Cowok Nyebelin Suamiku

Cowok Nyebelin Suamiku
Hukuman Buat Rangga 2


__ADS_3

Drrt... Drrt...


Ponsel ku berdering. Ku lihat ternyata alarm menandakan waktu sudah subuh, lalu aku membangunkan Rangga.


"Sayang, bangun... Kita sholat." Aku menggoyangkan tubuh Rangga.


"Sana-sana, ganggu gue tidur aja." Rangga menepis tangan ku.


"Dasar suami nyebelin." Aku kesel, lalu menendang tubuh Rangga hingga jatuh ke lantai.


"Aduh! Kurang ajar banget." Rangga bangun hendak membalas. Aku melototin Rangga.


"APA!!." Aku melipat tangan di dada sambil menatap tajam kearah Rangga.


"Eh!, sayang. Maaf." Rangga menunduk dan menggaruk rambut yang tidak gatal.


"Hari ini kamu ngga akan aku kasih jatah." Aku beranjak ke kamar mandi.


"Sayang, aku minta maaf. Please jangan marah." Rangga ingin masuk ke kamar mandi.


Bbrruukk. Aku menutup pintu kamar mandi dengan keras, hingga terkena hidung Rangga.


"Aduh, Sue hidung gue kena, untung Loe istri gue yang paling gue sayang dan cinta sama Loe. Kalau bukan sudah gue bogem." Gerutu Rangga sambil mengelus hidungnya.


Aku mendengar gerutuan Rangga langsung memarahi Rangga.


"Apa kamu bilang, fix selama seminggu kamu ngga aku kasih jatah." Kata ku teriak dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Kok gitu, sayang. Please aku minta maaf, sayang buka dong pintunya." Rangga terus mengetuk pintu kamar mandi.


Saking kesel dengar ketukan pintu, lalu aku keluar dari kamar mandi.


"Berisik banget, aku mau shalat dibawah." Aku menyenggol kasar lengan Rangga.


"Please maafin aku ya." Rangga memegang tanganku.


"Kamu sholat dulu aja." Kataku melepas tangan Rangga, lalu pergi ke kamar bawah. Rangga melihat ku keluar kamar, merasa frustasi.


"Aarrgghhh, Shitt." Rangga mengacak-acak rambut.


"Hahaha... Rasakan, aku kerjain. Ngga kasih jatah seminggu karena aku lagi haid." Aku tertawa, ketika sudah sampai kamar bawah.


Setelah Rangga selesai Sholat Subuh langsung menghampiri ku di kamar bawah.


Rangga memasuki kamar dan mencari keberadaan istri tercintanya. Rangga mulai cemas tak melihat istrinya di kamar, ia takut istrinya kabur lagi. Kemudian Dia berteriak memanggil nama istrinya.


"Sayang, Reina kamu dimana. Please jangan tinggalkan aku." Rangga meneteskan air mata.


"Apaan sih, berisik banget." Aku Tiba-tiba muncul di belakang Rangga sambil menggendong Cayra.


Rangga kaget dan sekaligus merasa senang mendengar suara istrinya.


"Sayang, please jangan pernah tinggalkan aku. Aku ngga bisa hidup tanpa mu." Rangga memeluk ku dan menangis.


"Kamu kenapa lagi?." Aku merasa aneh atas sikap Rangga.

__ADS_1


"Tadi aku kira kamu pergi lagi." Rangga mengelap air matanya.


"Ada-ada aja, tadi itu aku abis ke kamar Cayra. Dasar cengeng, Bi tolong pegang Cayra sebentar." Aku memberikan Cayra ke Bi siti yang kebetulan lewat.


"Kamu ikut aku, untuk memberi hukuman kamu." Aku menarik Rangga.


"Dengan senang hati." Rangga cengengesan.


"Dasar aneh, tadi nangis-nangis ngga jelas, sekarang malah cengengesan ngga jelas." Aku menggelengkan kepala.


"Aneh-aneh begini suami kamu loh." Rangga memasang wajah imut.


"Iya, kamu duduk." Aku memaksa Rangga duduk.


"Kamu mau ngapain?." Rangga melihat aku membawa alat make up.


"Ya, jelas memberikan hukuman buat kamu. Sudah kamu diam aja, tanpa protes kalau kamu protes hukumannya bertambah." Kataku.



Aku memulai memake up Rangga dengan serius.


"Kalau hukuman di ranjang aku siap, sayang." Rangga menggoda ku.


"Sstt.... Diam. Nanti kamu Benar-benar ngga aku kasih jatah untuk selama-lamanya." Bentak ku.


"Iya, aku diam." Rangga langsung diam.

__ADS_1


__ADS_2