
"Aa...kku... ketemu suami ku. Bu, Pak." Kata ku cemas.
"Ini mungkin sudah waktunya, Neng. Kamu mendengar penjelasan Suami kamu dan jangan menghindar terus, kasihan Chayra butuh ayahnya juga." Nasihat Pak Paijo.
"Benar itu, Neng." Tambah Ibu Kokom.
"Iya. Bu, Pak. Aku akan mencobanya, tapi saat ini aku belum bisa." Kataku yang masih meneteskan air mata.
Aku merebahkan diri di kasur.
"Ya, Allah. Hamba harus bagaimana, Hamba bingung." Kata ku dalam hati.
Hari sudah malam
Rangga, Alex, Pak kades dan Anaknya menyusuri pedesaan. Pak Kades menghampiri warung Pak paijo.
"Suatu kehormatan Pak kades dan Tuan-tuan mendatangi warung kecil saya." Pak Paijo ramah.
"Tuan anak Pak Paijo ini sangat cantik dan kembang desa, walau sudah mempunyai anak. Tapi tetap cantik dan susah di dapatkan, aku sudah berapa kali melamarnya. Selalu di tolak." Bisik Anaknya Pak kades Asep namanya. Rangga hanya tersenyum dipikiran dan hatinya hanya Reina.
"Bu, Neng. Bantu Bapak kita kedatangan tamu istimewa." Teriak Pak Paijo sambil meletakkan gelas untuk membuat kopi.
__ADS_1
Ketika Aku keluar, aku melihat kaget Rangga dan Alex. Aku hendak masuk lagi, tapi Ibu Kokom sudah menarikku.
Rangga dan Alex berdiri kaget melihat ku.
"Sayang." Kata Rangga.
"Reina." Alex.
Pak Kades, Asep, Ibu Kokom dan Pak Paijo bingung melihat Rangga dan Alex yang tiba-tiba berdiri.
Aku melepas pegangan Ibu Kokom dan hendak kembali kedalam rumah. Tapi Rangga dengan cepat memeluk ku dari belakang.
"Sayang, jangan pergi. Aku sangat merindukan mu." Rangga mempererat pelukannya.
"Oekkk... Oekkk..." Chayra menangis.
"Anak ku menangis, tolong lepasin." Aku melepaskan pelukan Rangga.
Aku berlari dan mengunci kamar. Rangga mengikuti ku.
"Kenapa harus ketemu, aku benci rasa ini masih ada." Aku menangis dan menggendong Chayra.
__ADS_1
Tok... Tok... Tok...
"Sayang, buka pintunya. Aku mau lihat anak kita." Rangga mengetuk pintu. Aku diam harus berbuat apa.
"Sayang, buka pintu. Aku jelasin semuanya ke kamu. Kamu buka ya pintunya." Rangga masih mengetuk pintu. Pak Paijo datang
"Biar Bapak aja, Tuan. Neng, ini Bapak. Kamu buka pintu, kamu harus dengar penjelasan Suami kamu dulu. Bapak sudah tau Tuan Rangga ada suami kamu, Bapak tidak sengaja melihat di dompet mu." Kata Pak Paijo.
Aku merasa berat dan membuka pintu.
"Sayang, Maafin aku. Kamu salah paham, sebenarnya waktu itu Siska menangis dan memeluk ku. Siska sakit Kanker serviks stadium akhir, aku ngga tega jadi membalas pelukannya. Sumpah di hati ku cuma ada kamu, Aku cinta kamu." Rangga mendekati ku.
"Ya benar, Rei. Sekarang Siska sudah meninggal. Rangga itu cinta banget sama Loe, asal Loe tau setiap hari dia itu kaya orang gila." Alex menjelaskan.
"Jadi selama ini aku salah paham?maafin aku." Aku meneteskan air mata dan menunduk.
"Hei, aku yang salah. Sudah jangan menangis. Kasihan anak kita ini." Rangga mencium kening ku.
Rangga menggendong dan mencium Chayra.
"Namanya siapa, Yank?." Rangga senang bisa mengendong Chayra.
__ADS_1
"Chayra Ainin Qulaibah yang artinya Kebaikan yang berasal dari mata hati yang suci. Pak Paijo yang memberi nama." Kataku.
"Terimakasih, Pak. Memberi nama yang bagus." Rangga.