Code Name: ANGEL K05

Code Name: ANGEL K05
85. Keyword 2


__ADS_3

Ammo terus mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Dia sedang berpikir keras. Asumsi Dokter Sarah masuk akal. Kondisi Oscar memburuk setelah dia kembali memaksakan diri untuk mengingat teman dan koleganya.


"Pasti ada salah satu dari mereka yang memicu mode penghancuran. Apakah itu orang yang tak boleh disebut namanya? Yang mengendalikannya?" Ammo terus berpikir, tapi belum juga menemui jawaban. Dia tak mengenal Oscar, jadi tak tau siapa saja teman dan koleganya.


"Apakah aku harus menyelidiki keluarganya?" batinnya.


"Lalu, apa yang memicu keadaan Sanders seperti sekarang?" gumamnya lagi.


Ammo ingat saat terakhir melihat Sanders di kantor. Blake membawanya pergi ke tempat yang hanya dia yang tau. Ammo pikir, Sanders bisa hidup tenang di sana, dan nanti bisa mengirim Adriana juga menemaninya. Tak disangka, beberapa hari di sana, sakit kepalanya jadi memburuk. Ammo akhirnya meminta Blake membawa Sanders untuk dirawat Dokter Armstrong.


Sekarang Ammo tahu, bukan hanya Ana yang mengalami gangguan memori. Tapi mungkin ada lebih banyak orang lain mengalami hal yang sama tapi tak terdeteksi, karena kata kucinya belum dipicu.


"Mungkinkah Rosie mengalami hal yang sama?" Ammo mempertimbangkan hal itu. "Tidak! Sanders jelas memperingatkan dengan keras untuk berhati-hati." Ammo bicara sendiri di ruangan.


"Ataukah bomb waktu yang dimaksud Sanders adalah kalimat konkrit?"


Ammo terhenyak. Jika mengikuti teori Dokter Sarah, maka ... saat kata kunci yang salah terlontar, maka dapat memicu mode penghancuran diri.


"Mengerikan! Dan mereka menempatkan Rosie, untuk menghadapiku! Berarti memang ingin membunuhku!" simpulnya.


"Aku harus tanyakan ini pada Sanders."


Ammo berdiri dari kursinya dan berjalan keluar. Masih ada waktu dua jam lagi hingga petang turun. Ammo harus memeriksa laporan perusahaan sore ini. Semoga Nick bisa menyesuaikan diri menjadi asisten untuk sementara.


Sampai di kamar, Ammo langsung meraih laptop dan mulai bekerja. Beberapa laporan telah masuk dan butuh perijinan.


Terakhir adalah laporan pengacara tentang penarikan fasilitas Carl dan Aaron. Semua sudah dilakukan secara efektif sejak pagi ini.


Pengacara sedang mengupayakan untuk mendapat laporan mutasi kartu kredit yang dibiayai perusahaan, serta laporan keuangan yang lain. Ammo masih harus menunggu untuk bisa membongkar kedok dua bajingan itu.


*


*


Di halaman terbuka yang ditutupi rumput, ada tikar terbentang. Tiga bantal besar diletakkan. Aneka makanan dan minuman ringan, sudah disiapkan.


Di bawah hamparan bintang, Ammo berbaring diapit Sanders dan Ana. Mereka sudah lelah bermain bajak laut dan mencari harta karun. Entah di mana Blake menyembunyikan kotak harta, sampai lelah mereka tak menemukannya.


Di pinggir lapangan, Blake duduk santai sambil mengulas senyum. Dokter Sarah ikut mengawasi dari kejauhan. Dia sedang mempelajari perilaku Ana dan Sanders.


"James, apa kau ingat Rosie, sekretaris cantik di kantor?" pancing Ammo.

__ADS_1


"Sudah kukatakan, jauhi dia. Dia bom waktu untukmu," sahut Sanders tanpa sadar.


Mendengar penuturan Sanders, Ammo menebak bahwa nama James mungkin sangat berarti bagi siapapun yang punya andil merusak memori Sanders. Atau ... itu hal penting bagi Sanders sendiri. Itu mungkin sebuah kata kunci. Dan sekarang, pikiran Sanders seperti jernih kembali, dan berpikir seperti James.


"Aku sudah memecatnya," jawab Ammo. "Tapi, yang terampil dan cantik seperti dia, susah dicari," keluh Ammo.


"Kau pilih saja. Mau hidup atau mau mati!" jawab Sanders ketus.


"Menangnya Rosie membawa bom di kantor?" tanya Anmo heran.


