Cowok Nyebelin Suamiku

Cowok Nyebelin Suamiku
Rangga Sakit


__ADS_3

Seminggu Kemudian


Para sahabatnya Rangga kembali ke Jakarta, karena harus ngurus perusahaan dan para istri masing-masing. Setiap hari Rangga tidak berhenti-hentinya meminta maaf dan berbagai cara dia berusaha mendapatkan maaf dari ku.


Aku duduk di taman bunga dan memikirkan tingkah Rangga yang setiap hari bikin jantung berdebar-debar. Dari kejauhan Vino memandangi Reina, lalu dia menghampiri Reina.


"Hai, sendirian aja. Non. Boleh kenalan ngga?." Goda Vino.


"Ih!! apaan sih." Aku merasa risih, waktu aku menoleh ternyata Vino.


"Eh! Loe, Gue kira tadi laki-laki brengsek." Kata Ku memukul pundak Vino.


"Hehehe... Sory. Btw dari tadi Loe Gue lihatin murung banget, kenapa Loe bisa curhat sama Gue?." Kata Vino.


"Gue cape dan lelah sama Rangga, Vin." Aku menghela napas dan duduk.


"Cape dan lelah kenapa?." Vino ikut duduk.


"Setiap hari Rangga bikin jantung Gue berdebar-debar, Vin." Kata ku.

__ADS_1


"Berarti Loe itu masih cinta dan sayang sama Rangga, tapi Loe ngga sadar. Malah Loe mementingkan ego Loe, Gue kasih saran sudah Loe jangan marah dan maafkan dia. Toh Loe berdua itu saling cinta, lupakan masalah yang sudah-sudah. Buka lembaran baru dan susun kembali puing-puing rumah tangga Loe, demi anak-anak Loe." Vino menepuk pundak Reina.


"Tapi..." Belum sempat ku bicara Vino memotong.


"Ngga ada tapi-tapian, demi anak-anak Loe. Masa Loe tega membiarkan piskis anak-anak Loe nanti terganggu, mulai saat ini Gue akan melupakan perasaan Gue sama Loe. Kita akan menjadi sahabat sekarang, sudah sana samperin Rangga dan maafkan dia, kasihan dia tadi Gue lihat meringkuk aja di kamar. Mungkin dia sakit." Vino menarik ku berdiri.


"Baiklah, terimakasih ya. Vin. Loe memang sahabat Gue." Aku berlari ke dalam rumah.


Aku menuju kamar Rangga, ada perasaan tidak enak.


"Gimana nih, masuk ngga?." Batin Ku ragu. Aku mondar-mandir di depan pintu kamar.


Kkrreekk...


"Gelap banget mana kelihatan." Kata ku lalu menuju jendela.


Gorden masih tertutup menjadi ruangan gelap, kemudian aku membuka gorden agar sinar matahari masuk.


"Jadi terang dech dan sehat untuk badan kita." Kata ku.

__ADS_1


Ku lihat keranjang, Rangga masih tertidur. Dia merasa gelisah, karena sinar matahari mengenai wajah Rangga. Lalu aku mendekati Rangga dan menutup sinar matahari dengan tubuhku, Rangga tidak gelisah tidurnya.


"Rang, bangun sud...." Kataku berhenti ketika aku menggoyangkan badan Rangga, terasa panas.


"Badannya panas." Aku penasaran, kemudian memegang kening Rangga.


"Astaghfirullah, Rang. Kamu demam?." Aku mulai panik dan langsung memanggil para maid, untuk membawakan air buat kompres dan obat penurun panas. Sedangkan aku membuatkan bubur, karena biasanya Rangga sakit mau makan kalau bubur buatan ku.


Tak lama kemudian, aku menghampiri Rangga.


"Rang, bangun ayo makan dan abis itu minum obat." Kata ku menggoyangkan badan Rangga.


"My sweety." Suara serak Rangga dan tersenyum.


"Ayo kamu makan dulu, aku sudah buatkan bubur dan abis itu kamu minum obat, ya." Kata ku agak khawatir.


"Terimakasih, Sayang. Kamu masih mau peduli sama aku." Lirih Rangga.


"Walau kamu super duper nyebelin, kamu tetap suami aku dan Deddy dari anak-anak ku." Kata ku memberikan mangkuk bubur.

__ADS_1


__ADS_2