
Beberapa Bulan Kemudian
Aku, Tania, Chika dan Latifa sedang bertamu di rumah Audy. Kandungan Audy sudah sangat besar dan tinggal menghitung hari untuk melahirkan, jadi Rio tidak mengijinkan Audy pergi kemana-mana dulu. Rio Pun sudah hampir sebulan di rumah menemani sang istri tercinta.
Ketika kami tengah asyik ngobrol dan bercanda, tiba-tiba perut Audy sakit.
"Aduh, Yank. Perut ku sakit banget." Audy lirih kesakitan, tangan kanannya memegang perut dan tangan kirinya mencengkeram tangan Rio.
"Kamu kenapa, Yank." Rio panik.
"Kan tadi udah aku bilang perut aku sakit banget, pakai nanya lagi." Audy emosi
"Rio, kayanya Audy mau melahirkan. Cepat siap-siap." Kata ku panik.
"Hah." Rio melongo.
"Woy, cepatan jangan bengong." Tania memukul tangan Rio.
"Eh, Iya. Kamu tunggu di sini dulu, Yank. Bentar apa yang harus gue siapkan." Rio masih bingung.
"Aduh, Yank. Kamu kok jadi lemot. Aaarrrggghhh... aku ngga tahan." Teriak Audy.
"Aduh-aduh gue harus gimana." Rio mondar-mandir.
__ADS_1
"Loe gendong bawa ke mobil biar nanti perlengkapan biar Bibi Asih aja yang siapin." Chika menepuk pundak Audy. Latifa melihat Audy kesakitan, Ia merasa pusing dan jatuh pingsan.
"Lah, ini anak malah pingsan. Yuk, kita gotong dan bawa kerumah sakit sekalian." Kata ku.
Aku, Rio, Audy dan Tania satu mobil, sedangkan Chika, Latifa, Bi Asih dan Mamang Dudung.
Di dalam mobil Audy menarik-narik rambut Rio dan berteriak kesakitan. Aku dan Tania menghubungi para suami, tak lupa menghubungi Alex untuk memberitahukan Latifa pingsan.
Tiba di rumah sakit, Audy langsung di bawa ke ruang bersalin. Rio mendampinginya, walau saat ini penampilannya sudah acak-acakan. Rio tetap menemani Audy.
Para suami datang, Alex mencari Latifa.
"Ladys, kemana istri gue." Alex panik.
" Yank, sakit." Audy menjambak rambut Rio.
"Sabar, Yank. Sebentar lagi anak kita akan melihat dunia." Rio menenangkan Audy.
"Bapak Rio dan Ibu Audy, ini baru pembukaan 3." Dokter Clara sopan.
"Hah, mang harus ada pembukaan. Kaya mau ada acara aja, Dok." Rio dengan konyolnya.
"Iya, Pak. Pembukaan yang di maksud itu untuk membuka jalan lahir si baby." Dokter Clara menjelaskan.
__ADS_1
"Emang harus berapa lama pembukaannya dan ada berapa pembukaannya?." Tambah Rio.
"Pembukaan itu tergantung waktunya dan kami tak bisa mastiin waktunya, Pembukaan itu biasanya sampai pembukaan 10 Baby baru bisa lahir." Kata Dokter Clara.
"Yank, lama banget pembukaannya. Aku sudah sakit banget." Audy menatap Rio sedih.
"Sabar, ya. Bu. Saat ini Ibu berdoa aja biar cepat dan lancar lahirannya." Dokter Clara memegang tangan Audy.
"Aaarrrggghhh... Sakit, Yank." Audy menggigit tangan Audy.
"Aduh-aduh, Yank sakit tangan aku." Rio merintih kesakitan.
"Biar kamu juga rasain sakit." Audy agak kesal.
"Aaarrrggghhh..." Audy sudah beberapa kali merasakan perutnya sakit.
"Yank, maafkan aku yang pengen punya Baby, kalau bisa aku mau menggantikan posisi kamu." Rio merasa bersalah.
"Ngga apa-apa, Yank. Ini sudah kewajiban aku sebagai istri yang akan melahirkan anak kita, Yank." Audy memeluk Rio.
"Terimakasih, Yank. Aku tambah Love sama kamu." Rio Mencium kening Audy.
"Aku Juga tambah Love sama kamu." Audy mempererat pelukan.
__ADS_1
Pembukaan sudah sampai 10 dan Audy sudah siap melahirkan normal. Kehebohan Audy dan Rio di ruang bersalin membuat dokter dan perawat tertawa melihatnya.