
Seminggu Kemudian
Aku dan Rangga pindah rumah, di daerah perumahan elit. Di pertengahan jalan Rangga menghentikan mobilnya.
"Yank, mata kamu aku tutup dulu, ya." Rangga menutup mataku dengan sapu tangannya.
"Ya, yank. Tapi nanti aku jalannya gimana kalau di tutup gini." Keluh ku.
"Tenang aja nanti kamu aku tuntun." Rangga memegang tanganku dan melajukan kembali mobil.
Tak lama kemudian, Rangga menghentikan mobil dan membukakan pintu ku.
"Yank, apa sudah sampai?." Tanyaku.
"Sudah, yank." Rangga membantu ku keluar mobil. Lalu membuka kan ikatan yang menutup mataku. Aku membuka mata dan terkejut
"Yank, ini rumah siapa?." Aku masih bingung.
"Ini rumah kita, yank. Masuk yuk." Rangga menggenggam tangan ku. Aku sambil melihat sekeliling pemandangan yang indah di rumah yang akan kami tempati nanti. Rangga menyuruh ku membuka pintu.
"SURPRISE..." Serentak (Orang tuaku dan Rangga, Randy dan sahabat-sahabat Aku dan Rangga).
"Kalian." Aku meneteskan air mata dan memeluk mereka satu persatu, kecuali sahabatnya Rangga.
"Jangan nangis dong Princes Papa." Papa ku memelukku.
__ADS_1
"Terimakasih, semuanya. Aku bahagia bisa kumpul kaya gini, terutama Rangga yang sudah selalu di samping ku walau agak nyebelin." Kata ku dan memeluk Rangga.
"Ya, Yank." Rangga mencium kening ku.
Kami ngobrol dan bercanda-canda Ria. Aku mendekati Rangga yang sedang memanggang sosis.
"Yank, rumahnya nggak terlalu besar. Kita kan cuma tinggal berdua." Kataku dan merangkul lengan kekar Rangga.
"Siapa bilang berdua. Ada Bi Inah, Pak Jono dan Mang Dadang." Rangga membalikan sosis.
"Bukan gitu, yank..." Aku belum selesai bicara Rangga memotong.
"Bentar lagi kan anak kita akan lahir, aku ingin anak-anak bergerak bebas." Rangga memegang bahu ku. Aku merasa terharu mendengar ucapan Rangga, betapa pedulinya dia dengan anak-anaknya.
"Aku tambah cinta kamu, yank." Aku memeluk Rangga.
"Woy!!!. kalau mau gituan jangan disini, mata gue ternodai nih." Teriak Alex kesel. Sontak aku dan Rangga melepas ciuman.
"Biarin aja, makanya jangan jadi jomblo akut. Hahaha." Ejek ku.
"Sedihnya jadi jomblo, huhuhuhu. Nasib-nasib" Alex pura-pura nangis.
Hari sudah terlalu larut kami beranjak tidur, kebetulan rumah ini banyak kamar. Sengaja Rangga membuat kamar banyak, karena biar para orang tua dan para sahabat bisa nginap.
Aku bergegas ke kamar mandi dan membersihkan diri. Tiba-tiba Rangga masuk dan memeluk ku dari belakang, lalu menciumi leher ku.
__ADS_1
"Yank, aku cape." Aku melepas tangan Rangga yang melingkar di perut ku.
"Ya, udah dech." Rangga memelas. Kami melanjutkan bersih-bersihkan diri masing-masing.
"Yank, Jangan pakai baju." Rangga mencegah ku ketika aku ingin mengambil pakaian ku di ruang pakaian.
"Aku kedinginan, yank." kata ku.
" Nanti biar aku yang menghangatkan mu , sayang." Rangga menggendong ku hingga ke ranjang.
"Kamu, jangan macem-macem, yank. Aku cape." Aku mendorong tubuh Rangga.
"Biarkan aku memeluk mu seperti ini." Rangga menciumi tengkuk leher ku.
Keesokan Harinya.
Aku bangun dan melihat Rangga yang masih tidur.
"Yank, bangun." Aku membangun kan Rangga. Tapi tetap Rangga nggak bangun-bangun.
"Kalau ngga bangun aku pergi." Aku beranjak pergi. Tapi Rangga langsung memeluk ku.
"Morning kiss." Rangga manja.
Ini contoh Rumah Reina dan Rangga. Bagus nggak?. Jangan lupa like dan komentar ya...😘😘😘😘
__ADS_1