
"Reina... Loe Reina kan?." Tanya Pria berbadan tinggi dan kurus.
"Siapa ya?." Aku merasa asing dengan wajahnya.
"Gue Bian, ingat ngga. Teman kecil Loe." Bian terbinar-binar.
"Ah, iya. Loe dulu yang suka ngompol itu, ya." Aku baru mengingatnya.
"Ih, ingatnya yang itu. Hahahaha... Ngga apa-apalah yang penting Loe ingat Gue, btw gimana kabar Loe" Bian Senang.
"Baik, Loe sendiri gimana? waktu itu kenapa Loe tiba-tiba menghilang?dan Loe ngapain kesini?." Tanya ku penasaran.
"Satu-satu nanyanya, bikin bingung harus jawab yang mana." Bian bingung.
"Hehehehe... jawab yang mana aj." Aku cengengesan.
"Kabar ku baik, waktu itu perusahaan Papi bangkrut, semua aset di jual termasuk rumah, apartemen dan mobil. Makanya Aku, Papi dan Mami pindah ke tempat Oma, tapi alhamdulillah sekarang sudah di atasi." Bian menghela napas.
"Maaf aku ngga tau, btw Loe kenapa disini?." Aku menghampiri Bian.
__ADS_1
"Gue kesini sama istri Gue, sebentar Gue panggil dia dulu." Bian mencari Istrinya.
Sejak awal Reina ngobrol dengan Bian, Rangga sudah melihat. Rangga kesel dan mengepal tangannya.
"Mommy di cariin ternyata disini." Adlan memanggil ku
"Iya, nih. Mommy kita nyariin dari tadi." Adline kesel. Aku melihat Rangga hanya diam saja.
"Kids, Deddy kenapa cemberut saja." Tanya ku, Si kembar hanya menaikan bahunya dan menggelengkan kepala.
"Rei, kenalkan ini istri Gue." Bian datang bersama istrinya.
"Hai, Gue Reina sahabatnya Bian dan kenalin juga suami gue dan kedua anak-anak gue." Aku mengulurkan tangan dan memperkenalkan Rangga dan Si kembar.
"Sudah jangan cemberut, Bian sahabat kecil aku. Aku tau kamu cemburukan?." Bisik Ku dan menggodanya.
"Siapa lagi yang cemburu, aku tuh kesel kamu itu asyik ngobrol sama pria lain dengan senyum indah mu." Rangga menarik hidung ku.
"Anak Loe kembar, lucunya. Umi semoga anak kita nanti kembar seperti mereka." Bian mengelus-elus perut Aisyah yang rata.
__ADS_1
"Iya, lucu kaya Deddynya ini." Rangga PD.
"Sudah berapa bulan?." Aku mendekati Aisyah.
"Baru 2 minggu, kak." Aisyah malu-malu.
"Selamat, Ya. Bi. Btw mampirlah kerumah Gue, Papa dan Mama pasti senang." Kataku
"Insya Allah, nih kartu nama gue." Bian memberikan aku kartu nama.
"Jadi Loe yang punya toko in?." Kata ku.
"Iya, jadi semua belanjaan Loe ini ngga usah bayar." Kata Bian memberikan paper bag yang tadi masih di kasir.
"Terima kasih, Gue jadi ngga enak. Gue balik lagi kapan-kapan kumpul lagi dan ketemu sama Randy." Kata ku
"Ok, Gue tunggu." Bian.
Aku, Rangga dan Si kembar kembali ke Mansion, semua belanjaan sudah di bawa oleh bodyguard Rangga.
__ADS_1
Sepanjang jalan Rangga menciumi tangan ku, sedangkan Si kembar tertidur. Tiba-tiba Rangga menepikan mobilnya.
"Jangan pergi menjauh dari ku, walau aku ini sangat menyebalkan. Aku tak sanggup bila kau tak ada di sampingku lagi, asal kamu tau tadi aku mencarimu hampir gila. Aku takut kamu pergi meninggalkan aku lagi, tapi ketika aku melihat mu tengah asyik ngobrol dengan pria lain hati ku terasa sakit. Rasanya aku ingin menonjok itu cowok, beraninya dia mendekati wanita ku. Rasa marah itu aku sembunyikan, karena ada dua buah hatiku. Aku ngga mau memberi contoh yang ngga baik. Jangan pernah lagi kamu mendekati pria mana pun, aku cemburu dan hati ku sakit. Karena Aku terlalu mencintaimu." Rangga memegang Pipi ku dan mencium bibirku.