
"Arini itu memang hidup ku. Tapi kamu itu hatiku, jiwaku dan jantung ku. Tanpa mu aku tak bisa hidup. Aaarrrggghhh..." Rangga membanting vas bunga dengan tongkat dan meneteskan air mata.
Rangga menangis meraung-raung sambil memegang tongkat. Dia sangat menyesali perbuatannya. Sebenarnya ingatanya kembali tapi tidak semuanya hanya sebagian saja.
Rangga terkulai lemas dan tidak sadarkan diri. Para ART dan Satpam panik dan membawa Rangga kekamar, kemudian menelpon Dokter Malik.
Dokter Malik adalah dokter pribadi keluarga Rangga sekaligus sepupu Reina, karena perbuatan Rangga terhadap Reina membuat Dr. Malik ngga mau menjadi dokter pribadi Rangga.
Saat ini karena terpaksa Dr. Malik kerumah Rangga. Dr. Malik memasuki kamar Rangga, dilihat Rangga begitu kacau dan tak tega. Lalu menghampirinya dan memeriksa keadaan Rangga.
"Kenapa bisa jadi seperti ini?." Dr. Malik melepas teleskop dan bertanya dengan salah satu ART.
__ADS_1
"Ini tuan, Tuan Rangga ngamuk ketika Nyonya Reina dan Anak-anak meninggalkan rumah ini. Tuan." ART 1 menunduk.
"Rangga-Rangga, makanya Loe jangan berulah. Kalau bukan demi keponakan Gue, Gue malas kesini. Memeriksa Loe." Dr. Malik Menggelengkan kepala.
"Reina, jangan pergi." Teriak Rangga dan terbangun.
"Loe sudah sadar. Nih minum dulu obat Loe." Dr. Malik memberikan segelas air. Rangga mengambil dan meminum obatnya.
"Bukannya Loe yang merawat Arini, kenapa Loe kesini." Rangga bingung.
"Tapi Gue merasa dekat sama Loe, siapa si Loe sebenarnya?." Rangga menyandarkan tubuhnya.
"Rang, Gue ini dokter pribadi keluarga Loe dan sekaligus sepupu Reina, karena berulah Gue malay ngobatin Loe." Dr. Malik melipat tangannya.
__ADS_1
"Ooo... Tapi Loe tau dimana Reina dan anak-anak Gue pergi?." Kata Rangga.
"Gue ngga tau, kalau Gue tau juga ngga mau ngasih tau Loe. Karena Loe pantas di tinggalin, sebaiknya Loe pilih salah satu di antara mereka sebelum Loe benar-benar menyesal nantinya." Dr. Malik berdiri.
"Gue tau, makanya Gue mau ketemu Reina ingin menjelaskan. Hati Gue mengatakan, kalau Gue cinta banget sama dia. Bantu Gue agar Reina mau menemui Gue." Rangga menatap sedih Dr. Malik.
"Gue ngga bisa janjiin, tapi Gue akan berusaha bantu Loe. Demi keponakan Gue." Dr. Malik mengambil Tas dan pergi. Rangga melihat kepergian Dr. Malik wajahnya menjadi cerah.
Sudah dua hari Rangga tidak datang menjenguk Arini, karena Rangga sibuk mencari Reina dan Anak-anaknya. Kondisi Arini semakin memburuk, dengan terpaksa Dr. Malik menghubungi Rangga dan memberikan kabar kondisi Arini.
Kondisi Arini sangat mengenaskan, seluruh tubuhnya terpasang alat bantu.
"Setelah melakukan operasi, kondisi Arini semakin memburuk. Gue ngga bisa bantu apa-apa, cuma dari pertolongan Allah lah yang bisa menyembuhkannya." Dr. Malik menjelaskan kepada Rangga.
__ADS_1
"Apa Gue kirim Arini berobat ke Singapura?." Rangga menatapi Arini yang berbaring lemah.
"Itu tidak, karena keadaan Arini tidak memungkinkan berpergian jauh, percuma Loe bawa kesana yang ada di perjalanan nyawanya tidak tertolong. Loe harus mengikhlaskan kepergiannya, karena ini kebaikan buat dia. Agar dia tak merasa kesakitan. Saat dia harus selalu memakai alat bantu pernapasan dan bila tidak menggunakan dia sudah meninggal satu jam lalu, keputusan hanya ada di Loe. Gue pamit." Dr. Malik menepuk pundak Rangga dan keluar dari ruangan Arini.