
Setelah melihat Ana selesai menonton video dan menyimpan usb, Ivan membisikkan sesuatu pada pengawalnya. Pengawalnya mengangguk dan mengambil tas yang ada di laci meja.
"Jika ayah memang memiliki tempat teraman, lebih baik kembali ke sana. Aku bisa jaga diri di sini. Bawa saja dia bersamamu!" tunjuk Ana pada Nathalie.
"Kau takkan menyesal jika mau ikut," bujuk Ivan pada Nathalie.
"Tidak!" tolak Nathalie.
"Berbeda dengan Ana, kau tak bisa membela diri jika tiba-tiba diserang mereka!" Ivan mengingatkan.
"Jadi, kalian menganggap aku beban?" tanya Nathalie dengan mata kecewa.
"Tidak ada yang menganggapmu beban. Menurut paman, tawaran ayahmu memang yang paling bagus sekarang ini. Menyelamatkan satu demi satu anggota keluarga yang bisa diselamatkan," jelas Alexei.
Nathalie masih cemberut dengan wajah bermusuhan pada Ana. Ana melengos tak peduli.
Pengawal menyerahkan sebuah kotak berwarna cokelat tua pada Ivan. Ada ukiran khas di seluruh permukaannya. "Kemarilah!" Ivan memanggil Nathalie.
Gadis itu mendekat. Ana memperhatikan kotak yang berada di tangan Ivan. Dilihatnya Nathalie sudah berada di ujung tempat tidur ayah mereka.
Ivan menekan tanda-tanda di setiap sisi kotak. Mata Ana melebar dan memperhatikan gerakan ayahnya dengan serius."Kotak itu menggunakan kode yang hanya diketahui Ivan. Kemudian bunyi klik mekanis terdengar. Bagian atas kotak, melonggar. Kuncinya telah terbuka.
"Barang berharga apa yang disimpannya sampai begitu hati-hati?" pikir Ana.
"Apa sih itu?" tanya Nathalie tak sabaran.
Ivan mengangkat kepalanya dan tersenyum pada gadis itu. Lalu matanya kembali melihat kotak di depannya. Tangannya mengambil sesuatu dari dalam sana.
"Sini!" Ivan meraih tangan Nathalie yang berdiri di dekatnya. Pengawal itu mengawasi dengan seksama, apa yang dilakukan tuannya.
Ivan menyelipkan sebuah cincin emas berukir, dengan mata emerald di jari halus Nathalie.
"Cantik sekali!" pujinya tulus. Nathalie terlihat sangat senang. Dia menjauhkan tangannya, untuk menilai. "Terima kasih, ayah." Dipeluknya Ivan dan mencium pipinya tanpa canggung.
Ana terkejut melihat reaksi Nathalie yang tiba-tiba berubah akrab. "Apakah harus memberinya hadiah dulu, baru juteknya hilang?" pikir Ana sambil tersenyum geli.
"Kenapa kau tersenyum?" tanya Alexei.
"Tidak ada. Dari pada meringis!" elak Ana.
Seorang petugas klinik masuk ruangan. "Nona Nathalie, kamar Anda sudah siap," ujarnya.
"Baiklah. Aku ke kamarku dulu. Nanti ke sini lagi." Nathalie melangkah ke pintu.
__ADS_1
"Bye Paman Alexei." Lambainya.
"Bye, Nathalie." Ana membalas sapaannya. Tapi Nathalie membalikkan wajah sambil memeletkan lidah, mengejek Ana.
Ivan terkekeh geli. "Aku ingat, dia selalu begitu padamu saat kecil," jelas Ivan.
"Benarkah? Berarti tanpa sadar, kebiasaan itu muncul dengan sendirinya. Kurasa, pengobatan yang dilakukan Dokter Sarah selama ini, ada hasilnya." Ana cukup puas dengan pekerjaan Dokter Sarah.
"Itu kabar bagus!" timpal Alexei. "Perlahan-lahan, nanti semua memorinya akan kembali." Alexei optimis.
"Andai saja aku tahu apa key word yg mengunci ingatannya. Itu mungkin akan lebih mudah. Seperti apa yang terjadi pada Sanders," urai Ana.
"Bagaimana dengan ingatanmu?" tanya Ivan.
"Sebagian besar, dan yang terpenting, sudah kuingat. Takdir mempertemukan kita. Dan cerita Ayah, mengembalikan kepingan-kepingan puzzle yang hilang."
"Yang paling ingin kuingat adalah tentang tugasku yang terakhir. Hal buruk apa yang kulakukan, hingga mereka memutuskan menghilangkan ingatanku dengan memberi memori baru." Mata Ana terpejam erat, hingga kedua alisnya mengerutdan tertaut.
