
Kalimantan
Udara pagi hari sangat sejuk membuat ku nyaman dan rileks, berkali-kali aku menghirup udara pagi yang sangat segar. Seakan beban yang ku rasakan lama-kelamaan pudar.
Si kembar dan Cayra asyik bermain bersama Vino dan Vina di halaman depan, aku menghampiri mereka.
"Mommy..." Teriak Si kembar. Aku mencium pipi Si kembar.
"Mommy, Om Vino membuat taman bermain untuk kita bermain." Adline semangat.
"Kalian sudah mengucapkan terima kasih pada Om Vino." Aku menggandeng Si kembar.
"Sudah, Mom." Si kembar berbarengan. Lalu aku menghampiri Vino dan Vina.
"Vino, Vina. Gue sangat banyak terimakasih sama kalian, walau kalian bukan siapa-siapa Gue. Tapi kalian begitu pedulinya sama Gue dan anak-anak, kalian juga mau repot-repot membantu Gue dan anak-anak." Kata Ku.
__ADS_1
"Kak Rei salah, kita ini keluarga jangan pernah ngomong kita bukan siapa-siapa dan kita sangat senang membantu Kakak dan anak-anak." Vina memeluk ku. Aku tersenyum dan mengelus rambut Vina.
"Iya, Rei. Kita sudah menganggap Loe dan anak-anak itu saudara." Kata Vino.
"Iya, Terimakasih Saudara-saudara ku yang cantik dan ganteng." Kata Ku.
"Kids, ayo main lagi." Teriak semangat Vina.
"Lets go." Si kembar. Vina membawa anak-anak ke tempat permainan.
Vino menghampiri ku. Ada rasa canggung aku dan Vino.
"Ngga apa-apa kok, itu hak Loe mencintai siapa dan perasaan itu timbul bukan salah Loe. Itu sudah kehendak Allah." Aku tersenyum.
"Sumpah demi apapun, Loe itu wanita terhebat yang pernah Gue temui. Loe ngga pernah membedakan status mau miskin atau kaya, Loe baik banget sama semua orang. Pokoknya Loe seperti bidadari, Suami Loe sangat beruntung memiliki Loe." Vino memberikan dua jempol untuk ku.
__ADS_1
"Ah! Loe mah terlalu lebay." Aku memukul tangan Vino.
"Tapi suami Gue ngga merasa beruntung tuh, malah menyia-nyiakan Gue dan anak-anak." Aku jadi murung dan duduk
"Mungkin dia khilaf, Loe ngga mau mendengarkan penjelasan suami Loe." Vino menduduki bangku.
"Entahlah, tapi saat ini Gue masih sakit hati. Gue perlu menenangkan hati Gue." Aku menghela napas.
"Sorry bukan Gue mau ikut masalah keluarga Loe, Gue mau kasih tau sama Loe. Jangan pernah Loe dan suami Loe bercerai, karena akan mengganggu piskis anak. Kalian harus kubur ego masing-masing demi anak-anak Loe." Kata Vino.
"Thank's Vin, Loe sudah perhatian sama Gue dan anak-anak. Tapi saat ini Gue lagi perlahan-lahan menata kembali serpihan hati Gue." Aku menyenderkan tubuh ku.
"Jangan terlalu lama, kasihan anak-anak pengen ketemu Deddynya." Vino menepuk pundak ku dan pergi menghampiri anak-anak dan Vina.
"Ya Allah, bantulah Hamba Mu ini. Hamba bingung harus apa." Aku memandangi langit.
__ADS_1
Hari dan bulan sudah berganti, sampai saat ini Rangga dan Sahabat-sahabatnya belum menemukan ku. Memang tempat ini sulit terjangkau.
"Rang, jika kamu bisa menemukan aku dan anak-anak. Aku akan mencoba melupakan semua dan kembali ke sisi mu lagi." Kataku dalam hati sambil memandangi foto di galeri ponsel ku. Karena tempat ini susah sinyal Rangga dan Sahabat-sahabatnya ngga bisa menghubungi ku.