
Aku dan Rangga makan siang. Aku juga menceritakan kejadian tadi dengan Receptionis yang judes. Rangga marah dan kesel. Rangga dengan marah menghampiri meja receptionis. Rara dan Cinta kaget.
"Tadi siapa yang berpilaku kasar dengan istri saya." Rangga marah. Rara dan Cinta terdiam dan menunduk.
"AYO JAWAB!!!." Rangga tambah emosi.
"Maafkan saya pak." Rara memegang tangan Rangga, lalu Rangga menepis.
"Lex, Kamu pecat dia dan jangan kasih dia pesangon." Kata Rangga marah.
"Saya mohon pak, maafkan saya." Rara bersujud dan memegang kaki Rangga sambil menangis. Semua karyawan melihat. Ada yang mencibir dan ada yang merasa kasihan.
"Nyonya maafkan saya." Rara berpindah sujud dan memegang kakiku. Aku tak tega, lalu membantu membangunkan Rara.
"Yank, jangan kasihan dia. Dia bekerja untuk nafkahi keluarganya, kamu jangan kaya gitu." Aku memegang tangan Rangga.
"Tapi, yank. Dia..." Rangga bicara terpotong ketika melihat ku melotot.
"I-iya. Lihat betapa baiknya istri saya, mulai hari ini loe gue pindahin di bagian gudang. dan ingat loe jangan berulah lagi, kalau gue dengar atau lihat loe berulah. Tau akibatnya. Dan ini juga peringatan buat siapa aja yang berpilaku kasar di kantor saya terutama pada istri saya." Tegas Rangga.
"Terimakasih, Pak. Ibu. Saya minta maaf atas perilaku saya." Rara mencium tangan ku dan tangan Rangga.
"Ya, udah. Lain kali kamu jangan kaya gitu ya." Aku menepuk pundak Rara.
"Dan loe Cinta mulai hari ini kamu saya angkat menjadi senior receptionis." Kata Rangga merangkul ku.
"Terimakasih, Pak. Bu." Rara Menunduk-nundukan badannya.
Aku dan Rangga beranjak pergi. Rara dan Cinta bernapas lega. Semua karyawan yang menonton bubar ketempat mereka masing-masing.
Rangga kalau sudah marah dia tidak memandang itu cewek atau cowok, tua atau muda. Dia tidak peduli.
Alex sudah terbiasa melihat Rangga marah, apalagi kalau ada seseorang yang ingin menyakiti ku.
"Sudah, yank. Muka kamu jelek tau, kalau marah-marah." Ejek ku.
"Aku ngga suka kamu di gituin, yank." Rangga memegang bahuku.
__ADS_1
"Yang penting dia ngga ngapa-ngapin aku, Yank." Aku memeluk Rangga dan mencium bibir Rangga.
"Kamu, ya. Yank, sudah mulai nakal, ya." Rangga mencubit hidung ku.
"Sakit, Yank." Aku memegang hidungku.
"Maaf, Yank." Rangga mencium Hidungku.
Malam
Rangga mengajak ku ke cafe. Aku dan Rangga duduk dekat jendela. Rangga terus memandangi ku dan sekali-kali mencium tanganku.
"Yank, kita nyanyi. yuk. Kita duet" Aku mengajak Rangga ke atas panggung. Kami pun bernyanyi
Senyuman terlukis di wajahku
di saat ku mengingat kamu
tawamu manjamu membuatku rindu
tak sabar ingin bertemu
suara lembut menyapa aku
lembutnya selembut hatimu
ku sadar beruntungnya aku
hidupku tanpamu
takkan pernah terisi sepenuhnya
karena kau separuhku
berbagi suka duka
saling mengisi dan menyempurnakan
__ADS_1
karena kau separuhku
Rangga memegang tanganku, pengunjung histeris
suara lembut menyapa aku
lembutnya selembut hatimu
ku sadar beruntungnya aku
hidupku tanpamu takkan pernah terisi sepenuhnya
karena kau separuhku
berbagi suka duka, saling mengisi dan menyempurnakan
karena kau, kau separuhku
separuh jalan hidupku, kau separuhku, tak ada penyesalan
hidup lebih mudah bila kita berdua jalaninya
hidupku tanpamu takkan pernah terisi sepenuhnya
karena kau separuhku
berbagi suka duka, saling mengisi dan menyempurnakan
karena kau, kau separuhku
hidupku tanpamu takkan pernah terisi sepenuhnya
karena kau separuhku
berbagi suka duka, saling mengisi dan menyempurnakan
karena kau, kau separuhku
__ADS_1