Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
157. Mengunjungi Eleanor Oswald


__ADS_3

Pukul lima sore, suara helikopter terdengar di atas rumah. Ana tersenyum di dalam kamarnya. Dia sudah mempersiapkan diri dengan pemanasan. Joging dua putaran di halaman belakang dengan Gan.


Setengah jam kemudian, pintu kamar Ana diketuk. Gan membukakan pintu. Ammo masuk sambil tersenyum lebar. Tapi kemudian terheran-heran melihat ada wanita asing di situ.


"Siapa dia?" tanya Ammo pada Ana.


"Dia Gan. Pengawal baru yang dipilih ayah untukku!" jawab Ana.


"Lalu, bagaimana dengan Khouk?" tanya Ammo.


"Dia kutugaskan untuk melatih anggota klan, bersama Paman Alexei," jawab Ana.


"Apa kita akan berangkat sekarang?" tanyanya tak sabar.


"Jika kau sangat tak sabar, maka kita berangkat sekarang," goda Ammo.


"Ya, aku sudah tak sabar," sahut Ana.


"Ayo, Gan. Kau harus tunjukkan kemampuanmu juga, di sana!" ujar Ana antusias. Gan mengangguk dan mengikuti langkah Ana keluar kamar.


"Aku yang mengajakmu pergi. Kenapa sekarang aku ditinggal?" protes Ammo. Dia menyusul dua gadis yang berjalan dengan semangat di depan.


Ketiganya menuruni tangga. Theo sudah menunggu di bawah tangga. "Panggil Ted, dan minta dia menyiapkan mobil!" perintah Ammo sambil menyerahkan sebuah ransel kecil.


"Baik, Tuan." Theo segera pergi ke luar rumah, mencari Ted.


"Aku tadi sudah minta Theo menyiapkan teh. Mari kita minum dulu, sementara Ted menyiapkan mobil," ajak Ammo.


Ana duduk. Ammo menuangkan teh ke cangkirnya. Mendorong piring cake ke hadapan gadis itu. Dia juga duduk dan menyeruput tehnya dengan nikmat. Sedikit makanan kecil di sore hari, cukup untuk mengganjal perut yang memang mulai lapar.


Theo kembali dan menunggu di kursi dekat dapur, siap menunggu perintah selanjutnya.


Beberapa waktu kemudian, Ted masuk ke rumah. Melihat Ammo masih minum teh, dia ikut menunggu bersama Theo. Namun, Ammo melihatnya.


"Apa kau sudah selesai?" tanya Ammo pada Ana.


"Yah." Gadis itu menganggukkan kepala. "Ayo!" ujarnya, kemudian berdiri.


Ammo ikut berdiri dan melangkah di sebelah gadis itu. Dia tak terlalu berharap hubungan romantis dengan Ana. Karena dia sangat tahu bahwa gadisnya adalah wanita kuat dan mandiri.


Mobil meluncur membelah jalanan petang. Lampu-lampu jalan berpendaran, menambah cantik suasana kota. Mobil itu diarahkan ke sebuah kompleks pertokoan. Dan tak lama berhenti tepat di depan tiga ruko dua lantai yang dijadikan satu.


Di bangunan tengah ada plang nama dari kayu yang ditulisi huruf Asia. "Dojo apa ini?" tanya Ana.


"Jiu jitsu!" jawab Ammo. Dia turun sambil membawa sebuah tas punggung.

__ADS_1


Ammo menggenggam tangan Ana dan mengajaknya masuk ke sana. Keduanya melewati dua pot bambu kecil yang ditata berjarak di ujung teras, sebelum mencapai pintu masuk. Ammo membukakan pintu untuk Ana, baru kemudian dia ikut masuk. Para pengawal Ana dan Ammo menyusul di belakang.


Ammo memberitahukan kedatangannya pada resepsionis. Siang tadi dia sudah mengatakan pada Eleanor bahwa dia akan datang ke sana sore hari.


"Mari saya antar," ujar reseptionis ramah.


"Tidak perlu. Beri tahu saja mereka ada di mana, biar kami susul," Ammo menolak dengan sopan.


"Nyonya ada di ruang latihan kedua, di lantai dua!" ujar resepsionis itu dengan cepat.


"Baiklah ... aku tahu jalannya. ""Terima kasih!" Ammo menggamit Anna untuk pergi.


Resepsionis itu melihat rombongan itu hingga menghilang di balik tangga, sebelum kembali duduk.


Belum lama pria muda itu duduk, data pengirim barang. Sangat banyak persiapan yang dilakukan pemilik dojo untuk menyambut tamu khusus ini. Sejak tadi dia berturut-turut menerima kiriman barang yang dengan segera dibereskan oleh koki oriental yang dipanggil khusus.


"Kau biasa ke sini?" tanya Ana yang melihat langkah Ammo tak ragu sedikitpun.


