Cowok Nyebelin Suamiku

Cowok Nyebelin Suamiku
Aku Akan Melepaskan Mu


__ADS_3

"Tidak Rang, kamu harus melepaskan ku. Arini lebih membutuhkan mu dan maaf aku telah merusak hubungan kalian, karena perjodohan itu." Aku melepas pelukan Rangga.


"Bagaimana dengan ku, aku sangat membutuhkan mu dan anak-anak." Rangga memegang tangan ku.


"Tuan, Nona Arini memanggil anda." Suster yang baru keluar dari ruang Arini. Rangga berdiri dan menuju ruangan Arini.


"Sayang, kamu tadi kemana?. Jangan tinggalkan aku." Lirih Arini.


"Maafkan aku, aku tadi sedang ada urusan. Aku tidak akan meninggalkanmu." Rangga memegang tangan Arini. Aku melihat Rangga dengan Arini, aku merasa sakit di dada. Dengan berat hati aku paksakan mendekati Arini.


"Arini, aku akan melepaskan Rangga untuk mu. Kamu harus cepat sembuh dan berbahagialah bersama orang yang kamu cintai, aku ikhlas." Aku memegang tangan Arini dan meletakan ke tangan Rangga.


Rangga menatap ku sedih, air matanya menetes.


"Aku pamit, ya. Kamu jagalah dan cintai Arini." Aku menepuk pundak Rangga.


"Ya, Allah. Betapa egoisnya aku memisahkan mereka. Aku terpaksa seperti ini, karena aku ingin meninggal bersama orang yang aku cintai. Maafkan aku Rangga, Reina." Batin Arini.


Ketika Rangga ingin menyusul Reina, tangan Rangga di pegang Arini.

__ADS_1


"Yank, jangan tinggalkan aku." Arini memegang tangan Rangga.


Rangga mengurung niatnya untuk mengejar Reina, lalu kembali duduk di bangku.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu, Yank." Rangga memegang Pipi Arini.


"Aku harus ikhlas melepaskan mu." Aku mempercepat Jalanku.


"Mommy..." Panggil Si Kembar.


"Sayang, maafkan Mommy tidak bisa mempertahankan Deddy. Kita harus ikhlas melepaskan Deddy." Aku menangis dan memeluk Si kembar.


"Dengar Mommy, ini sudah keputusan Deddy lebih baik bersama tante Arini. Kita bisa hidup tanpa Deddy. Kalian ngga mau Mommy sakit terus menerus kan?." Kataku agak keras.


"Iya, Mom. Maafkan Kami." Adlan dan Adline menunduk. Aku langsung memeluk dan mencium kedua buah hatiku.


"Kita balik kerumah Deddy, barang-barang kita yang penting." Kata ku.


Kami berangkat menuju rumah Rangga dan Si kembar ikut juga.

__ADS_1


Di dalam mobil


"Rei, Loe dah yakin dengan keputusan Loe ini?." Tanya Tania yang sedang nyetir.


"Iya, Tan. Gue ngga mau terlalu lama disini, Gue dah cape merasa sakit ini." Kata ku.


"Ya, sudah. Gue harap nanti Loe bisa menemukan kebahagiaan." Kata Tania.


"Amiin."


Aku membereskan barang-barang dan pakaian yang tertinggal. Aku berpamitan dengan para ART dan satpam, lalu beranjak keluar rumah. Sebelum aku pergi aku menatapi tempat dimana aku, Rangga dan anak-anak bersama. Kebahagiaan yang dapat terlupakan.


"Terimakasih Rang, sudah menjadi suami dan Deddy yang terbaik. Aku selamanya mencintaimu dan tak akan tergantikan tempat mu di hati ku." Kata ku dalam hati. Aku menghapus air mata.


Malam harinya, Rangga pulang. Ketika dia ingin mengambil baju, betapa kagetnya Ia. Di dalam lemari sudah tidak ada pakaian dan barang-barang Reina. Lalu Rangga menanyakan ke semua ART dan Satpam. Hati Rangga hancur mendengar cerita dari Para ART dan Satpam. Rangga terkulai lemas di lantai dan menyesali perbuatannya.


"Maafkan aku, tidaklah sedikitpun kamu memaafkan aku. Aku tau aku salah atas perasaan bimbang ini." Rangga menangis.


"Bi, kenapa tidak mencegah mereka." Rangga memegang tangan salah satu ART.

__ADS_1


"Maafkan kami tuan." Kata ART itu.


__ADS_2