
Malam Hari
Semua berkumpul di ruang keluarga, karena Rangga menugaskan semua orang berkumpul.
"Malam semua, maaf telah mengganggu waktu santai dan menyuruh kalian berkumpul di sini. Saat ini saya akan memberikan lagu untuk Mommynya anak-anak, agar memaafkan saya. Saya tidak akan pernah berhenti dan lelah untuk meminta maaf kepada Nya, walaupun mempermalukan harga diri seorang Rangga sang CEO demi Mommynya anak-anak. Saya akan persembahkan lagu untukmu Reina, sayang." Ucap Rangga pede. Kemudian Rangga memainkan piano dan menyanyikan lagu yang sudah dia siapkan.
Lagu yang di bawakan Rangga sangat tersentuh di hatiku, air mataku menetes. Ada getaran hati yang masih tersimpan di hatiku, aku luluh juga akhirnya. Karena melihat kegigihan Rangga meminta maaf kepadaku, tapi masih ada rasa sakit di hati, luka ini terlalu dalam.
Rangga selesai memainkan piano dan nyanyinya, lalu menghampiriku dan tersenyum.
"My wife, my sweety heart. Forgive all my mistakes, I promise I won't do it again, because I don't want to lose you. I love you so much." Rangga memegang tangan ku dan mencium tanganku. Aku menatap mata Rangga, dia tulus mengatakan. Tidak terlihat kebohongan di matanya.
"Iya, aku akan memaafkan kamu. Tapi kamu harus jalani hukuman, biar kamu tidak berulah lagi." Kata ku melepaskan tangan Rangga.
"Apapun hukumannya tetap aku jalani, yang terpenting kamu mau maafkan aku dan kita bisa berkumpul kembali." Rangga memeluk ku. Ketika Rangga ingin mencium bibir Reina, dengan sigap Vino teriak. Bukan cemburu, Vino sudah merelakan Reina kembali kepada suaminya. Karena Vino tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang.
__ADS_1
"Waduh-waduh, kalian lupa di sini masih ada di bawah umur dan ada yang jomblo. Jangan bikin iri kenapa." Teriak Vino mengganggu kemesraan Rangga dan Reina.
"Reseh banget Loe." Rangga kesel.
"Kamu juga masih banyak orang mau nyosor aja." Aku mencubit pinggang Rangga.
"Aww... Sakit, sayang. Kan aku sudah rindu tubuh mu, sudah lama aku tidak menyentuh mu." Ucap polos Rangga.
"Ih, Mesum." Aku pergi, karena perkataannya Rangga membuatku malu.
Vino dan yang lain hanya menggeleng-geleng kepala melihat tingkah Rangga.
Di Kamar
Aku membuka hijab, lalu Aku duduk di balkon sambil menatap langit-langit dan memakan buah-buahan. Model kamar Reina di renovasi oleh Rangga, agar terlihat bentuk kamar di korea atau jepang. Karena Rangga masih ingat Reina suka darkor.
__ADS_1
Kkrreekk... pintu terbuka. Rangga masuk kamar dan menghampiri Reina.
Rangga duduk disamping Reina dan mendekap Reina, lalu mencium pipi dan pucuk rambut.
"Terimakasih, sayang. Kamu sudah mau memaafkan aku." Rangga terus mencium pipi ku.
"Iya, aku juga minta maaf. Karena aku pergi begitu saja, tanpa harus memperjuangkan rumah tangga kita." Kata ku sedih.
"Sssttt... Kamu ngga salah, ini semua kebodohan ku yang membuat mu terluka. Mulai saat ini bila salah satu kita yang lupa, kita saling mengingatkan betapa besarnya dan susahnya untuk perjuangkan cinta kita." Rangga membalikan badan ku. Kemudian mencium bibirku dan me****. Aku membalas ciuman Rangga, karena aku juga sangat merindukannya.
"Sayang, berjanjilah kamu ngga akan meninggalkan ku lagi, karena aku ngga sanggup berpisah dari mu." Rangga memegang kedua tangan ku.
"Tergantung, kalau kamu ngga berulah." Aku melepaskan tangan Rangga, ketika aku ingin beranjak berdiri. Rangga menarik tangan ku, hingga jatuh di atas tubuh Rangga.
__ADS_1