
Aku dan Rangga pulang ke Mansion, di perjalanan pulang. Tiba-tiba mobil yang kami tumpangi bannya kempes, hingga mobil ongleng.
"Sayang, awas." Aku ketakutan dan memegang lengan Rangga.
**Bbrruukkk... Bbrruukkk...
Mobil berguling dan menabrak pohon, hingga aku tidak sadarkan diri. Lalu Aku membuka mata ku perlahan-lahan, kepalaku terasa pusing dan kulihat Rangga tidak sadarkan diri. Di keningnya mengeluarkan banyak darah, kepalanya terbentur hebat di setir dan kena serpihan kaca.
"Sayang..." Aku menggoyangkan tubuh Rangga, tapi ngga ada respon. Aku panik dan membuka pintu dan berpindah membuka pintu mobil di sisi Rangga, dengan sisa tenaga ku aku menari pintu mobil dan berhasil. Karena badan Rangga agak besar, aku menyeret Rangga keluar mobil dan berhasil.
"Sayang..." Aku menepuk pipi Rangga tetap tidak ada respon. Lalu aku kembali ke mobil dan mengambil Ponsel juga tas.
Ketika aku mau mengambil tas dan ponsel, aku mencium bau angus. Dengan cepat aku ambil tas dan ponsel, kemudian menuju ketempat Rangga.
Dduuaarr...
Mobil meledak untung aku dan Rangga sudah menjauh dari mobil. Aku melihat mobil meledak, air mata ku menetes dan seluruh badan ku gemetar. Di tambah Rangga tidak sadar. Aku melihat kekiri dan kanan hanya pepohonan saja.
Masih dalam gemetar aku menghubungi Alex.
"Lex, tolong gue." Lirih ku.
__ADS_1
"Loe kenapa, Rei?." Alex panik.
"Kami kecelakaan." Aku menahan sakit.
"APA!!... Posisi Loe dimana?Loe cepat share Lok." Alex panik, lalu aku share Lok.
Tak lama kemudian, Alex dan bantuan datang menggunakan helikopter. Aku dan Rangga di bopong ke helikopter.
Selama perjalanan ke rumah sakit aku menatap Rangga yang sedang ditangani sementara oleh dokter. Aku sudah tak tahan, lalu aku tak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian
Aku membuka mata perlahan-lahan dan melihat sekeliling sudah Ada Orangtua ku dan Rangga. Tapi aku tak melihat Rangga.
"Rangga masih di ruangannya dan tak sadarkan diri." Jelas Mama Rangga menangis, Mama Ku memeluk Mama Rangga.
"Rangga baik-baik aja kan?Aku mau lihat Rangga." Aku mulai khawatir dan mau turun keranjang.
"Tunggu, Nak. Kamu belum sembuh benar." Mama Ku mencegah ku.
"Aku tak bisa, Ma. Aku mau lihat Rangga." Aku kekeh.
__ADS_1
Mereka akhirnya mengalah dan membawaku keruangan Rangga, aku melihat Rangga seluruh tubuhnya di pasang alat.
"Sayang, bangun. Kamu jangan kaya gini terus, aku takut. Bangun sayang." Aku memegangi tangan Rangga dan meneteskan air mata.
Rangga perlahan-lahan menggerakkan jari-jarinya dan membuka mata.
"Ma, Pa. Dimana aku?." Lirih Rangga menatap kedua orangtuanya.
"Sayang, kamu di rumah sakit." Aku senang Rangga sudah sadar.
"Loe siapa?." Rangga menepis tangan ku, aku kaget.
"Sayang, aku istrimu Reina." Kata ku sedih.
"Istri??Gue ngga pernah punya istri kaya Loe." Rangga menatap ku dengan penuh kebencian.
"Ma, Pa. Ini gimana Rangga ngga ingat aku." Kata ku sedih dan memeluk Mama Rangga.
"Mama kenapa meluk wanita itu." Rangga kesel.
"Rangga, Sayang. Ini Istri kamu Reina. Dan kamu juga sudah mempunyai 3 anak." Papa Rangga mendekati Rangga.
__ADS_1
"Ngga mungkin Rangga nikah sama dia, dia itu musuh Rangga di sekolah." Rangga membanting gelas di meja.
"Kita memang musuh waktu sekolah, tapi aku dan kamu sudah menikah. Kita juga sudah punya anak yang lucu-lucu dan menggemaskan." Aku menghapus air mataku dan mendekati Rangga.