
Setelah Pernikahan Randy dan Tania, sekaligus liburan bersama di Bali. Kami semua kembali ke Jakarta dan beraktivitas masing-masing.
Usia Adlan dan Adline sudah beranjak 1 tahun, mereka sudah berjalan dan berbicara walau kurang jelas. Tania saat kini sudah berbadan dua usia kandungannya sudah memasuki 4 bln dan juga mengandung anak kembar.
Akhir-akhir ini sikap Rangga berubah, biasanya setiap pagi dan malam ataupun mau berangkat dan pulang kerja Rangga selalu mencium ku, setiap mau tidur selalu memeluk ku dan tak ada kata-kata romatis lagi. Awalnya aku mengira Rangga mungkin kecapean. Aku berusaha percaya dengan Rangga.
Aku, Chika, Audy dan Tania pergi ke Mall dan mengajak kedua anak ku. Kami bermain tempat game. Karena lapar dan sudah puas bermain kami makan di restoran salah satu di Mall.
"Mimi pup lin-lin." Ucap Adline menarik tangan ku.
"Kamu Pup, sayang. Guys gue ke toilet dulu, ya." Kata ku membelai rambut Adline dan pergi menuju toilet. Setelah membersihkan Adline, aku dan Adline menuju meja. Tetapi di tengah perjalanan, Adline lari dan memanggil Deddynya.
__ADS_1
"Didi." Adline berlari. Aku mengejar dan menangkap Adline. Kulihat laki-laki yang di sangka deddy itu memang Rangga. Tengah asyik berbincang dengan seorang wanita seksi dan cantik. Hatiku merasa sakit. Tapi aku berusaha berpikir positif. Air mata ku tiba-tiba keluar dan membasahi pipiku. Ketika Rangga mencium bibir wanita itu.
"Didi." Adline rengek minta ke Rangga. Rangga melihat ku kaget.
"Adline, Yank." Ucap Rangga kaget. Aku langsung membawa Adline dan Adlan menuju pakiran mobil. Ketiga sahabat ku merasa aneh dengan tingkah ku yang tiba-tiba mengajak kedua anak ku pulang.
"Pak, jalan." Perintah ku ke mang Jaja. Sepanjang jalan aku menangis. Rangga menelpon dan sms, tidak aku jawab.
Sesampai di rumah aku menyuruh Bi Inah dan Bi Juju untuk merapihkan pakaian Adlan dan Adline. Aku membiarkan Adlan dan Adline tidur di mobil. Aku merapihkan pakaian ku ke dalam koper. Aku tak peduli panggilan atau Sms dari Rangga.
"Lepasin ngga, aku sudah muak sama kamu. Aku benci kamu." Kata ku memukul badan Rangga.
__ADS_1
"Nggak aku lepasin sebelum kamu dengarkan penjelasan ku dulu." Rangga mempererat pelukan.
"Ngga ada yang perlu penjelasan, semuanya sudah jelas. Setiap hari kamu pulang malam dan selalu marah-marah. Sampai-sampai anak-anak di cuekin. Asal kamu tau aku berusaha percaya sama kamu dan membuang pikiran negatif tentang mu, tapi nyatanya apa. Kamu selingkuh di depan aku, Aku sadar penampilan aku sekarang tak secantik dan seksi dulu." Air mata ku tambah deras.
"Yank, kamu salah paham." Rangga memegang tanganku.
"Cih, sudah lah. Lebih baik kita pisah dari pada aku sakit melihat mu berdua dengan cewek lain dan aku sekarang merasa jijik pada mu." Kata ku kasar.
Ppllaakk... Rangga menampar ku. Air mata ku tambah mengalir.
"Hehehe... Ini jawabannya, pengacara ku akan urus perceraian." Aku memegang pipiku dan beranjak pergi.
__ADS_1
"Yank, maaf. Aku ngga bermaksud." Rangga memegang tangan ku. Saking emosinya aku, aku menendang*** Rangga. Lalu pergi meninggalkan Rangga yang kesakitan.
"Shitt. Bodohnya gue. Aarrgghhh... Reina sayang jangan pergi." Rangga mengejar ku, tapi aku sudah beranjak pergi.