Cowok Nyebelin Suamiku

Cowok Nyebelin Suamiku
Aku tidak rela


__ADS_3

"Aku ngga akan melepaskan kamu, asalkan kamu tau. Arini memang dulu adalah hidup ku, tapi sekarang kamulah hati ku, Jiwaku dan Jantung ku. Aku ngga bisa hidup tanpa dirimu, Rei. Saat ini memang belum semua ingatan ku pulih, please jangan tinggalkan aku." Rangga membalikan badan ku dan mencium bibirku. Aku berusaha berontak, tapi Rangga dengan lahapnya melumatkan bibirku. Aku memukul-mukul tubuh Rangga.


"Rei, aku cinta kamu, sangat mencintaimu. Di hati ku tak ada wanita yang bisa menempatkan di hati ku, termasuk Arini. Karena hati ini sudah tergores namamu dan rasakan detak jantung ini selalu berdebar-debar jika berdekatan dengan mu. Walau aku hilang ingatan, tapi detak jantungku berdebar-debar bila kamu di dekat ku." Rangga mendekati wajah ku hingga hidung kami beradu dan tangan ku di letakkan di dada Rangga, aku dapat merasakan detak jantungnya.


Aku meneteskan air mata, hati kecil ku tak rela harus berbagi cinta. Tapi aku juga tidak tega di detik akhir hidupnya Arini harus merasakan sakit hati, karena Arini sudah mempunyai penyakit yang sangat mematikan. Aku tidak mau menambah penyakit yang di derita.


"Rang, bagaimana dengan Arini kasihan dia?. Aku tak tega melihatnya." Kata ku menatap Rangga.


"Hey, dengar Dear. Ini pasti akan cepat berlalu, kamu jangan mikir macem-macem. Aku akan segera menyelesaikan ini, agar cepat kita berkumpul kembali." Rangga memegang pipi ku dan mencium keningku.


Tidak jauh dari tempat Rangga dan Reina, Malik dan Si kembar menyaksikan dan mendengar pembicaraan mereka. Si kembar merasa terharu dan meneteskan air mata.


"Ya, Allah. Buat Deddy dan Mommy bersatu lagi." Batin Si kembar masing-masing.


"Sudah, yuk. Kalian keruangan Om dulu." Kata Dr. Malik dan menggandeng tangan Si kembar.

__ADS_1


Arini sudah sadar dari semalam, karena masih ada pengaruh dari obat membuatnya ngantuk.


Arini mendengar dan melihat Rangga bersama Reina saling mengungkapkan perasaan mereka masing-masing, ada rasa sakit di dada.


"Aku ngga rela melihat mereka bersama, di saat di usia terakhirku. Aku ingin bersama dengan orang yang ku cintai." Arini membanting gelas di meja.


Rangga mendengar itu, langsung memasuki ruangan Arini.


"Sayang, kamu kenapa?." Rangga panik.


"A-Aku mau ambil minum, tapi aku tidak sampai." Kata Arini senang, karena Rangga masih peduli.


"Rang, Ar. aku pamit ya. Ar kamu semoga cepat sembuh, ya." Kata ku tegar. Rangga memegang tangan ku dan membisikkan.


"Kamu harus menunggu ku dan yakinlah cinta ku hanya untuk mu." Bisik Rangga. Aku tersenyum dan pergi.

__ADS_1


"Tadi kamu berbisik apa sama Reina?." Arini curiga.


"Tidak bukan apa-apa, hanya tadi mengucapkan terimakasih aja." Rangga berbohong.


"Aku tau kamu berbohong, Yank. Aku akan membuat mu melupakan Reina." Batin Arini.


Di sisi Lain


Aku mendatangi ruangan Dr. Malik, karena tadi Dr. Malik Wa Si Kembar bersamanya dan sedangkan Chayra sedang di rumah Dr. Malik bersama istrinya.


"Assalamu'alaikum... " Aku membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam." Serentak Dr. Malik dan Si Kembar.


"Mommy..." Si kembar memelukku.

__ADS_1


"Maaf ya, sudah merepotkan." Kata ku.


"Tidak usah sungkan, kaya sama siapa aja." Kata Dr. Malik.


__ADS_2