"Tidak. Rasanya sudah setahun aku tak ke sini!" jawab Ammo jujur.


Di sepan pintu sebuah ruangan, Ammo berhenti dan langsung membuka pintu. Di tengah ruangan, sekelompok anak muda sedang berlatih bersama, di bawah komando seorang wanita cantik.


"Hai, Peter!" sapa Ammo.


Seorang pria membalikkan badannya ke belakang dan berhegas menghampiri, dengan ekspresi senang.


"Hei, dia sudah menyiapkan kejutan untukmu. Jangan mengecewakannya!" Peter memperingatkan.


"Hahaha ... aku tak berani!" bisik Ammo sambil tersenyum lebar.


"Kau membawa anggotamu untuk berlatih di sini?" tanya Peter setelah melihat empat orang lain yang datang bersamanya.


"Oh ya, ini kekasihku, Ana!" Ammo memperkenalkan Ana.


"Benarkah?" Pria itu memandang Ana dengan takjub. "Kurasa kejutanmu melebihi yang sedang disiapkan Ellie!" komentarnya terkekeh.


"Hai Ana ... aku Peter, adik ipar Ammo! Kuharap kita bisa segera jadi keluarga!" ujar pria itu memperkenalkan diri.


Ana sedikit terkejut. Dia tak ingat kalau Ammo punya adik perempuan. "Terima kasih, Peter!" Ana hanya menunjukkan senyum tipis.


"Lalu mereka siapa?" tanya Peter.


"Pengawalku dan pengawal Ana," sahut Ammo.


"Kalian boleh berlatih tanding dengan murid-murid kami, jika mau!" Peter menawarkan dengan ramah.

__ADS_1


"Mereka hampir selesai. Aku berganti pakaian dulu!" ujar Ammo.


"Oke!" Angguk Peter.


"Apa kau mau berganti dengan pakaian seperti itu? Aku membawa yang ukuran kecil, untukmu!" tawar Ammo pada Ana.


"Baiklah!" Ana mengikuti Ammo keluar ruangan dan menuju ruang ganti.


"Biar aku lebih dulu. Nanti kau bisa menaruh pakaianmu di lockerku," saran Ammo.


"Kau juga punya locker di sini?" tanya Ana heran.


"Itu karena keanggotaanku diperpanjang Eleanor tiap tahun!" Ammo terkekeh geli.


"Oh, baiklah ... tampaknya adikmu sangat menyayangi kakaknya!" komentar Ana.


Ammo tak terlalu memperhatikan ucapan Ana. Dia sudah masuk ke ruang ganti.


Tak butuh waktu lama, keduanya sudah siap untuk berlatih. Ammo mengenakan seragamnya dan mengikatkan sabuk hijau di pinggangnya. Sedangkan Ana, tadi dibawakannya sabuk putih.


Gadis itu sangat antusias dengan latihan ini. Tadi dia telah melihat sekilas gerakan-gerakan para murid. Terlihat sangat menarik dan bertenaga.


Ammo tersenyum tipis saat melihat wajah Ana yang berseri-seri. Artinya dia berhasil menyenangkan gadis itu hari ini.


Begitu pintu ruangan dibuka, seorang wanita berjalan cepat ke arah Ammo. "Kakak, akhirnya kau datang juga! Dan Peter bilang, kau membawa calon kakak iparku bersamamu!" ujarnya senang dan langsung memeluk Ana yang terbengong.


"Selamat bergabung dengan keluarga Oswald!" sambutnya senang.


"Kami belum menikah!" ralat Ana.


"Secepatnya. Aku akan menghubungi keluarga lain dan mengurusnya! Percayalah ... mereka takkan menolak permintaanku," ujar wanita itu sambil tersenyum manis.


"Bagaimana bisa wanita yang sangat tangguh ini, bisa tetap terlihat anggun dan cantik secara bersamaan?" pikir Ana.


"Apa kau terpesona pada kecantikannya?" goda Ammo, saat melihat Ana yang terbengong.


"Hah?" gumam Ana bodoh.


"Ellie memiliki kecantikan yang mematikan! Hati-hati!" Ammo mengingatkan.


"Abaikan kata-katanya! Ayo!" Elleanor menarik tangan Ana dan membawanya bergabung dengan para murid yang sekarang membentuk lingkaran di tengah ruangan. Dua murid sedang berlatih tanding.


Ana duduk seperti halnya yang lain. Matanya tak lepas dari gerakan dua orang di lapangan. Memperhatikan dengan teliti cara mereka mengunci lawan.


Tak cuma Ana. Tiga orang pengawal itu juga mengamati dengan seksama. Olah raga itu terlihat sangat menarik. Bahkan meskupun dua pengawal Ammo adalah mantan tentara, mereka tak pernah mempelajari beladiri jenis ini.

__ADS_1


********


__ADS_2