
Helikopter yang dibawa Sawyer mendarat di sebuah lapangan berumput yang tak terawat. Ammo turun. Seseorang sudah menunggu kedatangannya di depan satu-satunya bangunan di tempat itu.
"Tuan," sapa seorang gadis cantik berambut kemerahan.
"Kenapa kau masih di sini?" tanya Ammo heran.
"Aku tak punya rumah, Tuan. Dan karena ...."
"Apa kau mau bilang, aku menggajimu terlalu sedikit?" tanya Ammo pedas.
"Tidak, Tuan. Justru dengan uang gaji itu saya bisa mencicil utang keluarga saya," jawabnya sambil menunduk.
Ammo tertegun mendengarnya. Setelah menghela nafas, Ammo mengangguk ringan.
"Kau tunggu pengaturanku. Tinggallah di sini sampai mendapat pekerjaan."
"Ya, Tuan," jawab gadis itu senang.
Ammo melanjutkan langkah. Seorang pria sudah menunggunya di depan pintu masuk.
"Bagaimana dia?" tanya Ammo tanpa basa-basi.
"Masih kritis. Dia mendapat luka bakar enam puluh persen. Ditambah patah tulang akibat jatuh. Dan gegar otak ringan." seorang pria menjelaskan kondisi seorang pasien.
"Lalu apa yang mungkin terjadi?" tanya Ammo.
"Andaipun selamat, dia akan mengalami cacat fisik yang parah," jawab pria itu.
"Hemm."
Ammo mengangguk.
Mereka telah sampai di depan pintu sebuah ruang rawat. Dari jendela kaca, bisa dilihat kondisi pasien di dalam. Tapi Ammo tetap memeriksa ke dalam.
Di pinggir tempat tidur, dilihatnya pasien itu dengan tatapan dingin.
"Bagaimana bisa sampai begini George? Apa kesalahan Ana padamu? Apa salahku padamu?" ucapnya lirih.
"Apa kau sudah dibutakan oleh cemburu? Atau kedudukan dan kekuatan yang sudah menguasaimu?" Ada rasa sesal dari nada suara Ammo.
"Apa kau juga yang membunuh Adriana? Gadis yang telah jatuh cinta padamu sejak remaja. Lalu kau buru Ana, gadis yang kau bilang akan kau cintai hingga mati!"
"Aku terlalu bodoh hingga mempercayai semua omong kosongmu! Kau yang membuang persahabatan kita ke tempat sampah! Aku, akan selalu berdiri melawanmu jika kau terus mengusik hidup kami!"
Ammo berjalan ke arah pintu. Sebelum membuka pintu, Ammo berkata, "Aku tak mengharapkan kau tetap hidup. Tapi, jika kau bisa bertahan hidup, maka menjauhlah dari hidup kami. Kami akan menganggapmu tak pernah ada!"
Ammo membuka pintu dan berjalan keluar ruangan. Pria yang bersamanya tadi, masih duduk menunggu di depan ruangan.
"Devan, tolong tampung dulu Barbara di sini, sampai dia mendapat tugas lain."
"Tak masalah. Sebenarnya, di fasilitas ini, ada posisi yang bisa diisinya. Itu jika dia bersedia," sahut Devan.
__ADS_1
"Kau tanya Dia. Lalu laporkan hasilnya," perintah Ammo.
"Baik!"
Ammo berjalan langsung menuju helikopter di halaman. Sawyer membawanya pergi dari sana.
"Bagaimana tugas yang kuberikan?" tanya Ammo.
"Masih belum mendapatkan info berarti apapun, Tuan," jawab sawyer. Tapi saya juga sudah mengirim agen lain untuk memeriksa lebih teliti.
"Hemm. Bawa aku ke Club House!" perintah Ammo.
"Baik."
Helikopter itu mengubah arah tujuan dan terbang cepat ke arah tujuan.
Ammo bergegas turun dari atap gedung. Kemudian turun ke lantai tiga, dimana kantornya berada. Sekretarisnya terkejut melihatnya datang. Dia segera berdiri dari duduknya.
"Tuan, Anda tidak mengabari akan datang," sapa sekretarisnya ramah.
"Apa kau tak senang aku datang?" tanya Ammo telak. Ammo berjalan ke arah pintu.
Sekretaris itu terkejut sebentar, kemudian tertawa kecil. Dia berlari mendahului Ammo dan dengan cepat membuka kunci pintu ruangan itu.
Tak seorangpun boleh masuk ruang kerja Ammo saat dia tak ada. Bahkan sekretarisnya sampai membuat kunci khusus, agar tak da yang bisa menerobos masuk.