"Jangan terlalu dipaksakan. Nanti juga akan kita ketahui apa yang terjadi sebenarnya!" Alexei melarang Ana terlalu memikirkan hal itu.
"Menurut ayah, kau tidak melakukan hal yang buruk, tetapi menyaksikan sesuatu yang seharusnya tak boleh terjadi. Kau pastilah saksi kunci dari kejahatan orang-orang berpengaruh!" duga Ivan.
Alexei dan Ana tersentak. "Kenapa aku tak berpikir sampai ke sana?" Alexei menggeleng.
"Adduuhh ...." Ana memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Kau kenapa? Perlu kupanggilkan dokter?" tanya Alexei cemas.
Ana menggeleng. Gadis itu berusaha menjernihkan pikirannya, agar rasa sakit itu berkurang. Itu sangat tidak mudah.
"Aku rasa ... ada dari ucapan Ayah tadi yang memicu ingatanku. Itu membuat kepalaku terasa sakit," keluh Ana.
"Apa!" seru keduanya.
Alexei menoleh pada Ivan. "Coba ulangi lagi yang kau katakan tadi," pinta Alexei.
"Kata-kata yang mana? Aku mengucapkan banyak kata hari ini. Rasanya, hari ini adalah hari pertama aku paling banyak bicara!" ungkap Ivan.
Alexei mencoba mengingat-ingat. "Kurasa kau tadi mengatakan dia adalah saksi kunci dari kejahatan orang yang berpengaruh!" ulang Alexei.
"Hah ... hah ... aduuhh ...." Ana mengerang. Kepalanya sangat sakit mendengar kata-kata Alexei.
"Kau menyakitinya!" bentak Ivan kesal pada Alexei.
__ADS_1
"Aku hanya ingin dia cepat mengingatnya. Jadi kita bisa mulai memberikan.serangan balasan!" kata Alexei kesal.
"Lupakan saja dendam itu, jika kebenaran hanya akan menyakiti kita!" kata Ivan ketus.
"Tidak! Aku harus mengingatnya. Dan membalaskan kematian orang-orang terdekatku!" ujar Ana masih sambil meringis.
Ivan menghembuskan napas panjang dengan ekspresi tak senang. Tapi jika putrinya ingin seperti itu, dia hanya bisa mendukungnya.
"Alexei, pasangkan cincin ini di jari Ana!" perintahnya.
Ana dan Alexei melihat ada satu cincin emas berukir yang hampir sama seperti punya Natalie. Cincin itu dipegang Ivan dengan tekanan jari yang kuat. Dia terlihat sangat berhati-hati dengan benda itu.
Alexei mengambil cincin di tangan Ivan. Memperhatikannya sejenak. Ada lambang mahkota dengan inisial K terukir pada permata merah tua. Jika tak diperhatikan, takkan ada yang mengetahui.
""Pasangkan ke jarinya!" desak Ivan.
"Oke ... oke. Aku juga tak menginginkan cincin ini!" kilahnya.
Alexei memakaikan cincin itu di jari kiri Ana. Terlihat tidak pas. "Ini terlalu longgar untuknya!" cela Alexei.
"Pasang di jempol kanannya!" saran Ivan.
Alexei mengikuti. Sekarang cincin itu sedikit lebih pas. Sedikit kendor, tetapi tidak akan sampai membuatnya lepas dan hilang begitu saja.
Ana memperhatikan detail cincinnya dengan teliti. "Ini lambang apa?" tanya Ana sambil mengangkat tangannya ke atas. Persis seperti tadi Nathalie menatap puas cincinnya dari jauh.
Namun senyum Ana mendadak lenyap ketika dilihatnya pengawal Ivan berlutut di lantai. "Saya bersedia mengabdi dan mengikuti Pemimpin Klan hingga akhir hayat!" ucapnya. "Hidup pemimpin baru!" tambahnya lagi.
"Apa?" Ana menoleh pada ayahnya dengan heran. Jelas dia sedang minta penjelasan.
"Suruh dia berdiri dulu," angguk Ivan.
"Berdirilah!" perintah Ana.
"Apakah Pemimpin bersedia menerima pengabdian saya?" tanyanya. Dia masih enggan berdiri, sebelum ada kepastian.
"Baiklah ... baiklah. Kau mendapat tugas untuk terus menjaga ayahku!" ujar Ana kehilangan akal.
"Terima kasih, Pemimpin." Pengawal itu kemudian berdiri dari sikap penghormatannya.
Alexei tersenyum melihat Ana yang mendengus kesal.
"Sekarang, ayah jelaskan padaku tentang arti cincin ini. Dan Klan apa yang dia maksud!" tuntut Ana.
__ADS_1
********