
1 Bulan Kemudian
Di pagi hari, Aku terbangun dan melihat jam sudah pukul 6. Aku memindahkan tangan Rangga secara perlahan-lahan. Tiba-tiba aku merasa mual. Aku berlari menuju kamar mandi.
"Hhhoooeeekkk..." Aku muntah-muntah dan seluruh badanku lemas. Rangga terbangun mendengar aku muntah-muntah, lalu Rangga mendekatiku dan memijat leher belakang ku.
"Sayang, kamu kenapa?." Rangga membantu ku bangun.
"Ngga tau tiba-tiba aku mual banget." Badan ku lemas dan pandangan ku buram, Aku tidak sadarkan diri.
Rangga panik, dia menggendong Reina menuju mobil dan melajukan mobil kearah rumah sakit.
"Sayang, bangun. Jangan bikin aku khawatir, Sayang." Rangga mengelus rambut Reina.
Tiba di rumah sakit, Reina langsung di tangani Dokter. Rangga mondar-mandir, dia khawatir terjadi apa-apa dengan Reina. Tak lama kemudian, Dokter keluar dan menghampiri Rangga.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya?." Cemas Rangga.
"Sebaiknya di cek terlebih ke spesialis kandungan, ini perkiraan saya istri bapak hamil." Jelas Dokter Vano. Mata Rangga terbelalak.
"Benarkah, Dok Istri saya hamil?" Rangga Tidak percaya.
__ADS_1
"Itu cuma perkiraan saya, pak. Coba bapak ke spesialis kandungan, Bapak dan ibu saya antar ke spesialis kandungan." Kata Dokter Vano. Rangga memasuki ruanganku. Aku menatap Rangga, badan ku terasa lemas.
"Sayang, kamu dah enakan?." Rangga mencium kening ku.
"Dah mendingan, memang aku sakit apa?." Aku menatap Rangga lemah.
"Ngga sakit apa-apa, sekarang kita ke ruangan spesialis kandungan." Rangga membantu ku bangun dari ranjang.
"Kok spesialis kandungan?." Aku bingung.
"Kemungkinan kamu hamil, sayang." Rangga menggendong ku dan menaruh ku di kursi roda.
"Selamat, ya. Ibu hamil sudah berjalan 5 minggu." Dokter Tya.
"Yang mana anak saya, Dok." Rangga memajukan wajahnya kearah monitor.
"Yang ini pak, masih segede kacang hijau." Dokter Tya memberitahu.
"Selamat, ya sayang." Rangga mengecup kening ku. Aku terdiam, masih tidak percaya.
"Ada yang mau ibu tanyakan?."
__ADS_1
"Dok, bagaimana hilangi rasa mual ngga enak." Aku menghirup minyak angin.
"Itu sudah hal biasa yang di alami semasa kehamilan, setiap ibu merasa mual makan permen untuk hilangi rasa eneg dan biasakan memakan makanan bernutrisi dan banyak vitamin, dan hormon ibu hamil itu suka berubah-ubah. Bapak harus jadi suami ya sigap." Dokter Tya menjelaskan. Aku mengangguk kepala.
"Oia, Dok. Boleh ngga si kalau saya nengokin anak saya?." Rangga menggaruk-garuk kepala yang tidak gatel. Aku mencubit lengan Rangga.
"Boleh, asal jangan terlalu keseringan dan pelan-pelan aja, pak." Dokter Tya tersenyum.
"Baiklah, Dok. Saya dan istri saya undur diri."
Rangga memberitahukan kepada orangtua, mereka sangat senang mendengar kabar Reina hamil.
"Rang, Bagaimana sekolah ku nanti dan apa kata orang-orang." Aku sedih.
"Jangan dengerin kata orang, mang kamu ngga senang kalau kamu hamil." Rangga memegang tangan ku.
"Bukan itu, Rang. Kita kan tidak punya buku nikah, nanti di sangka mereka kita anak nakal. Aku ngga mau, Rang." Aku meneteskan air mata.
"Soal itu aku yang urus, yang penting kamu dan dedek baik-baik aja. Jangan mikirin macem-macem." Rangga memelukku.
Beri like biar semangat nih buat up nya lagi.
__ADS_1