
"Berhenti Loe disana, Gue ngga sudi dekat-dekat sama Loe. Pergi dari sini." Teriak Rangga. Dokter dan Suster datang memberikan Rangga obat penenang.
"Dok, suami saya kenapa tidak mengingat saya?." Tanya ku. Aku dipeluk Mama ku
"Iya, Dok. Kalau kedua orangtuanya ingat." Tambah Mama Rangga.
"Begini, Nona, Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya. Akibat benturan keras di kepalanya, Tuan Rangga mengalami amesia dan hanya sebagian ingatan yang Tuan Rangga ingat." Dokter menjelaskan. Aku mendengar penjelasan Dokter, pandangan ku mulai kabur dan aku tidak sadarkan diri.
Seminggu Kemudian
Aku setiap hari mendatangi ruangan Rangga, dia tetap tidak mengingat ku dan selalu mengusir ku.
Hari ini Rangga dan aku sudah di bolehkan pulang. Seperti biasa bila aku dan Rangga datang, si kembar dengan antusias memeluk kami berdua. Tapi kali ini Rangga menghindar dan menuju kamar.
"Mommy, Deddy kenapa ngga mau peluk kita berdua." Adline sedih.
"Maafkan Deddy, Ya. Saat ini Deddy tidak mengingat kita, karena kecelakaan itu. Maka dari itu Kita sama berusaha agar Deddy mengingat kita kembali." Aku menjelaskan dan memeluk si kembar.
__ADS_1
"Baik, aku dan Adline akan berusaha agar Deddy bisa ingat kita lagi." Adlan semangat.
Di sisi Lain
Rangga memasuki kamar dan melihat sekeliling kamar. Dia melihat foto dirinya bersama Reina dan anak-anaknya, tapi dirinya tetap tidak ingat Reina dan anak-anaknya.
"Jadi benar, Gue sudah nikah sama musuh Gue sendiri dan punya anak lagi." Batin Rangga.
"Ooeekk... Ooeekk..." Suara tangis Chayra.
"Bayi siapa itu?." Rangga mendekati box bayi dan di lihatnya Chayra sedang nangis dan menatap Rangga.
"Lucu sekali anak ini." Rangga mencium kening Chayra.
"Kok kenapa Gue merasa dekat dengan anak ini?Apa mungkin ini anak Gue." Batin Rangga memandangi Chayra.
Kkrreekk
__ADS_1
Pintu ke buka. Rangga menoleh.
"Chayra anak Mommy sudah bangun, ya. Maaf, Ya. Yank, ngerepotin kamu." Aku mengambil ahli Chayra.
"Jangan pernah Loe manggil sayang, Gue jijik dengarnya dan Loe pergi dari sini Gue muak melihat Loe." Rangga kesel dan merebahkan diri di ranjang.
"Mmhhhmmm... Baiklah." Aku menghela napas. Lalu aku pergi ke kamar Adline, sambil menggendong Chayra aku menangis.
"Aku harus kuat dan sabar, demi anak-anak." Kata ku dalam hati.
Untuk sementara aku tidur di kamar tamu bersama ketiga anak-anakku. Ku ingat bila aku tidur dengan anak-anak, dia akan merasa kesal. Karena tidak memeluk ku sampai tertidur.
Rangga tidur sangat gelisah, dia merasa tidak nyaman. Bolak sana, bolak sini. Tapi tidak ada posisi yang nyaman.
"Kenapa Gue susah sekali tidur, seperti ada yang kurang." Rangga bersandar.
"Lebih baik Gue bikin susu hangat, moga tidur Gue bisa nyenyak." Rangga turun dan menuju dapur. Dia membuat susu hangat, lalu meminum sedikit demi sedikit sambil berjalan menuju kamar.
__ADS_1
Tiba di kamar tamu yang terbuka sedikit, Rangga penasaran dan membuka perlahan-lahan. Rangga melihat Reina tidur bersama anak-anak, merasa ada perasaan nyaman. Rangga ingin mendekati, tapi dia urungkan. Dia bergegas kembali kekamarnya.
"Kenapa ini Gue ngelihat Reina tertidur bersama anak-anaknya, Gue merasa nyaman ingin ikut bergabung. Come on, Rangga. Ingat Reina itu musuh Loe." Rangga mengacak-acak rambutnya.