Cowok Nyebelin Suamiku

Cowok Nyebelin Suamiku
Marah


__ADS_3

Aku dan Rangga makan siang. Aku juga menceritakan kejadian tadi dengan Receptionis yang judes. Rangga marah dan kesel. Rangga dengan marah menghampiri meja receptionis. Rara dan Cinta kaget.


"Tadi siapa yang berpilaku kasar dengan istri saya." Rangga marah. Rara dan Cinta terdiam dan menunduk.


"AYO JAWAB!!!." Rangga tambah emosi.


"Maafkan saya pak." Rara memegang tangan Rangga, lalu Rangga menepis.


"Lex, Kamu pecat dia dan jangan kasih dia pesangon." Kata Rangga marah.


"Saya mohon pak, maafkan saya." Rara bersujud dan memegang kaki Rangga sambil menangis. Semua karyawan melihat. Ada yang mencibir dan ada yang merasa kasihan.


"Nyonya maafkan saya." Rara berpindah sujud dan memegang kakiku. Aku tak tega, lalu membantu membangunkan Rara.


"Yank, jangan kasihan dia. Dia bekerja untuk nafkahi keluarganya, kamu jangan kaya gitu." Aku memegang tangan Rangga.


"Tapi, yank. Dia..." Rangga bicara terpotong ketika melihat ku melotot.


"I-iya. Lihat betapa baiknya istri saya, mulai hari ini loe gue pindahin di bagian gudang. dan ingat loe jangan berulah lagi, kalau gue dengar atau lihat loe berulah. Tau akibatnya. Dan ini juga peringatan buat siapa aja yang berpilaku kasar di kantor saya terutama pada istri saya." Tegas Rangga.


"Terimakasih, Pak. Ibu. Saya minta maaf atas perilaku saya." Rara mencium tangan ku dan tangan Rangga.


"Ya, udah. Lain kali kamu jangan kaya gitu ya." Aku menepuk pundak Rara.


"Dan loe Cinta mulai hari ini kamu saya angkat menjadi senior receptionis." Kata Rangga merangkul ku.


"Terimakasih, Pak. Bu." Rara Menunduk-nundukan badannya.


Aku dan Rangga beranjak pergi. Rara dan Cinta bernapas lega. Semua karyawan yang menonton bubar ketempat mereka masing-masing.


Rangga kalau sudah marah dia tidak memandang itu cewek atau cowok, tua atau muda. Dia tidak peduli.


Alex sudah terbiasa melihat Rangga marah, apalagi kalau ada seseorang yang ingin menyakiti ku.


"Sudah, yank. Muka kamu jelek tau, kalau marah-marah." Ejek ku.


"Aku ngga suka kamu di gituin, yank." Rangga memegang bahuku.

__ADS_1


"Yang penting dia ngga ngapa-ngapin aku, Yank." Aku memeluk Rangga dan mencium bibir Rangga.


"Kamu, ya. Yank, sudah mulai nakal, ya." Rangga mencubit hidung ku.


"Sakit, Yank." Aku memegang hidungku.


"Maaf, Yank." Rangga mencium Hidungku.


Malam


Rangga mengajak ku ke cafe. Aku dan Rangga duduk dekat jendela. Rangga terus memandangi ku dan sekali-kali mencium tanganku.


"Yank, kita nyanyi. yuk. Kita duet" Aku mengajak Rangga ke atas panggung. Kami pun bernyanyi


Senyuman terlukis di wajahku


di saat ku mengingat kamu


tawamu manjamu membuatku rindu


tak sabar ingin bertemu


suara lembut menyapa aku


lembutnya selembut hatimu


ku sadar beruntungnya aku


hidupku tanpamu


takkan pernah terisi sepenuhnya


karena kau separuhku


berbagi suka duka


saling mengisi dan menyempurnakan

__ADS_1


karena kau separuhku


Rangga memegang tanganku, pengunjung histeris


suara lembut menyapa aku


lembutnya selembut hatimu


ku sadar beruntungnya aku


hidupku tanpamu takkan pernah terisi sepenuhnya


karena kau separuhku


berbagi suka duka, saling mengisi dan menyempurnakan


karena kau, kau separuhku


separuh jalan hidupku, kau separuhku, tak ada penyesalan


hidup lebih mudah bila kita berdua jalaninya


hidupku tanpamu takkan pernah terisi sepenuhnya


karena kau separuhku


berbagi suka duka, saling mengisi dan menyempurnakan


karena kau, kau separuhku


hidupku tanpamu takkan pernah terisi sepenuhnya


karena kau separuhku


berbagi suka duka, saling mengisi dan menyempurnakan


karena kau, kau separuhku

__ADS_1


__ADS_2