
Tak lama kemudian sampailah di salon langganan Reina.
"Kok salon, boy. Emang kamu potong rambut." Tanya Rangga merasa aneh dengan putranya.
"Pokoknya turun dulu, tanpa menolak atau tanya-tanya." Tegas Adlan. Kami semua turun termasuk bodyguard dan babysitter.
"Om Tomi dan Toni nanti pegang Deddy jangan sampai kabur." Perintah Adlan.
"Baik tuan muda." Serentak.
"Kok aku kaya punya firasat buruk nih, apa yang akan Adlan lakukan kepada ku." Batin Rangga yang ngga sengaja mendengar percakapan Adlan dan bodyguard.
Aku dan Adline langsung menuju ruang perawatan, aku ngga mau lihat Rangga di hukum sama Adlan. Cayra di asuh sama 2 babysitter di ruang bermain.
"Deddy sekarang tiduran. Dan om T2 tolong pegang Deddy." Perintah Adlan.
"Boy, kenapa Deddy harus di pegang. Deddy janji ngga akan ngulangi kesalahan Deddy dan agak akan bikin Mommy nangis lagi." Rangga panik.
"Sudah terlambat, Deddy." Kata Adlan senyum sinis.
"Lakukan sekarang." Adlan menyuruh petugas salon.
"Baik tuan muda." Petugas salon dan mulai memberikan krim ke kaki Rangga.
"Eh! kamu mau ngapain?." Rangga panik.
"Maaf tuan saya akan melakukan Bleaching." Kata petugas salon.
__ADS_1
"Apa itu?."
"Mencabut bulu kaki."
"What!!. Ngga lepaskan, kalau kalian lakukan saya pecat semua." Teriak Rangga.
"Jangan dengarkan dia, dan Deddy harus nurut kalau ngga aku akan bilang ke Mommy tinggalkan Deddy untuk selama-lamanya." Tegas Adlan.
"JANGAN!!!, baiklah. Lakukan sesuai perintah anak ku." Rangga ketakutan.
"Aarrgghhh." Teriak Rangga ketika plester di cabut dari kakinya. Bulu kaki terangkat semua.
"Deddy janji ngga akan sakit dan jangan bikin Mommy nangis? dan jika Deddy melakukan lagi gimana." Adlan menginterogasi Rangga.
"DEDDY JANJI NGGA AKAN SAKITI DAN NGGA AKAN BIKIN MOMMY NANGIS, NGGA AKAN MELAKUKAN LAGI AARRGGHH... REINA AKU CINTA KAMU, AKU SAYANG KAMU. DI HATI KU CUMA ADA KAMU, KAMU DAN ANAK-ANAK ADALAH HIDUP KU. I LOVE YOU REINAAAA..." Teriak Rangga, plester di kakinya di tarik lagi.
Aku dan Adline mendengar teriakan Rangga.
"Hahaha... itu baru anak ku. Rasakan kamu, Yank." Aku tertawa senang.
"Mommy kok malah ketawa kasihan Deddy, mang Abang Adlan lagi ngapain Deddy sih, Mom?." Adline khawatir.
"Sudah kamu jangan khawatikan Deddy, kita fokus dengan perawatan biar kita tambah cantik. Nanti kita akan ketemu dengan Oppa-Oppa Korea, kamu mau?."
"Benaran, Mom?." Adline senang.
"Iya, princes Mommy." Aku mengelus rambut Adline.
__ADS_1
"Yeee... Ketemu pangeran Adline doang Mom." Adline kegirangan.
"Iya, sayang."
Beberapa Jam kemudian
Aku dan Adline keluar dari ruang perawatan, aku merasa terlahir kembali. Seluruh tubuh ku berasa ringan.
"Kalian lama banget." Dingin Adlan.
"Apaan sih, bang. Namanya juga perempuan itu harus tampil cantik, biar semua pangeran datang pada datang ke Adline." Adline berwajah imut.
"PD banget kamu, mana ada pangeran yang dekat sama kamu. Orang kamu itu masih kecil dan bocah." Ketus Adlan.
"No, sayang. Deddy belum siap menjadi Opa, Deddy masih mau muda." Rangga menolak.
"Sudah-sudah, kita makan yuk." Ajak ku.
Di Restaurant
Kami makan di restaurant milik Tania dan kebetulan genk cewek sedang berkumpul. Lalu aku menghampiri mereka.
"Hai Guys, kalian makan juga disini?." Tanya ku.
"Iya." Serentak.
"Eh! Reina Loe sama siapa kesini?." Chika yang baru datang.
__ADS_1
"Tuh sama pasukan." Aku menunjuk Rangga dan anak-anak duduk di dekat jendela.