergabung lagi Aaron Oswald dalam perjanjian itu.
__ADS_1
"Lalu di mana posisi Rosie?" Ammo berpikir keras. Tapi satu hal yang sudah pasti. Carl adalah otak utama pengkhianatan dalam keluarganya.
Ammo mengirim pesan balasan.
...AMANKAN CARL CORBETT DAN AARON OSWALD...
...CARI INFORMASI KETERKAITAN ROSIE DENGAN ALISTAIR...
"Aku tak bisa memaafkan pengkhianat Carl! Kalian mencoba menghancurkan keluarga, demi kepentingan sendiri!" desisnya geram.
*
*
Hari ke empat, pelayaran mengarungi bawah laut. Para petugas yang sebelumnya cedera, telah pulih kembali.
Perkembangan Ana juga menggembirakan. Dia sudah dapat mengingat kejadian-kejadian di masa kecilnya. Dia tahu punya saudari kembar yang saat ibunya terbunuh, sedang pergi bersama ayahnya. Sejak malam kejadian itu, dia tak pernah bertemu mereka lagi.
Ana sudah dapat mengingat masa-masa remajanya bersama Ammo, Sanders, George dan Adriana. Dia merasa bahagia dapat mengingat lagi semua hal yang pernah dilupakannya.
Tapi Ana masih belum dapat mengingat persis kejadian yang sebenarnya di tugas lapangannya yang terakhir.
Ammo memberinya waktu untuk beristirahat sejenak. Karena selana tiga hari ini, dia terus memaksa profesor Stone untuk membongkar ingatannya yang terpendam.
Ponselnya bergetar. Ammo mengangkat telepon. "Bos, kita sudah hampir mendekati posisi!" Terdengar suara kapten Lance di seberang sana.
"Aku datang!" balas Ammo.
Ammo bergegas pergi ke ruang komando kapten Lance. Dia duduk di kursi yang sejak tiga ini menjadi tempat khususnya. Ammo memperhatikan layar. Kapal selam ini memang telah mendekati titik kordinat.
Ammo membuka ponsel dan menelepon seseorang.
"Apakah persiapan sudah selesai?" tanya Ammo.
"Sudah, Bos! Kapan Kau tiba?" tanyanya tak sabar.
"Berapa lama kita samai ke titik itu?" tanya Ammo pada kapten Lance.
"Sekitar dua jam paling lama!" jawab kapten.
Ammo kembali berbicara pada ponselnya. Sekitar dua jam lagi, kami tiba," sahut Ammo.
"Baik, Bos! Dan semua anggota sudah berkumpul untuk menyambutmu! Hahahaha...."
Ammo menutup ponsel dan menggelengkan kepalanya. Tak menyangka jika orang itu akan nengumpulkan orang-orangnya yang lain.
"Tempat itu sudah dipersiapkan!" kata Ammo pada kapten Lance.
Kapten Lance merasa bangga. Ammo mampu mengatasi permasalahan bocornya posisi kapal lab dengan cepat. Ternyata masih ada bawahannya yang lain di tempat yang sejauh itu. Benar-benar tak terduga.
********
__ADS_1