
"Masa, kamu ngga usah berbohong." Kata Vino.
"Ya, Allah. Benar, Vin. Ini anak-anak ku. Yang laki-laki namanya Adlan, perempuan namanya Adline dan aku gendong Chayra." Kataku memperkenalkan Si Kembar dan Chayra ke Vino.
"Hai, Nama Om Vino. Apa kalian benar anak-anaknya Reina." Vino berjongkok.
"Iya, Om. Ini Mommy kami. Kenapa Om ngga percaya?." Adlan tegas.
"Abis Mommy kalian terlihat seperti gadis yang belum menikah." Vino mengelus rambut Adlan.
"Maaf ya, Vino. Sekarang kami mau sarapan dulu. Nanti bila ada waktu kita lanjutkan." Kata ku.
"Boleh aku ikutan, aku juga mau sarapan." Vino berdiri
"Mmm... Gimana ya?." Aku bingung.
"Ya, udah. Yuk. Kamu ngga boleh nolak." Kata Vino menggandeng Adlan dan Adline.
"Ya, dech. Maaf ya jadi merepotkan." Kataku sungkan.
Di Jakarta
__ADS_1
Kesehatan Arini semakin memburuk.
"Yank, maafkan aku begitu egois untuk memiliki mu." Lirih Arini memegang tangan Rangga.
"Sudah kamu jangan berpikir macam-macam yang akan membuat kondisi kamu makin memburuk." Rangga mengelus kening Arini.
"Aku mohon kamu dan Reina jangan berpisah, kalian saling mencintai. Kejarlah Reina dan dapatkan kembali cintanya, ini permintaan ku terakhir. Aku ngga mau nanti bila aku meninggalkan menjadi orang jahat yang menjadi penghalang hubungan kalian. Please penuhkan permintaan ku yang terakhir." Arini menetes kan air mata.
"Ya, aku akan mengejar cinta Reina kembali." Rangga menghapus air mata Arini.
"Selamat tinggal Cinta Ku, selamanya kamu selalu di hati ku. Walau aku tak bisa memiliki mu, aku ikhlas melihat kamu bahagia bersama yang lain." Arini tersenyum dan menutup mata, alat detak jantungnya menandakan garis lurus.
Rangga panik memanggil Dokter dan Suster, lalu mereka datang dan membawa alat pemicu jantung. Tapi Arini sudah tidak bisa di maafkan. Rangga menangisi kepergian Arini
"Ini sudah yang terbaik buat Arini, Loe yang sabar dan harus mengikhlaskan kepergiannya." Dr. Malik.
"Makasih, Bro." Rangga melepaskan pelukan Dr. Malik.
Tanpa sepengetahuan Rangga, Dr. Malik memberikan kabar duka ke Sahabatnya Rangga. Mereka pun datang ke rumah sakit dan menemani Rangga hingga pemakaman Arini.
"Ar, terimakasih untuk semuanya. Gue janji akan mengejar Reina kembali. Loe harus tenang di sana." Rangga menatap batu nisan.
__ADS_1
"Sudah Rang. Hari sudah sore lebih baik Loe istirahat." Alex menepuk pundak Rangga.
"Kalian tau dimana Reina dan anak-anak ku pergi?." Rangga berdiri dan menatap sahabat-sahabatnya.
"Untuk apa Loe mencarinya." Randy ketus.
"Gue ingin ketemu Reina dan anak-anak ku, untuk bersama kembali." Ucap Rangga.
"Gue ngga mau kalau Loe kesana sesuai permintaan terakhir Arini, kasihan Reina akan tambah menderita." Randy menatap tajam Rangga.
"Ini bukan hanya permintaan Arini, tapi keinginan Gue sendiri. Gue sudah mengingat semuanya, maafkan sifat-sifat gue selama ini. Membuat persahabatan kita pecah." Rangga menunduk.
Alex, Adi, Rio dan Randy mendekati Rangga dan memeluknya.
"Kita sudah memaafkan Loe." Kata Alex.
"Maaf kita terpaksa menjauhi Loe, bukannya benci. Tapi kita membiarkan Loe di dunia Loe sendiri." Kata Randy.
"Kita juga setiap hari selalu memantau Loe, jangan sampai Loe salah jalur." Kata Rio.
"Iya, betul. Bahkan kita membantu Si kembar untuk Loe dan Reina." Kata Adi.
__ADS_1
"Terimakasih, ya. Kalian memang sahabat terbaik, btw dimana Reina dan anak-anak Gue sekarang?." Rangga merangkul Sahabatnya.