
Aku terbangun dan merasakan badanku sakit semua, ini ulah Rangga. Selama di tinggal perkasaannya bertambah, aku kewalahan.
Aku memandangi wajah tampan Rangga.
"Kamu tetap aja tampan, makanya membuat aku takut. Semoga ke depannya tidak ada orang ketiga, kita hidup bahagia selamanya. I Love you." Aku mengecup bibir Rangga.
"I Love you too." Rangga bangun dan tersenyum, lalu memeluk ku.
Wajah ku memerah, lalu menyembunyikan wajahku di dada bidangnya Rangga.
"Hahaha... Si muka tomat. Sudah jangan malu, kan dulu kita sering melakukan." Goda Rangga.
"Sumpah aku malu, yank. Ini aku rasakan seperti kita jadi pengantin baru." Kata ku masih menyembunyikan wajahku.
Rangga memegang pipi ku, lalu menempelkan keningnya ke kening ku.
"Sayang, ingat apapun yang terjadi kedepannya. Kamu harus mempercayai aku, di hati aku sudah terukir namamu dan ngga ada yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Bila kamu ngga ada, hidup ku terasa hampa. Karena aku sangat mencintaimu, maafkan kebodohan ku." Kata Rangga penuh cinta.
__ADS_1
"Iya, Aku juga sangat mencintai mu. Jangan pernah kamu ulangi lagi, aku takut tak bisa berada di samping mu lagi. Karena sudah ada wanita menempatkan posisi di hatimu, aku ngga sanggup lebih baik aku pergi selamanya." Aku memeluk Rangga dan meneteskan air mata.
Rangga melepaskan pelukan ku dan telunjuknya berada di bibir ku.
"Sst... Kamu jangan bicara seperti itu, justru aku ngga sanggup kehilangan kamu, yank." Rangga mencium bibirku. Kemudian kami melanjutkan pergumulan semalam.
1 Jam kemudian,
Aku dan Rangga mandi bersama, aku melihat di cermin hampir seluruh tubuhku penuh merah-merah akibat perbuatan Rangga yang buas.
"Kamu gila, Yank. Lihat hampir seluruh tubuh ku penuh tanda, aku kaya macan tutul." Aku kesal.
"Ih, apaan si. Untung aku pakai hijab, kalau ngga aku bakalan malu." Aku memukul pelan tangan Rangga.
"Ngga usah malu, biar semua tau kamu itu milik aku. Nyonya Rangga Surya Wijaya." Rangga mencium pipi ku.
"Sudah, ah!. Aku mau mandi kasihan anak-anak, Vina dan Vino menunggu kita."
__ADS_1
Di tempat Lain
"Sumpah ini mah si Deddy dan Mommy kalian kelewatan." Vino kesal.
"Sabar, Kak." Vina mengelus-elus dada Vino.
"Lagian Oom kenapa marah-marah terus sama Deddy dan Mommy?." Adlan ketus.
"Aduh! Adlan ganteng, Deddy dan Mommy kalian itu sudah kelewatan mencuekan kalian semua. Untungnya kalian langsung makan, coba kalau kalian masih nunggu mereka untuk sarapan." Vino mengacak-acak rambut Adlan.
Aku dan Rangga menuruni tangga, Rangga menggenggam tangan Ku.
"Ini yang di cari-cari nongol juga, kalian kelewatan dan ngga kasihan sama anak-anak yang dari menunggu kalian." Vino Ketus.
"Sorry, bro. Santuy." Rangga menepuk pundak Vino.
"Kalian itu kaya pengantin baru tau." Vina berdiri menghampiri Reina dan menyerahkan Cayra ke Reina.
__ADS_1
"Hehehe... Maaf. Terima kasih, Vina, Vino. Kamu sudah menjaga Cayra dan Si kembar. Kebaikan kalian terlalu banyak, aku bingung harus balas dengan apa." Aku menimang Cayra.
"Ngga apa-apa kok, malahan Gue sama Vina senang. Karena mendapatkan saudara seperti diri Loe." Vino tersenyum. Vino sudah menutup perasaannya ke Reina dan menganggap Reina sebagai kakak, umur mereka beda 2 tahun.