
Aku di desa Mawar ini menjadi kembang desa, banyak para laki-laki berdatangan kerumah Ibu Kokom dan Pak Paijo untuk merebutku. Datang ada yang bawa bunga, Coklat dan yang paling lucunya ada yang bawa anak sapi untuk mendekati ku, walau mereka tau bahwa aku sudah mempunyai seorang putri. Tapi mereka ngga perduli.
Aku selalu menolak mereka, bukannya aku sombong atau apalah. Tapi aku masih terikat pernikahan dengan Rangga. Mereka tetap nekat berlomba-lomba mendekati ku.
"Neng, Bapak mau tanya kenapa kamu selalu menolak para lelaki yang mendekatimu." Pak Paijo duduk di depan ku.
"Iya, padahal anak dari pak kades, anak juragan sapi dan anak kaya yang lainnya kamu tolak." Ibu Kokom mengendong Chayra anak ku.
"Gini pak, Bu aku masih terikat pernikahan ku dengan suami ku. Aku ngga mau menyakiti perasaan mereka kalau berbohong." Kata ku.
"Hati kamu memang baik, Neng. Bapak juga paham, Neng." Pak Paijo menghela napas.
"Baik, Neng. Terserah kamu aja yang penting bagi Ibu saat ini kamu dan Chayra bahagia." Ibu Kokom.
Disisi Rangga
Hari ini Rangga meninjau langsung ke Desa Mawar untuk memperluas perkebunannya.
__ADS_1
"Bro, tumben loe mau ke Desa Mawar." Kata Alex yang merupakan sahabat sekaligus rekan bisnisnya.
"Gue mau menenangkan pikiran, karena pikiran gue masih ke Reina. Gue bingung itu anak buah gue sampai sekarang belum bisa menemukan Reina." Rangga menyandarkan kepala di kursi.
"Kali ini Reina benar-benar pintar banget sembunyinya." Alex menatap Rangga sudah tertidur.
Rangga dan Alex sudah berada di rumah Pak kades. Rangga dan Alex di sambut seperti presiden.
"Selamat datang, Tuan Rangga dan Tuan Alex di Desa kecil kami." Kata Pak Kades Ramah.
Aku berjalan dengan putri ku dan melihat ada keramaian di rumah Pak kades, lalu aku mendekati.
"Itu bukannya Reina." Rangga mengejar Reina.
"Aku ngga akan membiarkan Reina pergi lagi, aku harus mencarinya." Batin Rangga.
Aku berlari dan bersembunyi. Chayra menggerakkan badan, biar tidak nangis aku memberikan ASI.
__ADS_1
"Rang, Loe kenapa tiba-tiba lari si." Alex ngos-ngosan mengejar Rangga.
"Tadi gue lihat Reina, Lex." Rangga mengatur napas.
"Masa dimana." Alex mencari ke kiri dan ke kanan.
"Sudah pergi, Reina tadi menggendong bayi. Apa anak gue dah lahir. Shitt, suami macam apa gue ini." Rangga Emosi. Lalu Ia teriak memanggil ku.
"REINA SAYANG MAAFIN AKU, AKU MENYESAL KEMBALILAH KEPADA KU. AKU SANGAT MENCINTAIMU..." Rangga meneteskan air matanya.
Aku mendengar suara Rangga, ada hati yang bergetar. Rasanya aku ingin memeluknya, tapi hati ku masih sakit mengingat kejadian Rangga memeluk Siska.
"Sudahlah, Rang. Loe salah lihat kali, balik yuk panas nih." Alex menarik tangan Rangga.
"Gue akan buktikan Loe kalau Reina ada di Desa ini dan Gue akan mencarinya sendiri." Rangga yakin.
"Iya, besok aja sekalian kita ke perkebunan." Alex menepuk pundak Rangga.
__ADS_1
Rangga sudah tak kelihatan, aku keluar dari persembunyian. Aku kembali ke rumah Ibu Kokom dan Pak Paijo dengan panik. Membuat Pak Paijo dan Ibu Kokom bingung.
"Kamu kenapa, Neng?." Tanya Bu Kokom dan mengambil Chayra dari tanganku.