Sekretaris itu dengan cekatan menyalakan AC, membuka sedikit tirai jendela, agar ruangan terasa lebih nyaman. Kemudian dia berlari ke ruangannya dan membawa tablet yang berisi laporan.
Saat dia keluar pantry dan membaa baki, seorang pria agak tua, berpapasan dengannya.
"Kau minum kopi sekarang?" tanya pria itu.
"Tidak. Ini untuk tuan Ammo," jawab gadis itu dan berjalan cepat meninggalkan pria tua yang sedang terkejut itu.
"Aku akan ambil laporanku dulu!" pria itu berbalik pergi ke arah ruangannya di sayap yang lain.
Gadis itu tersenyum simpul. Dia terus berjalan menuju ruangan Ammo.
"Ikuti petunjuk di situ!" Ammo menyerahkan kembali tablet laporan sekretarisnya.
"Baik, Tuan." Gadis itu menerima tabletnya. "Ada perintah lain, Tuan?" tanyanya.
Ammo menggeleng. Gadis itu keluar dan menutup pintu ruangan.
Ammo menulis pesan di kertas, lalu melipatnya kecil-kecil. Kertas itu dimasukkan dalam sakunya.
Terdengar ketukan di pintu, Ammo mendongakkan kepala dan mengangguk. "Masuk!" ujarnya.
"Ya, Paman Barry ... apa ada masalah?" tanya Ammo menatap pria itu datar.
"Tidak. Tidak ada. Aku membawa laporanku, tak kusangka kau datang. Jadi, ini laporan sesuai permintaan dalam rapat kemarin." Barry Oswald menyerahkan tablet laporannya.
__ADS_1
"silahkan duduk." ujar Ammo. "Jika aku tak ada, Kau bisa serahkan laporanmu pada Megan."
Ammo tetap mengambil dan membuka laporan pria itu. Dia memeriksanya dengan teliti dan memberi beberapa catatan di atasnya.
Pria tua itu terlihat senang, karena kali ini Ammo tidak seseram saat rapat beberapa hari yang lalu. Dia telah mendengar beberapa gossip tentang apa yang dialami Jake serta Aaron tadi malam. Tapi tak ada yang berani terang-terangan menuding Ammo.
"Ini laporanmu, Paman Barry. Lakukan seperti yang kutulis dan jangan terbujuk rayuan yang lain untuk mengkhianatiku. Maka kau akan baik-baik saja." Ammo memperingatkan.
"Tentu, aku mengerti." Barry Oswald mengambil tabletnya dan berjalan keluar ruangan dengan hati yang cerah. Dia bahkan tak menyadari bahwa Megan memperhatikannya. Langkahnya ringan menuju ruangannya.
Ammo melangkah keluar ruangan dan menuju lift. Megan berdiri dari kursinya. Menunggu Ammo masuk lift baru duduk kembali.
Ammo turun di lantai kafetaria. Dia berjalan masuk. Beberapa staf terkejut melihatnya berada di situ. Segera menunduk dan buru-buru pergi.
Dengan langkah panjang, Ammo masuk ke bagian dapur. Semua koki dan staf dapur tersentak kaget. Tak menyangka bos besar turun sendiri memeriksa dapur karyawan.
Ammo memeriksa setiap makanan yang akan disajikan untuk makan siang nanti. Diambilnya sendok, dan mencicipi. Dia mengangguk puas dan tersenyum.
"Masakannya lezat. Pertahankan!" ujarnya dengan senyum di wajah. Semua staf merasa gembira dan lega hatinya.
"Kau," Ammo menyentuh seorang pria. " Bawakan aku makanan ini, ini dan ini. Aku makan di luar sana."
Ammo pergi dengan senyuman di wajahnya.
"Ya, Tuan," jawab pria itu gugup.
"Waahh ... tak kusangka Tuan Oswald akan makan di sini," ujar yang lain senang.
"Cepat bereskan pesanan Tuan, dan bawa ke sana!" seru yang lain heboh.
Pria yang ditunjuk Ammo, keluar membawa baki. Menyajikannya dengan sopan. Ammo tersenyum dan mengangguk.
"Terima kasih."
Pria itu kembali ke dapur. Wajahnya datar saja.
"Bagaimana? Apakah Tuan memakan masakan kita?" tanya yang lain penasaran.
"Aku tidak menungguinya!" jawab pria itu polos.
"Ah, kau ini."
Para staf lain mengintip dari meja servis dan mengambil foto Ammo yang sedang makan.
Grup pegawai kantor itu menjadi heboh ketika foto Ammo yang tampan, muncul di grup.
"Tampannyaaa ...."
Para staf wanita hanya bisa merasa iri pada staf dapur yang pekerjaannya mendapat apresiasi.
*****
__ADS_1