"Tubuhnya adalah bom!" sahut Sanders tanpa ragu.


Ammo sangat terkejut. Dia menggamit Ana untuk ngobrol dengan Sanders sejenak.


"Aku ke toilet dulu. Kalian hitunglah bintang yang ada di sana. Yang hitungannya benar, dapat hadiah!" kata Ammo.


Ammo menjauh dan menelepon Kapten Smith. Memintanya memindahkan Rosie ke tempat terpencil, tanpa ada penduduk sekitar. Dia mengatakan semua penjelasan Sanders pada Kapten Smith.


Ammo kembali ke tempat dua temannya berbaring dan menghitung bintang.


"Ada tiga belas," Sanders ngotot.


"Empat belas!" bantah Ana.


Ammo kembali berbaring dan ikut menghitung bintang. "Lima belas, katanya nyakin. Dua temannya terkejut.


"Kau curang!" teriak Ana dan Sanders berbarengan, sambil memukul. Membuat Ammo yang berada di tengah, tak berkutik.


Setelah puas menertawai Ammo, AnOa dan Sanders kembali berbaring. "James, kenapa aku tidak pernah tau kau bekerja di Rumah Sakit mana?" pancing Ammo.


"Rumah Sakit Khusus Bedah Plastik." jawab Sanders dengan wajah bangga.


"Apa kau ingin jadi dokter spesialis bedah kecantikan nanti?" pancing Ammo lagi.


"Yah, kupikir ... penghasilannya lumayan kan. Hanya orang kaya yang datang untuk operasi," jawabnya santai.


"Dari mana kau tau Rumah Sakit itu?" tanya Ammo lagi.


"Dari George! Dia yang menawariku magang di sana, sambil ambil kelas spesialisasi bedah plastik," jawab Sanders lancar.


"Hebat ya Sanders. Kapan kau mulai masuk Rumah Sakit itu?" kali ini Ana tak ingin hanya jadi pendengar.

__ADS_1


"Sudah tiga tahun!" jawabnya tanpa ragu.


"Semua klop," pikir Ammo. Sanders sudah ada di sana saat Ana masuk dan dirawat. Tapi dia tak mengenali Ana. Ana juga tak mengenalinya.


"Aku sudah lama tak bertemu George. Bagaimana kalau kita undang dia untuk ikut kemping?" Usul Ammo.


"George sudah mati. Dia yak mungkin ikut kemping lagi?" bantah Sanders.


"Jangan bercanda. Dia atasanku di kantor," Ana menolak klaim Sanders.


"Itu George yang lain. George kita sudah mati!" jawabnya yakin.


"Kenapa dia mati?" tanya Ammo hati-hati. "Dalam tugas bersamamu!" tunjuk Sanders ke arah Ana.


"Apa?" Ana dan Ammo tak percaya.


"Di mana makamnya? Kita harus mengunjunginya sekali waktu," usul Ammo.


Sanders menggoyangkan jarinya ke kiri dan kanan. "Tak mungkin. Dia dimakamkan di halaman belakang Rumah Sakit tersebut," jelas Sanders.


"Katakan di mana Rumah Sakitnya. Kita akan mengunjunginya," bujuk Ana.


"Aku saja tak bisa masuk ke sana. Hanya bisa melihat taman pemakaman itu dari lantai atas.


"Taman pemakaman? Apakah tempat itu indah? Ada berapa banyak yang sudah dimakamkan di situ?" tanya Ana.


"Taman yang indah. Sudah ada setidaknya tiga baris makam di sana!" jawab Sanders tersenyum.


Ammo dan Ana saling bertukar pandang. Tiga baris? Ada berapa banyak dalam satu baris?


"Apa kau ingin pergi ke Rumah Sakit lagi?' tanya Ana pura-pura.


"Tidak. Aku sudah tak diijinkan ke sana. Menurut mereka, aku tidak cakap sebagai dokter.


"Jika ada kenalanku ingin magang di situ, bisakah kau memberikan referensinya?" tanya Ammo.


"Sanders menggeleng. Kepalanya menunduk. Aku tidak cakap, tak mungkin memberikan referensi untuk orang lain.


"Tapi kau pasti bisa dong menberikan alamatnya," bujuk Ammo.


"Tentu!" Sanders memberikan Alamat Rumah Sakit tempatnya bekerja. Itu bukan di negara ini! Tempat itu ada di negara asal mereka!

__ADS_1


Betapa sulitnya untuk ke sana di saat jadi buronan agen rahasia negara itu


*******


__ADS_2