
Bali
Pagi yang cerah Vino dan Vina menghampiri kamar Reina untuk mengajak Si kembar dan Baby Cayra bermain di taman sekitar hotel
Tok... Tok... Tok...
"Assalamu'alaikum... Kak... Kak Reina..." Vina mengetuk pintu kamar.
Kkrreekk... Pintu kamar terbuka.
"Tante Vina dan Oom Vino..." Teriak senang Adline dan memeluk Vina dan Vino. Vina mencium Adline.
"Jawab salam dulu, sayang." Kata Ku dari dalam.
"Eh!, Iya. Wa'alaikumsalam..." Adline menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Kalian sudah siap? yang lain sudah menunggu di taman." Vino.
"Sudah, yuk." Kata ku.
"Come on kids, let's go." Vino menggandeng Si kembar. Aku menggelengkan kepala melihat tingkah Vino dan Si kembar.
"Kak Rei, sini biar Baby Cayra aku yang gendong." Vina menggendong Cayra. Kami menuju taman.
__ADS_1
Di Taman
"Vino dan Vina lama banget manggil Reina." Kata Audy agak kesel.
"Iya, nih keburu sinar matahari menyengat." Tambah Chika.
"Gaes, para suami hendak menyusul kita. Termasuk Rangga." Latifa mendapat kabar dari Alex suaminya.
"Kita harus bekerja sama agar Reina ngga kabur, saat ketemu Rangga." Kata Tania.
"Iya, benar selama ini kita kan ngga biarkan Reina kabur jauh-jauh." Kata Chika.
"Iya, tapi aku merasa ngga enak sama Kak Reina. Selama ini kita bekerja sama dengan para suami dan bohongi Kak Reina." Latifa menunduk sedih.
Aku mendengar pembicaraan mereka hatiku sakit, ternyata sahabat ku membohongi ku. Aku merasa orang bodoh. Air mata menetes, lalu mengambil ahli Cayra dan menggandeng Si kembar.
Aku berjalan cepat. Vino dan Vina mengikuti ku. Sesampai di kamar hotel aku memasukan pakaian ku dan anak-anak.
"Rei, Loe mau kemana?." Tanya Vino.
"Gue harus pergi sebelum Rangga dan kawan-kawannya datang, Gue belum siap ketemu Rangga." Aku terus meneteskan air mata dan mengingat perlakuan Rangga pada ku dan anak-anak.
"Apa Loe yakin dengan keputusan loe ini?anak-anak loe berhak ketemu Daddynya." Vino menghampiri Reina.
__ADS_1
"Iya, Kak. Anak-anak loe masih kecil-kecil dan butuh kasih sayang Deddynya juga." Vina memegang tangan Reina.
"Kalian ngga bakalan ngerti, gue sudah sakit banget atas perlakuan Rangga ke gue dan anak-anak." Aku menghempas tangan Vina.
"Oke, kalau itu keputusan loe. Izinkan Gue sama Vina ikut Loe. Gue janji ngga akan ngasih tau siapa-siapa, termasuk sahabat-sahabat Loe. Gue ngga sanggup melihat loe sendirian ngurus mereka. Ayo Vin, kita juga siap-siap, Loe di sini nunggu kita. Jangan kemana-mana dulu." Vino menarik tangan Vina.
Beberapa menit kemudian, Vino dan Vina datang sudah membawa koper. Vino membantu membawakan barang-barangku.
"Kak Vino, Lebih baik kita kemana nih." Vina cemas.
"Untuk sementara kita ke Kalimantan, kebetulan kakak abis beli villa disana. Tempatnya pas untuk kita sembunyi dulu." Vino melihat Reina dari kaca spion.
"Maaf ya, Gue sudah merepotkan kalian berdua." Kata ku sambil memeluk Si kembar.
"Mommy, kenapa kita harus sembunyi dari Deddy?." Tanya Adline mendongak melihat Ku.
"Kamu bodoh, Deddy itu sudah mengusir kita dan bikin Mommy sedih." Adlan mengetuk kepala Adline.
"Aww... Sakit. Lan-Lan jahat. Mommy Lan-Lan tuh." Adline bersikap manja.
"Dasar tukang ngadu." Kesal.
Hai Guys... Maaf ya baru update... Author lagi sibuk banyak kerjaan... Dan maaf juga kalau ada alur ngga nyambung... Maklum Author lagi ngga Fokus... Author banyak terimakasih kalian masih tetap setia dan komentarnya membuat Author semangat... Sekali Lagi thank's Guys... Jangan lupa Vote, Like, Vote dan Komentarnya ya...
__ADS_1