
Tibalah para suami di lokasi penculikan.
"Gila ini jauh banget dari pemukiman warga, bisa-bisanya ntuh penjahat nyari tempat jauh banget." Adi bercak pinggang.
"Ya ini ujungnya hutan, gue jadi merinding." Rio memegang tengkuk lehernya, yang tiba-tiba dingin.
"Sudah jangan banyak bacot, lebih baik kita berpencar kita bagi dua kelompok, Gue dan Alex posisi ke kanan sedangkan Adi, Rio dan Randy ke kiri ada apa-apa segera hubungi Gue dan Alex." Rangga memberikan Titah kepada sahabat-sahabatnya.
"Siap." Serentak.
"Sebelumnya kita harus berdoa, bismillahirohmanirohim Ya Allah lindungi kami semua untuk menyelamatkan keluarga kami, Amiin YRA." Alex memimpin doa.
"Bismillahirohmanirohim." Serentak.
Mereka mulai aksi.
Alex menendang pintu
Bbrruukk
Pintu sayap kiri hancur, Rangga dan Alex masuk sudah di cegah Oleh anak buah penculik.
Dor... Dor... Dor
Suara tembakan. Rangga menghabiskan anak buah penculik.
"Cepat kasih tau di mana anak dan istri gue." Bentak Rangga.
"Me...mereka didalam." Anak buah satu dan pingsan.
__ADS_1
"Sudah biarkan, cepat kita kedalam." Alex menepuk pundak Rangga.
Disisi lain
Randy menembak pintu kanan dengan gaya coolnya.
Dor... Dor... Dor...
"Cepat masuk, kalian." Perintah Randy.
Mereka masuk dan ketemu Rangga dan Alex.
"Loh, kalian kok disini." Adi Bingung.
"Ebeg ini ruangan jadi satu, cuma pintunya dua. 😂😂😂." Alex menjitak kepala Adi.
"Ini kalian yang abis semua." Tanya Rio melihat banyak orang yang tergeletak di lantai.
"Hebat bro,👍👍." Adi mengacungkan kedua jempol.
"Ayo, kita masuk bareng aja kalau gitu. Ri Loe maju dulu." Rangga mendorong Rio.
"Aman, bro." Sahut Rio.
Adi maju
"Angkat tangan kalian sudah kami kepung." Adi mengarahkan pistol ke arah penculik.
__ADS_1
Prok... Prok... Prok... Penculik pertama bertepuk tangan.
"Selamat datang di tempat peristirahatan terakhir kalian. Hahaha... Cepat kepung dan abisi mereka." Penculik Pertama.
Rangga, Alex, Adi, Randy dan Rio di kepung oleh anak buah penculik.
"JANGAN BANG BBAARRAA!!!." Teriak Latifa.
"Abang ngga ingat aku, aku Latifa gadis manja dan cengeng yang selalu mendekati Abang Bara." Latifa memandang penculik pertama.
Penculik pertama melepas masker.
"Berisik Loe, gue bukan Bara." Penculik pertama menodongkan pistol ke arah Latifa.
"UUMMII!!! LOE KALAU BERANI JANGAN SAMA PEREMPUAN. SINI SAMA GUE." Teriak Alex Marah.
"Abang ingat tidak akan selalu menjadi Abang Bara ku yang selalu lindungi aku dari orang jahat." Latifa mendekati Bara.
Ada lintasan bayangan anak kecil di pikiran Bara. Lalu Bara menurunkan pistol.
"Loe Ifa." Bara menatap Latifa.
"Ya, Bang. Aku Ifa, Abang jangan lakuin ini, membuat Ifa takut." Latifa mengambil ahli pistol dengan gemetaran.
"Mereka jahat Ifa, mereka sudah membunuh adik abang Arini." Bara sedih dan duduk di kursi kayu.
"Abang, dengerin Ifa, Mba Arini itu dulu mau merusak rumah tangga Rangga dan Reina dengan memanfaatkan penyakitnya. Kami sebagai sahabat Reina hanya bisa menyadarkan mba Arini dan kemudian sebelum meninggal mba Arini sadar dan meminta maaf sama Rangga, lalu mba Arini meninggal dengan wajah tersenyum seperti tidak ada beban. Ifa minta Abang jangan jadi Abang yang kejam buat mba Arini, karena mba Arini akan sedih melihat Abang seperti ini. Abang harus jadi Abang Bara yang selalu sayang dengan adik-adiknya. Abang Bara harus sholat dan kirim doa untuk mba Arini, agar Abang bisa mengikhlaskan kepergian mba Arini dan menuntun mba Arini ke surganya Allah." Latifa berjongkok dan memandang wajah Bara.
***Guys... Author lagi ngga enak badan, Flu berat. Untuk sementara Upnya sedikit-Sedikit.
Maaf ya...🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih....😘😘😘***