Cowok Nyebelin Suamiku

Cowok Nyebelin Suamiku
Rangga Kecelakaan 2


__ADS_3

Papa dan yang lainnya datang. Mereka melihat ku menangis, mereka cemas dan langsung melihat Rangga. Keadaannya sangat mengkhawatirkan. Mereka meneteskan air mata.


"Brengsek ini semua pasti salah Ervan." Alex marah dan memukul tembok rumah sakit.


"Loe harus tenang dulu." Rio memegang pundak Alex.


"Loe ngomong tenang-tenang terus, lihat tuh sahabat kita berbaring lemah disana. Gue mana bisa tenang." Alex menujuk ke arah ruang Rangga.


"Maaf kan saya tuan dan nyonya, tidak bisa menjaga tuan Rangga." Asisten datang dengan kursi roda, kedua kaki dan di wajah memakai perban. Raut wajahnya sedih.


"Ceritakan kenapa bisa jadi begini." Papa Rangga mendekati Asisten Alvin.


Asisten Alvin menceritakan seluruh kronologis awal kejadian hingga mengakibatkan kecelakaan. Papa Rangga tak kuasa dan terduduk lemah.


"Sebaiknya, Oom dan Tante istirahat. Biar kami yang menjaganya." Adi menyarankan.


"Baiklah."


Orangtua ku dan Rangga pulang, aku masih setia menunggu Rangga di dalam ruangan.

__ADS_1


"Kok aku merasa yang berbaring lemah itu bukan Rangga suami ku, aroma tubuh dan tangannya. Terasa berbeda." Batin ku, ada yang mengganjal di hatiku. Aku menatap Rangga yang masih koma, aku bingung dengan hati ku. Wajahnya seakan berbeda.


Aku membuang perasaan curiga ku, Aku memegang tangan Rangga dan memberi sport agar Rangga cepat bangun dari komanya.


"Ya, Allah. Kuatkan hati hamba dan buang jauh-jauh dari perasaan curiga ini." Batin Ku.


"Rei, sebaiknya Loe pulang dan istirahat. Kasihan Chayra masih perlu asupan dari Loe, biar gue dan yang lain jaga Rangga disini." Kata Randy memegang pundak Reina.


"Ngga, Ran. Gue mau di sini menemani suami Gue, Gue ngga bisa jauh dari Rangga dalam keadaan seperti ini." Aku menghapus air mata.


"Gue tau, tapi Loe juga harus mikirin Loe dan anak-anak. Mereka butuh Loe juga." Randy memeluk Reina dan mengelus-elus kepalanya.


Aku pulang di antar oleh Alex, selama perjalanan aku terdiam dan memejamkan mata. Rasanya begitu lelah.


Alex melihat Reina, mata yang begitu sembab dan penampilannya sangat kacau. Alex merasa iba.


"Yang sabar, ya Rei. Ini semua akan cepat berlalu." Ucap Alex.


"Iya, Lex." Aku tetap masih meneteskan air mata.

__ADS_1


Tiba di rumah, aku ke kamar satu persatu anak ku dan menciumi mereka. Aku menggendong Chayra dan Si kembar ke kamar ku, aku ingin tidur bersama anak-anakku.


Keesokan pagi


Aku mendatangi rumah sakit dan membawa baju ganti untuk Rangga.


Ku lihat Rangga masih koma, seluruh tubuhnya penuh dengan alat bantu. Air mata ku menetes, aku tak kuasa menahan.


"Sayang, kamu bangun. Jangan tinggalkan aku, aku tak sanggup kehilanganmu. Aku mohon bangun, kasihan anak-anak ingin bermain dengan mu. Ku mohon bangunlah." Kata ku menangis.


"Loe sudah datang, Rei?." Randy dengan suara serak yang abis bangun.


"Iya, Ran. Ini Gue bawa makanan buat kalian semua." Aku menghapus air mata dan memberikan bingkisan ke Randy.


"Terimakasih, saudara kembarku." Randy mengambil bingkisan.


Aku masih setia menunggu Rangga di ruangan, dengan melantunkan surat-surat Al Qur'an. Para sahabat sudah kembali, terkecuali Randy. Dia kasihan aku sendiri di ruangan.


Randy merebahkan di sebelah ruangan, karena badan terasa sakit semua.

__ADS_1


__ADS_2