
Sesi pertama Ana selesai. Stone langsung mengirimkan rekaman sesi itu pada Ammo beserta ulasan profesionalnya. Mereka akan melanjutkan sesi berikutnya besok.
Ammo menerima laporan itu setelah waktu makan malamnya. Keningnya mengernyit. Mereka memblokir sepenuhnya ingatan Ana tentang Ammo.
"Kenapa? Apa hal yang sangat berbahaya jika Ana mengingatku?" batinnya.
"Lalu bagaimana dengan Sanders? Rasanya Sanders telah dicuci otak sejak bergabung dengan tim medis Biro K. Jika tidak, mustahil Sanders tidak mengenali Ana saat pertama masuk. Lalu, kenapa dia harus menjalani proses yang sama lagi dengan Ana? Apakah karena itu dia jadi mengalami efek samping sekarang?"
Ammo memijit pangkal hidung diantara dua alisnya. Kepalanya sedikit pusing dengan semua kejadian dalam minggu ini. Hatinya merasa, bukan hanya satu pihak yang sedang mengintainya saat ini.
Dua orang anggota keluarga terekspos dalam waktu hampir bersamaan dengan berbagai peristiwa yang menimpa Ana. Ini bukanlah kasus random belaka.
"Theo, kabari semua pemegang saham Oswald untuk rapat darurat besok di tempat biasa. Pukul sembilan pagi tepat. Aku minta laporan bulan berjalan!" perintah Ammo lewat interkom.
"Ya, Tuan ...."
Suara Theo terdengar lirih, antara ada dan tiada.
"Bangun! Kerjakan dulu tugas itu. Baru tidur lagi!' perintah Ammo.
"Ya, Tuan!"
Mendengar jawaban keras dari ujung telepon sana, Ammo lalu mematikan interkomnya dengan puas.
Ammo pergi ke kamar mandi dan menyikat gigi. Dia ingin tidur sekarang. Wajah tampannya mengulas senyum jenaka.
__ADS_1
*
*
Pukul satu dini hari, terjadi kehebohan di seluruh kediaman keluarga Oswald. Mereka berteriak marah, mengumpat dan meracau untuk melampiaskan kejengkelan, setelah menerima telepon dari Theo.
"Tak bisakah dia memberitahu sejak pagi atau sore hari?"
"Apakah dia bocah yang kehilangan mainan? Lalu mengganggu semua orang?"
Theo menutup telepon sambil meringis. Tuannya selalu senang membuat orang-orang tua itu jantungan. Dan dia harus menebalkan telinga setiap kali mengirim pesan.
Theo menghitung daftar nama di genggamannya. Dia tersenyum puas. Semua nama di daftar sudah dikirimi bom waktu. Sekarang saatnya dia tidur dengan tenang.
*
*
Saat semua gadget disita, mereka protes keras. Tapi para petugas itu tak menggubris. Mereka yang ingin tetap memegang gadget masing-masing, dipersilakan untuk pulang.
Bahkan Paman Brenton Oswald, -Kakak tertua Ayah Ammo, tak berkutik dengan aturan baru ini. Dengan terpaksa dia melepaskan semua gadget yang dibawanya ke dalam box khusus. Dia hanya membawa kertas laporan konvensional di tangan kanannya. Wajahnya keruh dan muram. Dia terlihat sangat tidak senang.
Di ruang pertemuan, belum banyak yang berkumpul. Dari sepuluh pemegang saham keluarga, baru empat orang yang sudah duduk di tempatnya. Jam besar di dinding menunjukkan pukul 8:58 menit.
Entah siapa yang beruntung bisa tiba dalam dua menit, atau sebelum Ammo masuk ruangan. Orang yang menunggu di ruangan itu seperti serentak berpenyakit bisul di pantat. Duduk mereka tak ada yang tegak. Sebentar miring ke kiri, sebentar miring ke kanan, karena gugup.
__ADS_1
Belum lagi karena mereka baru mendengar bahwa Jake Oswald tewas kemarin siang, menyusul meledaknya kastil milik ayah Ammo.
Ruangan itu berdengung dengan obrolan dan gossip antara mereka.
"Apakah Jake ada kaitan dengan ledakan itu?"
"Aku dengar, mereka mengejar Ammo yang sedang bersama seorang wanita di sana,"
"Aku dengar, Tuan Brooks juga tewas di Millstown, Belfast. Dia ditemukan tewas tertembak oleh seorang pejalan kaki."
"Dari mana kau tau?" tanya yang lain.
"Ada beritanya di tivi!" Orang itu merasa bangga, karena dirinya memiliki satu berita kejutan untuk yang lain.
Tung ... tung...
Terdengar suara berat jam yang menunjukkan pukul sembilan tepat. Seisi ruangan berdiri dengan wajah tegang ketika handel pintu tempat Ammo masuk, bergerak ke bawah.
Dan, tepat saat pintu terbuka, ruangan pertemuan itu diserbu oleh empat lagi anggota pemegang saham, yang datang di menit-menit terakhir. Mereka berdiri tegang, dengan bintik keringat memenuhi dahi.
Ammo masuk dengan langkah khasnya yang menghentak kuat soal sepatunya di lantai. Setiap dia berjalan, itu seperti irama ketukan maut.
Ammo berdiri di depan kursinya dan menatap semua orang yang berdiri gugup di depannya. Ammo melihat satu orang tidak hadir pagi itu. Tapi dia tak membahasnya.
"Silakan duduk! Kita bisa mulai laporannya. Cepat selesai, maka kalian bisa cepat tidur lagi," sindir Ammo sinis.
__ADS_1
Para pemenang saham itu hanya bisa menahan geram. Tapi tak berani menentang Ammo terang-terangan. Mereka yakin, kematian Jake ada hubungannya dengan Ammo dan pertemuan ini.
*******