
Keesokan Pagi Hari
Kami semua kembali ke Indonesia, menggunakan pesawat jet pribadi Rangga. Seperti biasa para istri dalam satu tempat duduk dan mengobrol seputar film darkor yang baru mereka tonton, kadang ekspresi wajah mereka marah,senang dan sedih. Para suami hanya melihat Kami heran.
Tiba Di rumah
"Assalamualaikum..." Teriak ku.
"Wa'alaikumsalam..." Serentak Mami, Papi dan anak-anak ku.
"Mommy,Daddy..." Serentak Adline dan Adlan menghampiri aku dan Rangga.
"Anak Mommy yang cantik dan ganteng." Aku mencium pipi Adlan dan Adline.
"Anak Daddy juga, Yank." Kata Rangga yang ikut mencium Adlan dan Adline.
"Mommy dan Daddy bawa oleh-oleh ngga?." Adline polos.
"Bawa dong sayang." Rangga memberikan masing-masing paper bag ke Adlan dan Adline. Mereka sangat senang mendapatkan mainan khas korea.
__ADS_1
"Rei, kamu bawa ngga pesanan Mami?." Mami Rangga menghampiri ku.
"Tenang, Mi. Nih sudah aku susun dengan rapi." Aku memberikan paper bag warna hijau.
"Emang apaan si, Mi." Papi Rangga penasaran dan sama-sama melihat isi paper bag.
"Terimakasih, Sayang. Kamu memang menantu mami is the best." Mami Rangga memelukku. Mami Rangga sangat senang.
Isi dari paper bag Mami Rangga itu, adalah foto-foto asli cogan artis Korea dan DVD plus ada tanda tangan cogan artis Korea. Mami Rangga juga penggemar darkor. Kalau sudah berkumpul dengan Mami Rangga, Kami nonton darkor hingga pagi sampai film itu tamat.
"Yaelah, Mi. Aku kira apaan, dasar para wanita." Rangga agak cetus.
"Ya Ampun, kalian sudah nikah dan punya anak tapi tingkah laku kalian seperti anak-anak." Papi Rangga yang ikut nimbrung.
"Asal Mami tau, kemarin disana menantu Mami ini menemui itu artis Korea sampai peluk-peluk dan seperti gadis remaja lain yang belum punya suami." Rangga kesal.
"Cih... Dasar cemburuan. Aku cape." Aku kesal, aku ngga mau menambah emosi ku. Lalu aku beranjak ke kamar.
Tiba dikamar, aku rebahkan tubuh ku di ranjang. Aku memejamkan mata, karena hari ini sangat melelahkan.
__ADS_1
Rangga memasuki kamar, dia melihat Reina yang sedang tidur tanpa mengganti pakaian dan melepas sepatu. Rangga melepaskan sepatu dan mengganti pakaian Reina.
"Sayang, kamu sangat menggairahkan." Rangga melihat gunung besar Reina, membuat Rangga terangsang.
Rangga tengah asyik bermain di gunung kembar. Rangga begitu rakus melumatkan seperti bayi yang kehausan, tangan Rangga sudah masuk ke dalam Celana dan memasuki ke sebuah lobang.
Aku terbangun merasa sesuatu di gunung kembar ku. Ku lihat Rangga tengah asyik bermain di gunung kembar ku, aku masih kesel atas perkataan Rangga tadi. Lalu aku mendorong Rangga.
"Kamu apaan." Aku duduk dan mengambil selimut untuk menutupi tubuhku yang setengah telanjang.
"Aku pengen itu." Rangga dengan wajah lugu.
"Ngga enak aja kamu, setelah kamu ngomong kaya gitu. Pergi jangan ganggu aku, aku cape hadapi kamu yang cemburuan." Aku beranjak kekamar mandi. Rangga dengan sigap memeluk ku dari belakang.
"Maaf, Yank. Aku cemburu takut kamu meninggalkan ku, karena aku terlalu mencintaimu, Yank." Rangga mencium tengkuk leher ku.
"Aku tau kamu sangat mencintaimu, tapi jangan seperti itu. Aku sudah kasih tau kalau mereka hanya idolaku saja, sedangkan kamu itu belahan hati ku." Aku membalikan badan.
"Ya, maafin aku. Yank. Aku ngga sanggup kalau kamu marah, apalagi kamu ngga biarin Steven masuk rumah." Rangga cengengesan.
__ADS_1