
Ketika aku keluar kamar mandi, tiba-tiba tangan kekar memeluk ku dari belakang. Aku berontak.
"Wangi abis mandi ini yang bikin memabukkan." Bisik Rangga.
"Apa-apaan kamu, lepaskan. Aku mau pakai baju." Aku berusaha melepaskan tangan Rangga, tapi Rangga semakin mempererat dekapannya.
"Aku ngga akan melepaskan mu lagi, please biarkan sebentar aja." Rangga menciumi pundak ku.
"Ngga, aku ngga mau. Nanti kamu macam-macam lagi, ingat aku masih marah." Aku kesel. Tiba-tiba muncul ide gila ku. Aku tarik napas.
"Sayang, kamu ambil Cayra, ya. Aku mau nyusui kasihan dari tadi Cayra belum minum Asi, masa kamu tega sama anak mu kelaparan, Sayang." Kata Ku sedikit manja. Ingin rasanya aku mau muntah atas sikap ku ini.
"padahal Cayra ada di Box. Ketika aku mau mandi tadi hehehe." Batin ku.
"Baiklah, tapi sebelumnya..." Rangga langsung mencium bibir ku. Aku mendorong Rangga.
"Hehehe... Ini baru enak, tunggu aku. Ya sayang." Rangga terkekeh dan keluar kamar.
__ADS_1
"Rangga nyebillinn..." Teriak ku, aku langsung mengunci pintu kamar dan jendela.
"Huh... Akhirnya bisa tenang." Aku menghela napas. Aku mengambil baju.
Tok... Tok... Tok...
"Sayang, kamu ngerjain aku. Cayra ngga ada di kamar, cepat buka pintunya kalau ngga aku dobrak." Rangga agak kasar. Aku panik, lalu menggendong Cayra.
"Oiya, aku baru ingat di ruang pakaian ada pintu. Coba aku sembunyi disana." Aku memakai hijab dan bergegas ke ruang pakaian, lalu membuka pintu itu. Ternyata tersambung dengan kamar milik Vino, ku lihat Vino terbaring penuh luka lebam. Kemudian aku menghampiri Vino.
"Kok, Loe kesini?." Vino berusaha bangun.
"Ya elah, Gue nanya Loe malah balik nanya. Jawab dulu pertanyaan Gue." Aku agak kesal.
"Hehehe... Sory. Ini ngga apa kok, tadi cuma ada keributan kecil." Lirih Vino menahan sakit.
"Ini pasti si Rangga yang melakukan, sudah kelewatan dia." Aku geram dan emosi. Lalu aku keluar kamar. Di depan pintu bertemu Vina dan aku menitipkan Cayra ke Vina. Kemudian aku menghampiri Rangga.
__ADS_1
Ketika Rangga ingin memeluk ku, aku memperlitir tangan Rangga dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Lalu aku menaiki tubuh Rangga. Sahabat Rangga ingin menolong Rangga, di cegah Oleh Asisten Rangga. Mereka terdiam dan menonton.
"Kamu apakan Vino sampai luka gitu." Kata Ku marah.
"Tenaga kamu kuat, juga sayang." Goda Rangga.
"Jangan alihkan pembicaraan, aku tanya sekali lagi kamu apakan Vino." Aku menarik kerah baju Rangga.
"Jangan sebut nama laki-laki lain, dia pantas dapatkan. Karena dia sudah bawa kamu kabur." Rangga Geram.
"Dia itu ngga bawa aku kabur, tapi kamulah membuat aku kabur." Aku ngga mau kalah emosi. Posisi aku masih di atas Rangga.
"Maafin aku, Sayang. Aku bisa jelaskan kejadian yang sebenarnya, tapi sebelum aku jelasin kamu bisa turun ngga. Si steven ngga bisa di kontrol." Rangga mulai mereda dan malah menggoda ku. Dengan malu-malu aku turun dari atas tubuh Rangga, muka ku sudah seperti udang rebus. Rangga melihat ku tersenyum.
"Wajah ini mengingatkan ku waktu pertama kita bertemu, membuat ku ingin sekali menggoda mu." Goda Rangga, semua orang yang melihatnya ikut tertawa.
"Sue, Aku masih marah." Saking malunya aku langsung pergi ke kamar.
__ADS_1