
"Kamu jangan pergi lagi, Yank. Aku ngga sanggup jauh-jauh dari mu." Rengek Rangga.
"Aku cuma mau mandi aja, Yank." Kata ku. Aku mengambil handuk, pakaian dan peralatan mandi. Rangga merangkul ku. Setiba di kamar mandi. Rangga kaget melihat kamar mandi yang terbuka atapnya.
"Yank, masa kamu mandi disini." Rangga kaget.
"Iya, Yank. Tapi sudah aku renovasi ini, Yank." Kata ku dan masuk kamar mandi. Rangga mengutuskan pengawal mengelilingi kamar mandi dan berbentuk seperti benteng, badan mereka berbalik tidak menghadap kamar mandi.
"Kalian harus seperti ini sampai aku dan istri ku mandi." Perintah Rangga tegas. Rangga ikut masuk dan mandi.
"Posesif banget jadi orang." Sindir ku.
__ADS_1
"Yalah, rugi aku. Kemarin mereka puas bisa ngintip kamu mandi, Yank." Rangga kesel.
"Dah, Jangan marah." Kata ku. Setelah kami mandi aku mengajak Rangga dan anak-anak berkeliling kampung menggunakan Andong milik Mang Jaja, yang aku beli sewaktu pertama kali ke rumah Mang Jaja, Karena mobil tak bisa masuk. Mobilnya mogok jadi aku terpaksa membeli Kuda berserta keretanya.
Kami berhenti di tempat makan lesehan yang terkenal enak di kota ini. Kami bercanda-canda ria tak terasa hari sudah mulai gelap. Kami pun pulang, menuju pulang ke rumah Mang Jaja. Selama perjalanan ku lihat pemandangan malam hari terasa indah. Rangga menggenggam tanganku dan mencium tangan ku.
"Yank, jangan pergi lagi, ya. Aku takut tak bisa menemukan mu, tak ada kamu dan anak-anak hidup ku hancur berantakan." Ucap Rangga yang selalu membuat hati ku meleleh.
Sudah dua hari sejak kedatangan Rangga dan pengawalnya, dan Rangga menginap juga di rumah Mang Jaja. Umur Mang Jaja sudah 60 tahun, tapi Penglihatan dan pengingatannya masih tajam.
"Mang, mulai hari ini Mamang kerja ngurus sawah aja. Rangga sudah membelikan Mamang Sawah dan pabrik untuk di olah menjadi beras nanti. Lebih baik Mamang harus bersantai di masa-masa usia Mamang." Ucap ku ke Mamang.
"Mamang jadi ngerepotin, Non." Mamang merasa terharu.
__ADS_1
"Ngga apa-apa Mang, kalau ngga ada Mamang yang sudah menjaga istri dan anak-anak ku entah apa yang terjadi. Tenang aja Mamang tak perlu kerja keras, Mamang jadi bossnya sekarang dan mobil juga buat Mamang." Kata Rangga memegang pundak Mang Jaja.
"Terimakasih, tuan." Mang Jaja meneteskan air mata merasa terharu. Setelah menyerahkan dokumen Sawah dan Pabrik, Aku, Rangga dan anak-anak pamit pulang.
"Mang, Bi kita pulang, ya. Kapan-kapan kita kesini lagi untuk liburan." Kata ku mencium tangan Mang Jaja.
"Rumah kami selalu terbuka untuk keluarga, Non dan Tuan. Karena Non sudah saya anggap seperti anak kandung Mamang. Ingat pesan Mamang kalau ada masalah segera di selesaikan dan jangan lupa sholat, ya. Non." Mang Jaja memeluk ku.
"Iya , Non. Nanti kesini lagi, ya. Karena Bibi akan kangen banget sama, Non dan anak-anak." Bi Siti meneteskan air mata.
Aku, Rangga dan anak-anak pulang menggunakan helikopter, Adlan dan Adline merasa senang. Karena ini pengalaman baru mereka menaiki helikopter. Sedangkan pengawal berada di helikopter satunya lagi. Sepanjang jalan Rangga tak hentinya mencium tangan ku.
"Welcome in the home my wife and my kids." Rangga merentangkan tangan.
__ADS_1