
Aku sekarang tinggal di apartemen tempat pertama kalinya kami tinggal, karena aku bingung harus kemana. Aku tak mau merepotkan Orangtua, Mertua dan Sahabat-sahabatku.
Aku memandangi satu persatu foto yang kami pajang bersama. Tapi aku teringat kelakuan Rangga, membuat diri ku kecewa.
Aku menekukkan kaki dan menenggelamkan kepala di lutut, aku sangat sedih atas perilaku Rangga yang selama menikah Rangga tidak pernah mencintai ku. Selama ini aku merasa di bodohi.
"Ya, Allah Jadikanlah aku seseorang yang kepribadian penuh kesabaran, demi menghidupkan anak-anak ku." Aku bangkit dan menghapus air mata. Aku menuju kekamar sebelah, ternyata 3 buah hatiku tidur. Aku bersyukur masih mempunyai mereka, terlebih Si kembar sudah pandai menjaga Chayra.
Keesokan Hari
Aku mengantar Si kembar sekolah.
"Mommy jangan bersedih lagi, Ya." Adline memegang pipi ku.
"Iya, Mommy. Aku akan membuat Mommy bahagia." Adlan mencium pipi Ku. Aku merasa terharu atas ucapan Si kembar. Mereka sudah masuk kekelas.
__ADS_1
Aku menetes kan kembali air mata, mereka betapa pedulinya sama aku.
"Aku harus kuat." Kata ku dalam hati.
"Menangislah jika itu yang bisa membuat hati mu tenang, karena Allah kasih cobaan kepada kita dan Allah menyiptakan air mata untuk kita mendekati diri kepada Allah." Latifa memeluk ku.
"Loe yang sabar, ya. Ingat masih ada kita-kita yang selalu mendampingi Loe." Audy juga memeluk ku.
"Loe ngga sendiri, Rei." Tania Memeluk ku juga.
"Terimakasih kalian sudah mau peduli sama Gue." Aku menangis.
"Kita selalu ada untuk Loe." Tania.
"Gue butuh ketenangan, Gue mau ngajak anak-anak pergi ke suatu tempat yang bisa bikin hati Gue plong." Aku melepas pelukan sahabat-sahabat ku.
__ADS_1
"Baik, abis ini kita berlibur ke Bali kebetulan butik Gue Launching di sana. Bagaimana kalian mau kan?." Kata Chika.
"Mmm..." Kami saling pandang.
"Baik lah." Serentak.
Kami bergegas merapihkan pakaian dan barang-barang yang akan di butuhkan nanti di sana. Sebelum itu aku mendatangi ke rumah sakit untuk melihat Rangga untuk terakhir kalinya. Aku berniat akan tinggal di Bali untuk melupakan kesedihan.
Ku lihat Rangga menjaga dan merawat Arini, hingga terlelah. Wajah tampannnya yang sedang tertidur sangat ku rindukan, tapi sekarang tak dapat ku lihat lagi. Aku mendekati wajah Rangga dan mencium bibir yang ku rindukan. Setelah itu aku meninggalkan surat di tangan Rangga.
Aku pelan-pelan berjalan keluar. Tangan kekar tiba-tiba memelukku. Ku lihat ternyata Rangga.
"Jangan pergi, maafkan aku." Rangga menenggelamkan wajahnya di tengkuk leher ku.
"Maaf, Rang. Aku harus pergi. Kamu harus berbahagialah bersama Arini, aku tau kamu selama kita menikah kamu ngga pernah mencintai ku. Aku ngertiin kamu dan aku ngga mau menjadi beban mu. Please lepaskan aku, Rang." Aku berusaha melepas tangan Rangga, tetapi Rangga makin erat memelukku.
"Aku ngga akan melepaskan kamu, asalkan kamu tau. Arini memang dulu adalah hidup ku, tapi sekarang kamulah hati ku, Jiwaku dan Jantung ku. Aku ngga bisa hidup tanpa dirimu, Rei. Saat ini memang belum semua ingatan ku pulih, please jangan tinggalkan aku." Rangga membalikan badan ku dan mencium bibirku.
__ADS_1
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ Sedih juga ngetiknya. Terimakasih yang sudah dukungannya ya... Jangan lupa Vote, like dan komentarnya....