
"Maaf, Kids. Deddy harus menghampiri Mommy kalian." Rangga berdiri. Tapi Vino mencegahnya.
"Awas, jangan halangi Gue ketemu sama ISTRI Gue." Rangga menekan kata Istri, karena Dia sangat marah. Di Saat Dia sangat merindukan Reina dan anak-anak, tapi Reina dan anak-anak sangat bahagia bersama Vino. Seakan Vino sebagai penggantinya nanti.
"Sorry, bukannya Gue ikut campur masalah Loe, tapi biarkan Reina tenang dulu. Apalagi Dia saat ini masih menyusui, kasihan nanti Cayra." Kata Vino tenang. Vino memberanikan diri melawan Rangga, ingin melihat seberapa bisa kemampuan Rangga.
"Shitt." Rangga langsung meninju Vino.
Bug... Bug...Bug...
"Sudah Gue bilang Loe ngga usah ikut campur. Asal Loe tau selama ini Gue menahan rindu Gue sama Istri dan anak-anak Gue, tapi Loe dengan seenaknya melarang Gue dan membuat Istri dan anak-anak Gue pergi sangat jauh." Rangga terus memukul Vino.
"Kak Vino... Hiks... Hiks... Hiks..." Vina menangis
"Sudah, Rang. Lebih baik Loe temui Reina." Alex menarik tubuh Rangga. Wajah Vino banyak luka lebam dan darah segar mengalir di hidung dan bibirnya. Vino terkulai lemas.
__ADS_1
"Maafin Gue, Rei. Belum bisa menjaga Loe dari orang yang paling Loe benci." Lirih Vino.
"Sudah, kak. Lebih baik kita ngga usah urusin masalah mereka, kita ke kamar untuk obati luka kakak." Vina membopong Vino dibantu oleh Alex dan Rio. Untuk anak-anak sudah di ajak main sama Randy dan Adi.
Rangga berdiri di depan pintu kamar Reina, dia merasa ragu.
"Bismillah." Rangga menghela napas. Rangga membuka pintu Reina yang tidak terkunci. Di lihatnya Reina berdiri di atas balkon. Rangga langsung memeluk Reina dari belakang.
"Maafin, aku." Rangga mempererat pelukan. Tubuh yang selama ini sangat dirindukan, sekarang ada didekapannya.
"Please, maafin aku. Aku ngga bisa hidup tanpa mu, semenjak kamu dan anak-anak tidak ada. Hidupku terasa hampa. Maafin aku." Rangga meneteskan air mata, hingga air mata menyentuh pundak ku.
"Aku sesak, lepasin." Kata Ku mulai berontak.
"Tapi janji kamu jangan pergi lagi." Rangga masih memeluk ku.
__ADS_1
"Iya, lepasin." Kata Ku kesel. Rangga melepas pelukan dan membalikan tubuh ku.
Aku kaget wajah Rangga penuh luka dan terlihat kusut. Tapi Rasa marah ku lebih besar aku berusaha ngga perduli dan aku melepas hijab. Lalu duduk di ranjang, Rangga mengikuti ku.
"Sayang, Maafin aku. Aku tau kesalahan ku kali ini sangat fatal, kamu boleh menghukum ku apa aja asal kamu jangan pergi lagi dari sisi ku dan mendiamkan aku." Rangga memegang tangan ku.
Tiba-tiba Rangga mencium bibir ku. Aku kaget dan tidak membalas ciuman Rangga, tidak ada balasan dari Reina Rangga melepas ciuman. Kening kami masih bersatu.
"Bibir ini yang membuatku semakin merindukan mu, sayang. Aku mohon maafin segala kesalahan ku." Rangga menghapus sisa-sisa air liur yang menempel di bibir ku.
"Please sayang, bicaralah. Kamu rasakan dari dulu hingga sekarang detak jantung ku selalu berdetak kencang bila kamu ada di samping ku selamanya selalu begitu." Rangga meletakkan tangan ku di dadanya. Aku merasakan detak jantungnya, sama yang kurasakan saat ini.
"Ya Allah, apa yang harus kulakukan sekarang?apakah aku harus memaafkannya." Batin Ku. Air mata ku menetes.
__ADS_1