
"Yank, Sudah ya. Aku pegel nih." Keluh Alex yang tangannya masih keatas, biar Latifa leluasa.
"Sebentar lagi, Yank." Latifa masih mengendus-udus ke ketiak Alex.
"Untung gue cinta sama loe, bini gue ada-ada aja. Huft... Huft... Sabar-sabar demi junior." Batin Alex menghembuskan napas.
Beberapa menit kemudian
"Sudah, sana kamu mandi bau tau." Latifa mendorong tubuh Alex.
"Lah tadi kan kamu..." Belum Alex bicara terpotong, karena melihat Latifa menangis. Padahal Alex tidak marah.
"Hiks... Hiks... Hiks... kamu kenapa marah-marah sama aku." Isakan tangis Latifa.
"Aku ngga marah, Yank." Alex memegang tangan Latifa dan menatap Latifa.
"Tadi kamu, aku tau aku nih aneh dan nyebelin. Tapi aku juga ngga tau kenapa aku kaya gini semenjak hamil. Hiks... Hiks... Hiks..." Latifa masih meneteskan air mata.
__ADS_1
"Sudah aku ngertiin kamu kok, kata dokter wanita hamil itu sifatnya labil. Jadi aku harus extra sabar hadapi kamu yang kadang marah, kadang sedih dan ngidam yang aneh-aneh, karena aku jalani semua demi cinta ku pada mu dan anak kita. Kamu jangan nangis lagi, ya. Kalau lihat kamu nangis hati aku juga nangis, Yank." Alex memeluk Latifa.
"Terima kasih, Yank. Kamu sudah sabar menghadapi sikap ku yang ngga jelas ini." Latifa membalas pelukan Alex.
"Sudah kewajiban aku sebagai suami dan Daddy, Yank." Alex mencium kening Latifa.
"Yank, Aku ingin makan gudeg jogya." Latifa melepas pelukan.
"Ya udah, nanti biar Bibi yang masak, Yank." Alex beranjak dari ranjang.
"Tapi aku maunya langsung dari Jogja, Yank." Latifa bersikap manja.
"Ngga, aku nggak. Kalau bukan gudeg dari Jogja aku ngga mau makan." Latifa merajuk dan melipatkan tangan di dada.
"Ya Allah, kenapa bini gue suka nyiksa gue. Sabar gue harus sabar demi junior." Batin Alex.
"Baiklah nanti sore aku berangkat Jogja." Kata Alex terpaksa.
__ADS_1
"Tapi Aku mau ikut, Yank." Latifa memelas.
"Iya, Sayang. Aku mandi dulu, ya." Alex langsung menuju kamar mandi.
Sorenya, Latifa dan Alex berangkat ke Jogja. Latifa sangat senang, karena Alex memenuhi keinginannya. Walau Alex jalanin dengan terpaksa, karena ngga mau junior ileran.
Tingkah laku Latifa berubah semenjak hamil, dia selalu merasa baberan. Dikit-dikit nangis, dan dikit-dikit marah. Sehingga membuat Alex, para sahabat dan Para orangtua. Padahal sebelum hamil Latifa orangnya sangat pendiam dan ngga pernah baberan bila di goda oleh Alex, para sahabat dan para orangtua.
Kehamilan Latifa ini Alex, para sahabat dan para orangtua sangat menjaga perasaannya dan harus bersikap extra sabar.
Pagi harinya, Latifa sudah bangun
"Yank, ayo bangun. Kita makan gudeg, aku pengen banget nih." Latifa menggoyang-goyang tubuh Alex.
"Hmmm... Ini masih pagi sayang." Alex dengan suara serak bangun tidur.
"Aku lapar dan pengen banget makan gudeg, Yank. Ayo bangun." Latifa merengek.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Aku mandi dulu." Alex mencium kening Latifa dan langsung menuju kamar mandi, tapi ketika Alex sudah di ujung pintu kamar mandi. Latifa menarik tangan Alex dan mengangkat tangan Alex, lalu mengendus-udus bau ketek Alex. Sudah menjadi kebiasaan setiap hari Latifa mencium ketek Alex.